PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
186. Pesan Mengejutkan


Tak lama Alya dan Surya tampak keluar dari rumah dan keduanya menyeberangi jalan. Sepasang suami istri itu memasuki pekarangan rumah Cyra.


“Zaki, kamu mau pergi sekarang?” tanya Alya.


“Iya, Ma.”


Alya mengesah. Kemudian dengan tatapan sayu, ia berkata, “Zaki, kamu adalah anak semata wayang mama, kenapa kamu nggak memilih tinggal bersama kami saja? Cyra juga anak semata wayang, kenapa tidak tinggal di sini saja? Kalian bisa pilih mau tinggal di mana kapan pun kalian mau. Rumah kalian berdekatan. Bila rindu dengan mama dan papa, kamu ajak istrimu tinggal bersama kami. Dan kalau sedang ingin tinggal bersama mama Andini, kamu bisa tinggal di rumah Cyra. Kenapa harus beli rumah dan tinggal di sana? Kalau kamu dan Cyra nggak ada, kami akan kesepian.”


Zaki tersenyum menatap mamanya yang seperti meras akehilangan. “Ma, biarkan kami mandiri. Baik buruknya perkembangan orang berumah tangga adalah di saat mereka harus mandiri. Aku janji, aku dan Cyra akan sering menemui mama.”


Alya memeluk Zaki. Walau bagaimana pun, Zaki adalah anak semata wayangnya, etras aberat melepas kepergian Zaki meski hanya sebatas pindah rumah saja. Ia yakin akan merasa kesepian.


“Percayalah, aku dan Cyra pasti akan sering berkunjung.” Zaki semakin menegaskan kata-katanya, berusaha untuk menenangkan mamanya yang kini meneteskan air mata.


“Ma, biarkan anak kita mandiri. Mereka butuh privasi. Benar apa kata Zaki, tumbuh kembang orang yang sudah berumah tangga itu lebih baik di rumah sendiri. Jadi mereka bisa membina rumah tangga dengan leluasa,” ujar Surya sembari menepuk pundak istrinya untuk memberi ketenangan. “Lagi pula rumah yang mereka tempati tidak jauh. Masih di seputaran Jakarta. Jangan cemaskan mereka.”


Alya melepas pelukan. Kemudian ia menatap Cyra. Tangannya menyentuh pipi Cyra dan mengelusnya dua kali. Seulas senyum terukir di wajahnya. “Kamu gadis yang baik. Mama bangga memiliki menantu sepertimu.”


Cyra tersenyum miring menatap mata Alya yang berkaca-kaca. Mata Cyra pun sontak ikut berkaca. Ah, cengeng sekali dia.


“Mama ingin kamu dan Zaki langgeng sampai maut memisahkan,” lanjut Alya. Ia meraih tangan Zaki dan menyatukannya dengan tangan Cyra. “Kalian, jadilah suami istri yang saling melengkapi. Pengertian satu sama lain. Saling memahami, saling menyayangi dan jangan lupa untuk selalu berdoa supaya rumah tangga kalian dilimpahi rahmat oleh Tuhan.”


Zaki dan Cyra mengangguk serentak.


“Aku pergi dulu ya, Ma!” bisik Cyra sembari mengusap air matanya dan diangguki oleh Alya.


“Zaki, jaga Cyra baik-baik. Sering-seringlah memberi kabar kepada kami, sering-seringlah berkunjung kemari.” Surya menepuk bahu Zaki penuh wibawa.


“Ya, Pa.” Zaki mengangguk mantap.


“Zaki, Cyra, kalian harus tetap saling menyayangi, ya. Jangan sampai sering bertengkar. Malaikat tidak suka menempati rumah yang di dalamnya dihuni orang-orang yang suka bertengkar,” pesan Alya yang langsung diangguki oleh Cyra dan Zaki. “Dan satu lagi pesan mama, cepet-cepet bikinin mama cucu. Biar rame.”


Weeh… Pesan yang terakhir membuat Cyra kesulitan menelan saliva. Zaki tersenyum dan berkata, “Pasti, Ma.”


Cyra menyikut Zaki membuat pria itu mengerlingkan sebelah matanya ke arah Cyra.


Setelah berpamitan, Zaki dan Cyra memasuki mobil yang sudah bertengger. Di dalam mobil tersebut, telah tersusun beberapa tas berisi pakaian milik Cyra dan Zaki. Mereka melambaikan tangan pada orang tua yang ditinggalkan.


***


TBC


Menuju ending nih. Ada beberapa part lagi. Tunggu aja.