PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
SN 35


“Ini nggak sebaik yang kamu kira, Zalfa! Jangan anggap ini adalah hal mudah,” ujar Arkhan tanpa menoleh ke wajah Zalfa yang duduk di sisinya.


“Kamu bukan pengecut yang bisanya lari dari kesalahan, bukan?”


Arkhan sekilas melirik Zalfa, namun tak memberi jawaban apapun. Ketika akhirnya terdengar suara tembakan, Zalfa menjerit dan menutup telinganya.


“Apa itu?” Zalfa menjerit histeris sembari menatap Arkhan dengan sorot ketakutan.


“Kamu dengar itu? Mereka berbahaya. Bukan saatnya kita untuk menghentikan mobil. Ini adalah satu-satunya jalan untuk keselamatan kita.” Arkhan konsentrasi menyetir. Sesekali melirik ke spion menatap mobil yang mengejar, sudah agak jauh.


Tembakan dari arah belakang kembali terdengar hingga akhirnya mobil yang mereka naiki oleng ke kiri dan ke kanan. Arkhan terpaksa menghentikan mobilnya.


“Ban mobil kena tembak. Ayo turun!” Arkhan membuka pintu mobil di sisi kiri Zalfa dan mendorong tubuh gadis itu keluar supaya mereka bisa bergerak cepat keluar dari mobil. Arkhan menarik lengan Zalfa dan membawanya berlari menuju sebuah bangunan. Andai Arkhan tidak menggandeng Zalfa, ia khawatir Zalfa akan berlari ke arah yang berlainan hingga membuat mereka berpencar. Itu tidak akan baik untuk keselamatan Zalfa.


Lantunan kalimat takbir terus mengalir di hati Zalfa dalam ketakutan yang luar biasa. Suara tembakan yang nyata terdengar membuatnya seperti telah berada di ambang maut. Tak seorang pun yang berani menghadapi kematian kecuali telah sempurna imannya. Zalfa hanya bisa mnegikuti Arkhan tanpa bisa bertindak apapun. Karena ia sadar, memisahkan diri dari Arkhan hanya akan membuatnya menemui nasib yang mungkin lebih buruk.


Arkhan menarik tubuh Zalfa ke pelukannya saat tembakan berikutnya kembali diarahkan. Jika saja Arkhan terlambat menarik tubuh Zalfa, maka peluru sudah mengenai punggung gadis itu. Terlihat wajah Arkhan sedikit meringis, ia menggandeng Zalfa berbelok ke samping gedung.


Mereka meniti lorong panjang yang gelap. Sepertinya gedung itu sudah lama tidak dipakai. Arkhan berbelok dan Zalfa hanya bisa mengikuti. Kepala Arkhan menoleh kesana kemari melihat-lihat kondisi di sekitar. Sial, mereka terjebak di sebuah ruangan remang-remang yang tak ada lagi pintu keluarnya. Jarak pandang benar-benar terbatas. Hanya cahaya dari luar melewati ventilasi yang menjadi penerang.


Arkhan hendak keluar dari ruangan itu, namun dua pria berjas hitam yang mengejar sudah berada di jarak tiga pintu dari tempatnya berdiri. Kedua pria tersebut membawa senjata api.


Terpaksa Arkhan mundur dan kembali ke tempat semula. Manik matanya mencari-cari. Dimana ia harus bersembunyi? Andai saja ia hanya sendirian, ia tidak akan mencari tempat bersembunyi seperti yang dia lakukan sekarang. Mungkin ia akan memilih untuk menghadapi dua begudal itu dengan caranya. Tapi kini ada Zalfa di sampingnya, yang entah kenapa membuatnya merasa terbebani dan tertuntut untuk melindungi. Gadis itu… entahlah, menatap matanya saja sudah membuat Arkhan merasa harus melindunginya. Sekarang Arkhan baru menyadari letak kelemahannya.


Derap sepatu yang melangkah kian mendekat, membuat Arkhan semakin bingung harus bersembunyi dimana. Kedua pria bersenjata api itu akhirnya memasuki ruangan dimana Arkhan dan Zalfa bersembunyi.


Dua pria bersenjata api itu tidak menemukan siapa-siapa di sana.


TBC