PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
SN 113


“Apa kamu ada banyak pekerjaan?” Tanya Arkhan sambil menundukkan wajah untuk dapat menjangkau wajah Zalfa.


Zalfa menyalakan laptopnya, mengarahkan kursor ke file yang dibutuhkan.


“Kamu marah padaku?” Tanya Arkhan lagi.


Zalfa masih diam membisu, hanya melirik sebentar kemudian kembali bekerja di laptop.


“Apa kamu marah karena mantanmu itu mendapat tamparan ayam goreng?”


Zalfa masih diam. Tangannya sibuk mengetik tust-tust keyboard.


“Aku tadi merasa sangat kesal karena situasi yang terjadi seakan dikondisikan. Seolah-olah kamu janjian dengannya dan kalian ingin bertemu satu sama lain. Aku memang udah menuduhmu begitu, tapi bukan berarti aku nggak bisa mempercayaimu setelah penjelasanmu bukan? Oke oke, sekarang aku udah percaya dengan semua pernyataanmu. Zalfa, bicaralah sesuatu!”


Zalfa mengambil kertas dan membaca kertas-kertas catatannya itu.


“Zalfa, jangan diam saja. Bicaralah!” Arkhan menyentuh lengan Zalfa. Wanita itu tetap diam saja. “Aku nggak mengerti jika kamu diam saja begini.”


Zalfa bangkit berdiri. Arkhan mengikutinya. Langkah Arkhan terhenti ketika Zalfa juga berhenti dan menoleh. “Aku mau ke WC, apa kamu mau ikut juga?”


Arkhan balik badan kemudian melangkah menuju meja. Ia menunggu di sana. Tangannya mengetuk-ngetuk meja ketika tak sabar menunggu Zalfa yang terlalu lama di kamar kecil. Hingga beberapa menit lamanya, akhirnya Zalfa keluar dari kamar kecil.


“Aku masih di sini karena ingin mendengar penjelasanmu. Apakah kamu masih marah atas tuduhanku tadi? Atau kamu marah karena mantanmu itu ketampar ayam goreng? Jawab!” tegas Arkhan sambil memegang lengan Zalfa kuat.


“Lepasin, Arkhan! Kamu menyakitiku!” Zalfa meringis merasakan sakit di lengannya.


Arkhan melepas lengan Zalfa.


“Aku bisa menerima apa pun darimu, tapi enggak kalau tuduhan selingkuh. Secara nggak sadar, kamu udah menuduhku berselingkuh. Aku nggak serendah itu, Arkhan. Apa lagi sampai harus membuat janji hanya demi untuk bisa saling bertemu, kamu bahkan nggak mau mendengarkan penjelasanku,” jelas Zalfa dengan ekspresi kesal.


Arkhan maju dengan kedua tangannya menyentuh pundak Zalfa, lalu menekan lembut pundak itu hingga tubuh Zalfa terayun turun dan terduduk di kursi putar. Arkhan menundukkan tubuhnya, meletakkan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan tubuh Zalfa, tepatnya telapak tangannya menyentuh sandaran tangan.


“Aku sudah percaya padamu. lalu apa lagi yang harus kukatakan?” Sepertinya keadaan Zalfa berbalik kepadanya, kini justru Zalfa yang tidak mempercayainya.


“Aku sama sekali nggak marah saat Faisal terkena lemparan sepotong ayam, letak kekesalanku adalah karena perbuatanmu yang sengaja menumpahkan kemarahan dengan menabok Faisal pakai ayam goreng,” ujar Zalfa.


“Aku sudah katakan kalau aku nggak sengaja melakukannya.”


Arkhan tersenyum tipis. Ia sadar Zalfa sedang menyindirnya dengan kalimat yang sama seperti yang dia ucapkan tadi.


“Aku suka sikapmu yang begini. Kamu sedang mengujiku, hm?” Arkhan mengangkat tangannya, meletakkan telapak tangannya ke lengan Zalfa, kemudian telapak tangan itu merayap naik dan naik sampai ke pundak, leher dan kemudian turun ke dada.


“Arkhan!” Zalfa memegang tangan Arkhan.


“Ini di ruangan kerjaku, jangan macam-macam!” Zalfa mengernyitkan dahi dengan ekspresi gugup. Dasar Arkhan, dia snegaja mengeluarkan senjata ampuhnya.


“Satu macam saja.”


“Jangan bercanda!” Zalfa menahan tangan Arkhan yang nakal dan mulai bergerilya.


“Aku akan berhenti jika kamu bilang kalau kamu udah mempercayaiku, aku sungguh-sungguh nggak sengaja sehingga si ayam terbang dan mengenai pria itu.” entah kenapa sampai detik ini lidah Arkhan begitu berat menyebut nama Faisal. Arkhan memajukan wajahnya.


“Arkhan! Aku bilang berhenti!” Zalfa menahan dada Arkhan namun tenaganya tak cukup mampu menahan tenaga pria itu hingga bibir Arkhan kini sudah mendarat di pipi Zalfa. Pria itu memberikan kecupan-kecupan lembut di pipi halus Zalfa. Sementara kedua tangannya terus bergerak mengusap lembut lengan dan punggung Zalfa.


“Oke, iya iya, aku percaya padamu,” pekik Zalfa akhirnya, pasrah. Dasar Arkhan!


Arkhan langsung memundurkan tubuhnya, senyum simpul terbit di wajahnya melihat pipi Zalfa yang merona merah. Kemudian ia berdiri lurus dan berkata, “Aku pergi. Telepon saja kalau kamu mau pulang.”


Zalfa mengangguk.


"Tunggu!" seru Zalfa membuat Arkhan menghentikan langkah dan menoleh.


Arkhan menaikkan alis.


Zalfa ingat di restoran tadi cukup lama ia menunggu Arkhan keluar dari resto. "Arkhan, apa yang kamu lakukan dengan Faisal saat di restoran tadi? Aku menunggumu keluar cukup lama, mungkinkah ada sesuatu yang terjadi antara kamu dengan dia?"


Arkhan diam saja, ia menggeleng. Kemudian berlalu pergi, membiarkan Zalfa bertanya-tanya dan menimbun rasa penasaran


TBC


TBC