
“Jadi gimana, dong?” Cyra melipat dahi menatap Zaki yang masih meringis.
“Duduk aja sini!” Zaki menarik tangan Cyra hingga tubuh gadis itu terhempas duduk seiring dengan tarikan kuat tangan Zaki. “Gini aja.” Zaki menyingkap kaosnya lalu menuntun tangan Cyra dan meletakkan telapak tangan mungil itu di atas perutnya. Dengan gerakan pelan, Zaki menuntun telapak tangan Cyra supaya mengelus-elus permukaan perut six packnya.
Cyra mengernyit menatap Zaki yang memejamkan mata sambil tersenyum. “Zaki, jangan modus.”
“He heee... Tau aja kamu.” Zaki membuka mata dan tersenyum.
“Uuugh...” Cyra mendengus sebal. Namun demikian, ia meletakkan kepala ke dada bidang Zaki membuat pria itu kembali tersenyum menatap kepala yang disenedrkan.
Kembali Zaki merengkuh punggung Cyra dan merangkulnya. “Ra, aku pengennya kamu aja yang nungguin aku di sini.”
“Dengan kata lain, kamu nggak ngarepin mamamu yang ada di sisimu?”
“Enggak gitu juga kali, Ra.” Zaki merasa salah bicara.
“Jadi kenapa lebih milih aku yang jungguin kamu dari pada mamamu sendiri?”
“Rasa sayang aku ke kamu dengan rasa sayang aku ke mama itu beda, Ra. Nggak bisa disamain. Saat aku terpejam dan nggak sadarkan diri, aku seperti mendengar suaramu. Tapi kayak di alam mana gitu.”
Cyra tersenyum, apakah itu artinya Zaki emndengar kalimat-kalimat yang ia bisikan saat Zaki dalam keadaan tidak sadar? Cyra mengangat wajah dan menatap Zaki. Zaki mengangkat alis, keduanya bersitatap.
Tangan Zaki yang sejak tadi berada di punggung Cyra, terangkat dan kini berpindah ke kepala Cyra. Tangan itu menarik kepala Cyra dan mendekatkannya ke wajahnya.
E eeeh... hayooo... Zaki mau ngapain, nih? Jantung Cyra berdebar-debar saat kepalanya terus didorong maju mendekati wajah Zaki. Entah kenapa Cyra tidak bisa memberontak. Ia mengikuti saja tanpa perlawanan hingga ia merasakan sapuan hangat nafas Zaki yang menampar halus wajahnya. Zaki memiringkan wajahnya saat wajah mereka sudah berada di jarak satu centi.
Kletek.
Cyra sontak menjauhkan wajahnya dari wajah Zaki.
Demikian juga Zaki yang langsung melepas kepala Cyra. Huuuh... Nggak jadi, deh. Zaki menghela nafas kecewa menatap Alya yang memasuki ruangan. Alya tidak sendiri, ada Bu Santi, Pak Fauzan, serta Bu Raini yang datang bersama dengannya. Bu Santi membawa satu kantong plastik berisi kue, serta satu kantong lainnya berisi buah-buahan. Mereka langsung mengelilingi bed tempat Zaki terbaring.
“Lho, kok makanan Zaki nggak berkurang?” Alya menatap piring di meja yang isinya masih sama seperi saat ia tingalkan.
Muka Cyra sontak memerah. Lah, dia sampai lupa menyuapi Zaki gara-gara malah romantisan sama Zaki.
“Zaki, kamu gimana sih, kok nggak mau makan? Kamu harus makan biar cepet sembuh,” ujar Alya.
“Nanti lagi,” jawab Zaki sembari mengedarkan pandangan kepada teman-temannya yang datang membesuk.
“Eeh, ada Cyra juga rupanya di sini. Zaki ya langsung kenyang kalau ditunggin Cyra. Melihat muka Cyra saja sudah kenyang, ya kan?” Seperti biasa, Bu Santi emmang paling jago untuk urusan ngeledekin. Membuat muka Cyra langsung memerah menahan malu. Gimana enggak? Ia menjadi pusat perhatian para dosen lainnya gara-gara ucapan Bu Santi barusan.
TBC
L o p h l o p h
l o p h
TBC
L o v e,
Emma Shu