
Sejak tadi, pandangan Zalfa tidak pernah luput dari sosok Arkhan. Matanya seakan terus diperintah otak untuk mengawasi gerakan tubuh Arkhan. Bulu di kulit Zalfa meremang mendengarkan adzan tersebut. Matanya berkaca-kaca tatkala Arkhan menyerukan kalimat Ashadu ala illaha ilallah…. Sebenarnya apa yang membuat Zalfa sedemikian terharu mendengar seruan itu? Bukankah selama ini Zalfa selalu mendengarkan adzan lima kali dalam sehari? Bukan karena suara Arkhan yang merdu, juga bukan karena irama adzannya yang syahdu. Tapi karena Arkhan berasal dari keluarga non muslim.
Beberapa orang yang terlihat sibuk berkemas keluar masjid, berbalik dan menyerbu air wudhu. Sangat tertib mereka memasuki masjid dan membentuk barisan rapi.
Iqamat sudah dikumandangkan dan para jamaah sudah berdiri membentuk shaf rapi.
Ustad Bukhori yang berdiri bersebelahan dengan Arkhan berbisik di telinga Arkhan, “Saya sedang batuk dan suara saya serak. Saya takut makmum tidak begitu jelas mendengar suara saya. Mohon menjadi imam.”
Arkhan mengangguk cepat dan melangkah maju. Yang lain menutup barisan yang kosong hingga rapat.
“Allahu Akbar…”
Zalfa yang berdiri di shaf perempuan mengenal suara takbir itu. Suara Arkhan. Ya Tuhan, rasanya Zalfa ingin segera bersujud seketika itu. Bersyukur karena Tuhan menambah muslim baru. Seberapa lama ustad Bukhori mengenal Arkhan hingga beliau berani meminta Arkhan yang mualaf untuk menjadi imam? Ini artinya ustad Bukhori sudah sangat mengenal Arkhan dan mengetahui kemampuan Arkhan dalam bacaan ayat-ayat yang Tuhan turunkan. Arkhan benar-benar memahami ayat-ayat Allah.
Usai shalat, para jamaah terlihat meninggalkan masjid. Seketika saja, masjid menjadi sepi. Hanya tinggal beberapa orang saja yang terlihat duduk santai melepas penat. Dua orang di pojokan dengan kaki selonjor. Tiga orang di barisan laki-laki duduk sambil berbincang. Beberapa orang di luar masih terlihat berkumpul meneguk air mineral.
Dan Zalfa duduk menyandarkan badan di tiang bundar. Sejenak ia berpikir, mengulang pertanyaan yang sejak tadi membekap di dada. Kok bisa Arkhan Pe De banget membaca Al Qur’an dengan fasih? Kok bisa ia mengumandangkan adzan? Kok bisa ia menjadi imam? Bukankah Arkhan berasal dari keluarga non muslim?
Zalfa berdiri dan meninggalkan tiang. Ia berjalan menuju ke arah pintu, tapi langkahnya terhenti ketika berpapasan dengan seseorang. Arkhan. Untuk beberapa saat mereka bersitatap. Situasi batin Zalfa mendadak berubah semenjak ayat-ayat indah itu dibacakan lelaki di hadapannya, rasanya aneh dan sulit dijabarkan dengan lisan. Ia kagum dan bangga. Tapi sepertinya kata-kata itu masih kurang pas untuk menggambarkan perasaannya.
Zalfa terdiam dan sulit untuk mengeluarkan suara. Banyak sekali yang ingin ia tanyakan, tapi harus mulai dari mana?
Zalfa tersentak dan semakin membisu. Artinya Arkhan telah menghapal ayat itu?
“Zalfa, jadi kapan kita menikah?”
Zalfa tergugu dan matanya membulat. “Arkhan, bagaimana bisa kamu mengenal Islam sedalam ini?”
“Kau belum menjawab pertanyaanku dan kau malah balik nanya.”
“Sebelumnya aku perlu tahu bagaimana caranya kamu bisa mendalami Islam sampai sejauh ini?”
“Apa perlu itu kujelaskan?” Muka Arkhan sudah memerah.
“Aku ingin tahu.”
“Kau tidak sedang menjadi juri sekarang, jangan ajukan banyak pertanyaan.”
“Aku berhadapan dengan calon suami, wajar aku menanyakan hal ini. Tolong jawab, Arkhan!”
TBC