PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
SN 92


Zalfa melirik kaca di depan keningnya, melihat pantulan wajah di dalam kaca itu. culas.


“Sebenernya, apa yang membuatmu nggak suka sama aku?” tanya Zalfa berhati-hati.


“Nggak usah banyak tanya.”


Zalfa sedikit terkejut mendengar keketusan barusan. Tapi Zalfa tidak menyerah.


“Apa karena aku jahat padamu? Aku sering menyakitimu? Atau membuatmu sengsara?”


Tidak menjawab, Elia membungkam. Kepalanya menyandar di sandaran jok, wajahnya mengarah ke samping, tatapannya keluar.


“Atau barangkali aku sering mengganggumu? Apa aku pernah merusak barang-barangmu? Mungkin mencoret-coret mobilmu sampai jadi seperti yang terlihat di depan matamu?” sindir Zalfa sambil mengulumm senyum.


Elia menatap coretan di kaca depan matanya. Kemudian mengalihkan pandangan ke punggung jok depannya. Kalimat Zalfa berhasil membuatnya merasa tersudut. Bukan Zalfa yang jahat, yang menyakiti, membuat sengsara, mengganggu, merusak barang. Tapi justru Elia yang melakukan hal itu terhadap Zalfa. Dan Zalfa malah membalas perbuatan Elia dengan kebaikan yang bertubi-tubi. Setelah tadi memberi bantuan saat Elia terjatuh, sekarang mengantar pulang dan menyelamatkannya dari sengatan matahari. Lalu… jahatkah Zalfa?


“Aku menyukai gadis cantik sepertimu,” lanjut Zalfa.


Elia seakan tak sanggup menjawab. Menunduk. Kemudian pandangan Elia terfokus ke lukisan bergambar cewek dan cowok remaja yang saling memunggungi berukuran dua puluh kali tiga puluh centi meter yang ditempel di dashboard samping setir. Dasarnya terbuat dari kain. Tidak diberi bingkai. Mata Elia terus memandang tanpa kedip.


Sunyi. Hanya suara halus mesin mobil yang terdengar, ditambah dengan deru mesin mobil di luar yang lalu-lalang.


“Berenti!” seru Elia membuat Zalfa segera menginjak rem.


“Kenapa? Ini belum sampai rumahmu kan?”


“Ada Mama dan Kakakku,” jawab Elia.


Zalfa tersenyum senang mendengar jawaban itu. Meski Elia masih tidak bersahabat, namun nada bicara gadis itu tidak ketus lagi.


Zalfa membuka kaca, melihat Arkhan dan Mamanya ada di depan gereja.


“Maukah kau mendekatkan mobilmu sebentar ke gerbang itu?” tanya Elia menunjuk gerbang depan gereja.


“Oke.” Zalfa menuruti. Mobil merapat ke pintu gerbang, mendekati keberadaan Arkhan yang tengah berjalan menuju ke mobilnya.


Elia turun.


“Kaaak…” Elia menghambur dan meraih lengan tangan Arkhan. “Minta uang.”


Arkhan terkejut dengan kedatangan Elia yang mendadak. Pandangannya beralih ke Zalfa yang masih duduk manis di dalam mobil. Zalfa kemudian turun menghampiri.


“Kenapa dia bisa bersamamu?” tanya Arkhan pada Zalfa.


“Kulihat lama banget dia nungguin kendaraan umum. Kupikir lebih baik ikut aku aja. Kasian kalo kulitnya menghitam gara-gara kejemur.”


“Tapi membawanya kesini sama aja membuatku dalam masalah. Lihatlah, dia sudah minta uang.”


Zalfa mengerutkan dahi tak mengerti.


Arkhan melirik tangan Elia yang terus mengguncang lengannya. “Dia selalu merengek minta uang disaat yang nggak tepat.”


Zalfa tersenyum tipis. Ternyata adik dan kakak itu nggak akur. “Maaf kalo aku salah.”


“Apa yang terjadi dengan mobilmu? Apa kamu ingin kelihatan gaul dengan kondisi mobil seperti itu? Astaga.” Arkhan memperhatikan kaca mobil Zalfa yang coreng-moreng. “Aku baru saja memberimu mobil dan kamu sudah membuatnya sepert ini.”


Elia yang mendengar pernyataan kakaknya pun terkejut. Jadi mobil yang dipakai oleh Zalfa adalah milik kakaknya? Ya ampun.


“Itu… Tanyakan pada adikmu. Tapi bagiku nggak jadi soal,” jawab Zalfa sembari tersenyum.


Arkhan meninggikan alis tak mengerti. Kemudian menoleh ke wajah Elia. Yang ditoleh memonyongkan bibir tanpa merasa berdosa.


Mengerti dengan maksud tatapan Zalfa, Arkhan pun langsung berkata, “Aku mengantar mama ke sini.”


Zalfa mengangguk. “Baiklah, aku pergi.” Pandangannya kemudian beralih ke Bu Maria yang sejak tadi terlihat sibuk dengan ponselnya. Kebetulan pada saat yang bersamaan Bu Maria menatapnya.


“Permisi, Bu,” ujar Zalfa.


Bu Maria tersenyum sembari menganggukkan kepala, sopan. Ternyata Bu Maria yang awalnya kelihatan cuek justru ramah.


"Hati-hati di jalan. Jangan lupa hubungi mamamu jika terjadi hal yang tidak diinginkan," ujar Maria sembari mengelus lengan Zalfa lembut. Sangat keibuan. "Mengenai adikmu si Elia, jangan kau pikirkan, dia memang sedikit bandel."


Zalfa mengangguk senang mendapat respon baik dari mertuanya, wanita keibuan yang ramah-tamah dan sangat menghargai. Kemudian Zalfa berlalu masuk ke mobil. Detik berikutnya mobilnya hilang dari pandangan setelah melintasi gerbang.


“Uang!” Elia menjulurkan telapak tangannya ke arah Arkhan.


“Nanti, kalo udah sampe rumah,” tegas Arkhan membuat Elia semakin manyun.


“Jangan uang saja yang kau pikirkan. Nilai pelajaranmu bagaimana? Kalo jajan saja kerjamu, bisa-bisa tahun ini kau tidak naik kelas. Mama sudah bosan melihat angka di rapormu yang tidak pernah berubah dari angka enam dan lima. Kapan kamu bisa belajar dengan baik?” Bu Maria merepet dan terdengar sangat cerewet.


Yang direpetin langsung menutup telinga dan memasuki mobil Arkhan yang terparkir. Bu Maria menyusul masuk dan duduk di belakang. Sementara Arkhan duduk di bagian kemudi, bersebelahan dengan Elia.


Mobil melaju meninggalkan pekarangan gereja setelah Arkhan menginjak gasnya.


“Jangan cuma tiga lembar ngasih uangnya nanti. Aku mau tujuh lembar,” pinta Elia seakan menghakimi.


“Berhenti ngomongin uang. Sekarang aku yang bicara.” Nada otoriter membuat Elia membungkam tanpa perlawanan. “Apa yang kau lakukan dengan mobil milik Zalfa? Kamu yang mencoret-coret bukan?”


Elia terkejut dan langsung menoleh ke wajah yang kini tengah menghadapnya.


“Come on, Aku nggak minta kamu melotot. Tapi minta jawabanmu. Stop memperhatikan Kakakmu seperti melihat perampok begitu,” protes Arkhan dan memalingkan wajah ke depan.


“Apa aku nggak salah denger?”


“Kurasa telingamu masih normal. Jangan membuatku berubah pikiran hingga akhirnya memotong uang yang kau minta.”


“Oke oke…” Elia merasa terancam. “Memang akulah yang melakukannya. Zalfa itu menggelikan. Dia yang menggodamu sampai akhirnya kau menikahinya.”


“Mama, ini urusan mama. Mama beri pengertian ke Elia supaya dia menjaga bicaranya.” Arkhan melirik Maria.


“Berhentilah bicara Elia. Kakakmu sudah besar, dia bebas menentukan pilihannya!” tegur Maria dengan tatapan fokus ke ponsel.


Elia akhirnya melipat tangan di dada dengan wjaah cemberut, memalingkan wajah ke luar. Ia kalah telak, disudutkan oleh dua orang.


BERSAMBUNG


.


.


.


.


.


.


.