
“Kamu belum menjawab pertanyaanku. Jangan bikin aku mengulang pertanyaan kesekian kalinya.” Kali ini suara Arkhan tidak lagi keras.
Zalfa menarik nafas, kemudian menjawab, “Aku... Aku ke bandara. Hanya untuk memastikan apakah Faisal masih hidup atau tidak. Dan ternyata benar, dia masih hidup. Itu saja.”
“Faisal? Siapa dia?”
“Dia mantan calon suamiku dulu.”
“Oh.. Bagus!” Arkhan menekankan kata ‘bagus’ dengan gigi menggemeletuk.
“Maaf. Aku hanya ingin memastikan saja.”
“Terserah padamu.”
Zalfa tidak tahu harus berkata apa lagi. Iya, dia memang bersalah dan tentu saja posisi Arkhan tadi cukup panik.
“Sekali lagi aku minta maaf.”
Perbincangan sengit mereka terhenti ketika pandangan mata Zalfa menemukan sosok berdiri di pagar masjid. Jantung Zalfa berdegup sangat keras melihat sosok itu, tak lain Faisal. Ya Tuhan, hati Zalfa berdesir menatap wajah itu. kenapa ia harus dipertemukan lagi dengan Faisal disaat kondisi hdupnya sudah seperti ini?
Arkhan mengikuti arah pandang Zalfa dan mendapati pria yang tengah ditatap oleh Zalfa. Arkhan melihat tatapan penuh cinta di mata Zalfa yang tertuju pada Faisal, demikian sebaliknya, Faisal menatap Zalfa dengan tatapan cinta. Sorot mata keduanya menjadi saksi betapa cinta mereka masih sangat kuat.
Arkhan tidak perlu bertanya siapa pria yang kini berjalan mendekat ke arah Zalfa. Melalui tatapan mata Zalfa, ia sudah tahu kalau pria itu adalah mantan tambatan hati Zalfa.
“Dia yang bernama Faisal bukan?” ucap Arkhan.
Zalfa melirik Arkhan tanpa menjawab.
Senyum samar pun terbit di wajah Arkhan saat melihat Zalfa gugup dan tidak menjawab pertanyaannya. Arkhan melangkah mendekati Faisal membuat Zalfa terkejut dan tak bisa berbuat apa-apa menatap langkah suaminya.
Arkhan dan Faisal bertemu di satu titik. Faisal sudah tahu siapa pria di hadapannya itu begitu ia melihat pakaian yang dikenakannya. Dialah suami Zalfa, posisi itu seharusnya ditempati oleh Faisal. Dan dialah pria yang telah tidur dengan wanita yang dia cintai.
“Dan kau suami Zalfa?” Faisal balik tanya.
“Dia istriku sekarang,” ujar Arkhan kemudian balik badan, meninggalkan Faisal dan mendekati Zalfa.
Dengan canggung Zalfa berkata, “Aku mau pulang.” Zalfa balik badan.
“Pulang kemana maksudmu?” Arkhan kembali menarik lengan Zalfa, kali ini dengan cengkeraman yang sangat kuat.
Tubuh Zalfa berputar dan kembali menghadap Arkhan akibat tarikan tangan pria itu.
“Lepasin, Arkhan!” bisik Zalfa supaya suaranya tidak didengar siapapun kecuali Arkhan.
“Jawab! Mau pulang kemana?” Arkhan balas berbisik.
“Ke rumahku.”
“Tidak. Aku tidak menyuruhmu pulang ke rumahmu. Kamu harus ikut denganku. Kau istriku sekarang.”
“Kamu lupa, kita udah pernah bahas soal ini. bahwa aku dan kamu bukanlah suami istri sungguhan.”
Astaghfirullah... ampuni aku yang telah berbicara begini pada suami sahku. Batin Zalfa memohon. Rasa bersalah semakin mendesak dalam benaknya.
“Persetan dengan hal itu. Aku tidak perduli dengan ucapanmu soal itu tentang pernikahan kita. Tapi aku tidak mau dibantah. Ikut denganku!” Arkhan menarik lengan Zalfa membat Zalfa tidak dapat memberontak dan hanya mengikuti pria itu mengingat ia kini sedang menjadi pusat perhatian orang-orang yang melintas.
TBC
Klik vote yaaak..
Follow instagramku @emmashu90