PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
118. Paling Depan


Cyra sebenarnya merasa sangat bodoh dengan tindakannya itu. Tapi mau bagaimana lagi, tuntutan tugas yang seabrek, ditambah waktu belajar yang sempit, serta jurusan yang sebenarnya tidak sesuai dengan bakat dan kesenangannya, membuatnya tertuntut untuk membuat contekan.


Cyra menoleh ke meja kirinya, ada Alfa yang duduk tenang di sana. Pria itu tampak sangat nyaman di posisinya. Sedikitpun tidak terlihat keresahan di wajahnya. Tentu saja, dia adalah pria berotak cerdas. Dia pasti sudah siap menghadapi ujian.


Cyra berpaling kemudian berusaha untuk fokus. Huh, banyak sekali beban yang mengganjal di kepalanya di saat-saat menegangkan begini. Mana ia harus duduk bersampingan dengan Alfa lagi.


Saat jam ujian dimulai, Zaki melanggang memasuki ruangan dengan gaya wibawa dan ekspresi sadisnya. Biar muka sadis begitu, tetap saja ia menjadi idola kampus. Para cewek sibuk merapikan rambut, ada yang membasahi bibir, ada yang mesam-mesem, ada pula yang malah mengeluarkan cermin kecil dan memoles bedak dengan singkat.


Zaki sudah ada yang punya woi, masih aja pada ngarep. Aneh!


Zaki berdiri di dekat meja, sekilas matanya menyapu seisi kelas. Kemudian membagikan lembar soal ujian ke seisi kelas. Setelah seisi kelas mendapat soal dan lembar untuk menjawab, Zaki tidak duduk di kursinya, melainkan berdiri di depan. Matanya yang tajam mendelik penuh pengawasan ke setiap mahasiswa.


Disaat sedang mencoba menjawab soal, kepala Cyra masih terus memikirkan gosip yang bertebaran tentangnya. Seharusnya ia fokus dengan ujiannya, tapi gosip itu benar-benar telah membuat pikirannya terpecah-belah. Ia jelas tidak bisa berdiskusi dengan Rere untuk menentukan jawaban soal ujian, sebab posisi duduk peserta ujian dibuat acak.


Untung saja dosen pengawas adalah Zaki, jadinya Cyra tidak begitu gugup. Ia terkesan rileks sat menjawab soal meski sebentar-bentar harus mengintip jimat yang menggayut manis di dalam lengan baju panjangnya.


Alfa tampak tenang saat mengerjakan tugas. Sedikitpun ia tidak menoleh ke kiri kanan, wajahnya fokus ke kertas dan tangannya sibuk menulis.


Duuuh… Zaki bok*ngnya bisulan kali ya, jalan-jalan mulu. Nggak bisa duduk apa, ya? Cyra membatin geram melihat Zaki yang hilir-mudik, mengitari lorong meja.


Namanya juga Zaki, dosen paling galak, selalu menjunjung tinggi image, selalu jaga wibawa dan tegas dalam segala urusan. Mana mungkin ia berdiam diri saja saat menjadi pengawas.


“Bawa sini kertas contekan itu!”


Suara bariton Zaki terdengar keras mengisi kesunyian ruangan.


Semua yang memuliki jimat contekan pun tergagap mendengar perintah Zaki. Siapa yang dimaksud oleh Zaki? Muka para si pencontek pada merah padam. Cyra juga kalang kabut. Apa dia yang dimaksud Zaki? Tidak ada yang tahu siapa yang sedang diperintah oleh Zaki, sebab setelah mengucapkan kalimat bernada perintah tersebut, Zaki langsung melangkah menuju mejanya, tanpa menatap siapa yang sedang ia perintahkan.


Seketika terdengar suara dengungan yang semakin lama semakin mengeras di ruangan ujian tersebut. anak-anak bertanya-tanya siapa yang dimaksud oleh Zaki. Semuanya saling menuduh.


“Saya tidak menyuruh kalian berdiskusi. Apa yang kalian ributkan?” Suara tegas Zaki ditambah sorot matanya yang tajam membuat dengungan suara mendadak mengecil. Berganti dengan suara cekikikan kecil daria rah sudut kelas. Muka-muka si pencontek masih kelihatan menegang.


“Saya perintahkan, bawa kesini kertas contekan itu! Ayo, yang duduk paling depan!” titah Zaki tanpa menatap yang diajak bicara, tatapan Zaki terarah ke meja. Membuat Cyra, Kiwol dan Lala terbelalak kaget.


Paling depan? Siapa yang dimaksud Zaki? Yang merasa menjadi tersangka, langusng gugup bukan main.


Jantung Cyra berdebam-debum saat mata Zaki tertuju ke wajahnya.


Zakiii… awas aja kalau kamu bikin aku malu di depan temen-temen. Jangan tuduh aku meski sebenarnya aku patut untuk dituduh.


“Kiwol, bawa kemari kertas contekanmu itu!” titah Zaki, kali ini menatap Kiwol.


“Heh? Kertas contekan? Contekan apa, pak?” Kiwol berakting seperti orang tidak bersalah.


“Jangan paksa saya memerintah dua kali.”


“Tapi saya nggak bawa kertas contekan. Bapak salah lihat kali.” Kiwol masih membela diri.


“Itu di bawah mejamu.” Zaki memergoki Kiwol saat mahasiswanya itu menjatuhkan kertas contekan dan menghuni lantai bawah mejanya.


“He heee…” Kiwol cengengesan lalu membungkuk mengambil kertas tersebut dan berjalan ke depan menyerahkannya kepada Zaki.


Zaki membuka kertas yang dilipat kecil-kecil memanjang ke bawah saat lipatannya dibuka. Komplit, rumus dan semua materi ada di kertas tersebut.


“Waw, komplit. Kamu mau ujian atau bikin resep masakan?” tanya Zaki.


“Ehe heee…” Kiwol memaksa diri untuk tertawa.


Detik berikutnya terdengar suara cekikikan yang akhirnya berujung dengan tawa ngakak. Ruang ujian jadi ramai kayak pasar cabe.


“Sudah! Cukup! Lanjutkan ujiannya!” tegur Zaki membuat seisi kelas kembali sunyi. “Kalau ada lagi saya temukan kasus yang sama, saya tidak segan-segan menarik kertas lembar jawaban dan saya anggap ujian si pencontek telah selesai.”


Ancaman Zaki membuat para pencontek jadi semakin gugup.


Cyra sudah agak tenang karena jawabannya sudah delapan puluh persen terjawab.


***


TBC