PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
135. Masih Tentang Zaki


“Ra, sini duduk!” Rere melepas pelukan dan mengajak Cyra duduk di kursi dekat pintu. Mereka duduk berhadapan. Saling pandang satu sama lain. Wajah Cyra terlihat sembab, matanya bengkak, ujung hidungnya merah. Sedangkan Rere tak kalah sembab. Ia mengelus lengan Cyra dan berkata, “O ya, gue bawain baju nih buat lo ganti. Katanya baju lo kan basah. Entar lo bisa demam.” Rere mengeluarkan sehelai pakaian dari kantong palstik hitam. Tampaklah daster yang bahannya seperti terbuat dari saringan santan. Entah dari mana Rere menemukan benda itu.


“Lo nyuruh gue pake baju itu?” Cyra mengangkat alis tak yakin. Bisa dipelototin om-om jika ia mengenakan pakaian yang bila terkena cahaya lampu akan terlihat transparan.


“Iya ini, unyu, kan?” Rere melebarkan pakaian itu hingga dua buah benda kecil yang terselip di dalam daster terjatuh di lantai.


Cyra membelalak menatap celana dalam warna merah dan bra warna senada.


“E eh, malah jatoh lagi.” Rere memungut benda itu dan memasukkannya ke kantong plastik. “Kata Faiz, lo basah kuyup jadi mesti ganti baju luar dan dalemnya. Daleman lo pasti kan juga basah. Ayo, dipake!”


“Enggak! Buat lo aja. Baju gue udah kering.”


Rere menyentuh baju yang dikenakan Cyra. Benar, baju itu sudah kering dengan sendirinya. Di ruangan ber-Ac, tentu saja pakaian basah Cyra cepat kering.


“Gue tadi beli di jalan Ra. Nggak mungkin lo pake baju bekas gue, kan? Lo pasti nggak mau pake baju gue, baju gue kan jelek-jelek. He heee…”


Cyra tidak begitu menanggapi. Mukanya masih terlihat galau. Pandangannya kini tertuju ke lantai, memikirkan nasib Zaki. Ia ingat bagaimana piasnya muka Zaki dengan mata terpejam erat. Pria itu seperti tidak merasakan apa-apa lagi.


“Lo yang sabar, ya. Doain semoga Pak Zaki sembuh dan nggak terjadi apa-apa sama dia.” Rere merangkul Cyra.


“Gue nggak tahu mesti ngomong apa, Re. gue sedih banget ngeliat kondisi Zaki sekarang. Gue sama sekali nggak nyangka Zaki bisa jadi begini. Kalo lo ngeliat kondisi Zaki, lo pasti nggak akan tega. Tangan kirinya kena tusuk benda tajam.”


“Kemungkinan Alfa.”


“Hah? Alfa? Jangan asal nuduh, Ra. Bisa berabe. Masak sih Alfa pelakunya?”


“Gue juga nggak habis pikir dan nggak percaya kalo Alfa bisa sekejam itu. Tapi menurut keterangan Faiz, Alfalah yang sepertinya jadi biang kerok. Zaki terkurung di gedung kosong dalam keadaan teraniaya. Dan Alfa yang bawa mobil Zaki pergi dari gedung kosong itu. Apa mungkin bukan Alfa pelakunya?”


Cyra mengambil ponselnya dari tas, lalu menelepon Alfa. Sial, tidak terhubung. Nomer Alfa tidak aktif. Rasanya Cyra sudah tidak sabar menanyakan kejadian yang menimpa Zaki kepada Alfa. Dimana Alfa membawa mobil Zaki? Apa yang Alfa lakukan di gedung kosong itu? Ah, begitu banyak pertanyaan yang ingin Cyra ajukan.


“Ya Tuhan, alfangeri banget. Udah kayak psikopat aja. Nggak nyangka Alfa yang keliatan baik, pendiem dan pinter itu bisa jadi beringas. Tapi apa masalahnya sama Pak Zaki?” tanya Rere.


“Mungkin karena gue. Alfa suka sama gue. Dan gue malah jadian sama Zaki.”


“Astaga, bucin banget tuh orang. Nggak harus sesadis itu kan Cuma karena urusan cinta?”


“Ini bukti kalau manusia itu bisa jauh lebih hina dari binatang.” Cyra mengeratkan gigi. Kali ini, Cyra tidak akan memaafkan Alfa.


***