PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
131. Menolong


“Pak Zaki! Pak! My God, ada apa ini?” Faiz panik menatap kondisi Zaki. Secepatnya ia mengangkat tubuh Zaki dan menggendongnya keluar ruangan, berjalan beberapa meter sampai ke tepi jalan. Sial, jalan itu begitu sepi, tak ada taksi, angkot atau kendaraan umum lainnya melintas.


Faiz meletakkan tubuh Zaki di tepi jalan, menyangga kepalanya dengan kedua tangannya. Peluh di keningnya sudah membanjir dan ia hanya mengusapnya dengan sekali usap menggunakan ujung lengan baju.


Tak sabar menunggu, akhirnya Faiz menelepon Arif, temannya yang pernah dia ajak mengeroyok Zaki untuk datang ke lokasi itu dengan mengendarai mobil. Sepertinya jalan terbaik sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa, Arif kebetulan sedang berada di rumah pamannya yang lokasinya tak jauh dari sana, dan ia mengaku akan segera datang dengan meminjam mobil milik pamannya.


Faiz takut terjadi hal buruk pada Zaki jika terlambat memberikan pertolongan. Ia tidak berani menyentuh denyut nadi di pergelangan tangan Zaki, atau sekedar meletakkan ibu jari di depan lubang hidung Zaki untuk memastikan apakah Zaki masih bernyawa atau tidak. Melihat muka Zaki yang pucat pias, Faiz tidak berani memastikan.


“Aaah… Sialan si Arif, lama banget lagi.” Faiz merutuk kesal sambil mengacak rambut gondrongnya frustasi. Saat itu ada tubuh sekarat di pangkuannya, berbagai rasa teraduk-aduk dalam benaknya.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya sebuah avanza menghampiri. Arif turun dari mobil dan terkejut melihat sosok di pangkuan Faiz.


“Buruan, lol. Bantuin gue, malah bengong lo!” gertak Faiz melihat Arif yang terpaku. “Keburu hujan. Liat tuh langit udah gelap banget.” Faiz sekilas menengadah menatap ke atas, melihat langit yang sebentar lagi akan menumpahkan air ke bumi. Cuaca benar-benar gelap.


“Ini mantan dosen lo itu kan, Gok? Dia kenapa?” Arif membukakan pintu mobil miliknya lalu menghampiri tubuh Zaki. Dia sudah paham apa yang harus ia lakukan.


Tak heran jika mereka memanggil nama satu sama lain dengan julukan yang tak enak didengar, yang satu memanggil dengan julukan ‘lol’ alias nama sopan dari kata ‘tolol’ dan satunya lagi memanggil dengan julukan ‘gok’ alias dari kata ‘begok’.


“Bawa ke rumah sakit terdekat. Buruan!” titah Faiz sambil membopong tubuh Zaki dibantu oleh Arif.


Mereka memasukkan tubuh Zaki ke jok belakang. Arif duduk di bagian kemudi. Ia melongokkan kepala keluar jendela, lalu berkata, “Ini yang tanggung jawab siapa?”


“Lo bawa aja dulu, sana! Entar gue nyusul.”


“Yang jamin siapa di rumah sakit nanti?”


“Lo-lah. Siapa lagi?”


“Iya, biar gue jemput orang yang punya duit. Pergi sono! Jangan banyak bacot!”


Arif bergegas menyetir mobil, melaju menuju rumah sakit terdekat.


Faiz berlari menuju ke belakang gedung, menjemput motornya bersama dengan air hujan yang mengguyur deras tubuhnya. Hanya satu tujuannya, Cyra.


Cyra mengerjap mendengar cerita yang disampaikan oleh Faiz.


“Kita harus segera ke rumah sakit sekarang juga, Ra!” ujar Faiz. “Cepat ambil ATM dan tas lo. Kita pasti akan membutuhkannya.”


Tanpa menjawab, Cyra langsung menghambur menuju rumahnya. Menjemput tas berisi dompet dan langsung membonceng motor Faiz yang sudah menunggunya di pekarangan rumah. Ia tidak mau naik mobil karena takut terjebak macet.


TBC


Plis dukung cerita ini dengan cara klik detil cerita berjudul PACARKU DOSEN.


Lalu klik gambar bertuliskan Happy New Years yang terpampang di sana.


Tuh, liat deh gambar di bawah ini. Klik aja gambar yang kukasih panah, lalu kasih ucapan “Selamat tahun Baru” di kolom komentar yang disediakan mangatoon.



Makasih banyak buat yang udah ngucapin. Kalau ceritakumasuk 20 besar, aku janji update banyak. Thanks.