PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
156. Keutamaan


“Zaki!” panggil Cyra.


“Hm.”


“Trus gimana?”


“Apanya yang gimana?”


“Ya suratnya?”


“Memangnya aku harus berbuat apa pada surat itu?”


“Seenggaknya kamu kasih respon apa gitu? Nggak ada komentar apa-apa mengenai tulisan Alfa? Dia bilang minta maaf sama kamu, apa kamu maafin? Kalau aku sendiri, jujur aku masih sulit buat maafin dia.”


Zaki menoleh ke arah Cyra. Sontak Cyra membalas tatapan Zaki. Cyra mengerti Zaki sedang meminta penjelasan tentang pernyataannya tadi.


“Semua peristiwa yang terjadi akibat perbuatan Alfa masih terekam jelas di kepala gue, Zak. Gue inget banget gimana lo terbaring nggak sadarkan diri, gimana kritisnya kondisi lo dengan mata terpejam dan sekujur tubuh yang kondisinya sangat parah. Gue juga masih inget gimana perasaan gue waktu itu, gue sangat tajut kehilangan lo.” Cyra membuang pandangan ke luar jendela. Mengenang kejadian yang ada di kepalanya, entah kenapa matanya berkaca-kaca. Dan dalam hitungan detik, permata bening itu jatuh menitik membasahi pipi. Rasa takut kehilangan yang ia alami saat Zaki terbujur di rumah sakit seakan kembali bersemayam di benaknya. Rasa itu sangat menyakitkan. Bagaimana bisa ia memaafkan Alfa meski dengan alasan yang sudah Alfa kemukakan.


Zaki menghela nafas. Ia menepikan mobil dan menghentikannya.


“Cyra!” Tangan Zaki menjulur dan menyentuh dagu Cyra, memutar wajah gadis itu hingga menghadap ke arahnya. Jemari Zaki mengusap air mata Cyra dengan lembut. “Semua udah berlalu, nggak perlu diinget-inget lagi. Kan aku udah pernah bilang, kita hanya boleh mengenang segala yang baik-baik aja, yang indah-indah aja, dan yang jelek jangan lagi diinget-inget. Kapan kita bisa memaafkan orang lain kalau selalu mengingat keburukannya? Kenanglah kebaikannya.”


Cyra menatap lekat-lekat mata Zaki yang begitu tulus saat mengucapkannya. Bagaimana bisa Zaki mengucapkan kalimat itu dengan mudahnya, seperti tanpa beban? Bukankah Zaki yang merasakan sakitnya dianiaya? Bukankah Zaki yang hampir mati oleh perbuatan Alfa? Lantas kenapa justru dia yang menenangkan Cyra? Aneh, Zaki yang galak dan suka marah-marah, sering sewot, ternyata memiliki kepribadian yang begitu lembut dan mudah memaafkan.


Zaki meraih pundak Cyra dan membawa ke pelukannya. “Lo tahu kenapa para nabi selalu mendapat teguran disaat mereka memohon memintakan azab pada orang-orang yang telah berbuat dosa, zalim dan kejam? Orang-orang itu bahkan bukan hanya melakukan kezaliman yang biasa, tapi juga membunuh banyak manusia. Itu karena Tuhanlah yang berhak untuk menghukum dan mengazab siapapun yang Dia kehendaki. Tugas kita, hanya mencari kebaikan.”


Cyra tertegun dalam pelukan Zaki. Ia tidak menyangka Zaki bisa berceramah, menasihatinya dengan kata-kata seperti itu. Dari mana Zaki memiliki koleksi kalimat sebijak itu?


“Nggak ada gunanya kita nggak maafin Alfa karena dia udah ngedapetin ganjarannya, dan dia juga udah menyesali perbuatannya, dia juga udah minta maaf. apa lagi?” lanjut Zaki. “Serahkan aja semuanya pada Tuhan. Biar Tuhan yang memberi hukuman sesuai dengan yang Tuhan kehendaki. Kamu tahu nggak kelebihan apa yang didapatkan oleh seorang pemaaf?” Zaki mengangkat dagu Cyra dengan jarinya hingga keduanya bersitatap.


Cyra hanya diam menatap mata Zaki.


“Googling aja, atau liat di youtube, kamu pasti akan selalu maafin orang kalau udah tahu keutamaannya,” lanjut Zaki lagi. “Satu hal yang perlu kamu tahu, kita nggak akan bisa jadi seperti sekarang kalau aku nggak maafin kamu. Mungkin kita akan bermusuhan dan saling balas dendam satu sama lain. Untungnya aku maafin kamu, jadi beberapa bulan lagi kita bakalan jadi suami istri. Aku akan lihat semuanya milikmu.”


“Zaki, bisa nggak kalau ngomong tuh nggak usah ke arah yang aneh-aneh gitu.” Ekspresi Cyra yang tadinya sedih pun jadi berubah cemberut sekarang.


Zaki tersenyum. “Aku udah nggak sabar.”


Cyra mengerutkan hidungnya. Dasar Zaki!!


***


TBC


Thanks buat yang udah pada ngucapin selamat tahun baru di kolom yang kubahas di part sebelumnya, ucapan udah ditutup tanggal 31 Desember ya cayank.