
Sekilas bayangan Zaki melayang, membayangkan seakan-akan ia sudah duduk di pelaminan bersama Cyra.
“Zaki, yang ini gimana, bagus nggak di badan aku?” tanya Cyra dengan sorot mata semangat.
“Bagus.”
“Gitu aja? Nggak ada komentar lain?”
“Kenyataannya bagus, jadi nggak ada komentar selain itu. Intinya pakaian itu pas, cocok, keren, menarik, dan apa lagi?”
“Iya, deh. Kalau gitu aku ganti dulu.” Cyra kembali masuk ke ruang ganti, menukar pakaiannya dengan gaun bawaan dari rumah. Ia keluar sembari menenteng dua bungkus pakaian di tangannya. “Sekarang giliranmu cobain tuxedonya.”
Zaki langsung memasang lengan tuxedo saat itu juga.
“E eeh, kok gitu cara pakainya? Buka dong kemejamu itu, entar beda ukurannya kalau dipasang dengan pakaian dobel.” Cyra menghentikan gerakan tangan Zaki.
“Aku nggak seribet kamu, Ra. Kegedean atau kekecilan dikit nggak masalah.”
“Zaki, ayo, dong! Ini untuk hari sakral pernikahan kita dan kamu harus memakai pakaian yang terbaik. Kalau ada yang kurang pas, entar kan kita bisa perbaiki.”
Zaki mengesah. Terpaksa menuruti kemauan gadisnya. Ia memasuki ruang ganti, menukar baju dan celananya. Tak lama ia keluar mengenakan tuxedo warna putih dengan celana warna senada lengkap dengan dasi kupu-kupunya. Tidak ada yang salah dengan pakaian di tubuhnya itu. Soal warna, ukuran dan modelnya sangat bagus dan sudah pas. Tidak ada yang perlu diperbaiki.
“Waow... keren. Suer kamu ganteng banget pakai pakaian begitu.” Cyra mengamati penampilan Zaki dari kaki sampai ke wajah.
“Udah? Aku tukar lagi.”
“Sekarang cobain jas hitamnya.”
“Ra, ukuran jas sama tuxedo tuh sama. Nggak usah dicobain pasti udah pas di badanku. Kan udah diukur.”
“Kamu tuh ya, nggak semangat banget sih buat menyambut hari pernikahan kita. Apa salahnya dicobain satu-satu biar puas. Niat nikah nggak, sih?” Cyra merengut.
Zaki mengangkat alis menatap wajah Cyra yang mendadak mendung. Ya Tuhan, hanya persoalan baju saja, Cyra bisa sampai sekecewa itu. “Oke, aku cobain jasnya.”
Cyra tersenyum menatap penampilan Zaki. Sangat menawan.
Zaki mengernyit menatap Cyra yang kelihatan bahagia memperhatikan penampilannya kini. Gadis itu terlihat gembira disaat permintaannya dituruti. Inikah yang namanya wanita? Perilakunya ribet banget, tapi untuk membahagiakannya, tidak perlu melakukan ha-hal yang ribet, cukup menuruti kemauannya saja. Oh Cyra...
“Keren.” Cyra mengacungkan dua jempol mungilnya.
“Udah puas?”
Cyra mengangguk.
“Aku tukar lagi bajuku.” Zaki menjentikkan jarinya ke dagu Cyra lalu memasuki ruang ganti.
Setelah selesai dengan urusan pakaian, Zaki dan Cyra beriringan keluar butik.
“Widiiiih... Udah fitting baju kayaknya, nih,” seru Rere yang baru saja keluar dari butik sebelah bersama tiga temannya.
Cyra menoleh ke arah Rere. Lagi-lagi ia harus berbesar hati akibat menerima ledekan. Entah kenapa teman-temannya paling hobi meledeknya. Apa muka Cyra cocok sebagai bahan ledekan kali ya?
Zaki memasukkan pakaian miliknya dan juga milik Cyra ke mobil tanpa menghiraukan ledekan Rere. Seperti biasa, ekspresinya tetap tenang, rileks dan tidak terpengaruh atas ledekan mantan mahasiswanya itu.
Rere dan teman-temannya setengah berlari menghampiri Cyra.
“Ra, lo mau kemana?” tanya Rere sembari menggelayuti lengan Cyra.
Cyra menatap Zaki meminta jawaban. Ia sendiri tidak tahu akan kemana setelah ini. Siapa tahu Zaki memiliki tujuan lain, barang kali membawanya ke tempat-tempat romantis, atau makan di restoran, atau... entahlah.
Memahami tatapan Cyra, Zaki menjawab, “Kami mau pulang.”
TBC
KLIK LIKE