PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
44. Sakit dah


“Rencananya tadi, aku mau suruh kamu beli barang yang kamu suka untuk kado,” ujar Zaki.


“Kado? memangnya kado untuk siapa?”


“Untukmu.”


Cyra menatap wajah yang berada sangat dekat dengannya itu.


“Sepuluh hari lagi kan kamu ulang tahun.”


“Ya ampun, aku sampe lupa.” Cyra bangga, Zaki justru tahu hari ulang tahunnya. Dia yang punya tanggal lahir saja lupa.


“Aku ingin kamu snediri yang cari kado untukmu.” Zaki menjelaskan.


“Berarti bukan kejutan lagi, dong.”


“Enggak perlu kejutan. Yang penting kamu suka.”


Cyra tersenyum. “Orang tuamu kemana? Kok, rumah sepi?”


“Mereka lagi ngurusin bisnis di luar kota.”


“Oh…”


***


Cyra menyusun lauk ke dalam tamperware. Ia sudah mandi, sudah wangi dan sudah berpenampilan rapi hendak pergi ke kampus.


“Kamu bawa bontot untuk ke kampus?” Andini yang baru saja memasuki ruang makan, menatap heran pada putrinya. Baru kali ini Andini melihat putrinya membawa bekal.


“Eh.. Bontot? Mama… Anu loh, ini tuh… Eh, ya udah Cyra pergi. Dadaaah…” Cyra beranjak meninggalkan ruang makan. Ia tidak memasuki mobil untuk segera berangkat ke kampus, meliankan menyeberangi jalan menuju ke rumah yang ada tepat di depan rumahnya. Cyra memasuki rumah yang tidak dikunci itu dengan mendorong pintu.


“Zaki!” panggil Cyra.


Sepi. Tak ada sahutan.


Tak lama kemudian Bik Pay muncul dari arah dapur.


“Zaki mana, Bik?”


“Sejak pagi tadi, MAs Zaki belum keluar dari kamar. Masih tidur mungkin, Mbak. Bibik juga udah bangunin, tapi kayaknya nggak denger. Nggak biasanya Mas Zaki begitu. Bibik nggak berani masuk kamarnya. Ibu sama Bapak belum pulang, jadi nggak ada yang bangunin.”


“Loh, kalau Zaki-nya kenapa-napa gimana Bik? Biar aku liat dulu, Bik.” Cyra berlari menaiki anak tangga. Cyra kemudian menoleh, menatap Bik pay yang terpaku di tempatnya. “Ayo, Bik. Tunjukin dimana kamar Zaki.”


“Eh iya, Mbak.” Bik pay ikut naik ke lantai atas. Ia membawa Cyra menuju kamar Zaki.


“Zaki!” panggil Cyra setengah berteriak, sambil mengetuk pintu kamar.


Tak ada jawaban dari dalam kamar.


Berulang kali Cyra memanggil-manggil dan tak da jawaban. Cyra akhirnya membuka pintu yang ternyata tidak dikunci. Tampak tubuh Zaki terbaring di kasur, berselimut bed cover yang tebal.


Cyra memasuki kamar yang temperatur suhunya sangat dingin. Cyra duduk di sisi ranjang dan menyentuh lengan Zaki yang polos. Pria itu tidur hanya mengenakan singlet. Memperlihatkan bulu halus di dada bidangnya, juga lengannya yang berotot.


Zaki menggeliat sebentar, matanya masih terpejam erat.


“Bik, badan Zaki panas.” Cyra menoleh kea rah Bik pay yang masih berdiri di ambang pintu. “Ambilin kompres sama air hangat kuku!”


“Iya, Mbak.” Bik Pay melenggang pergi.


Cyra meraih remot Ac dan mematikan AC. Ia meletakkan lauk ke atas meja.


“Zaki!” panggil Cyra sembari kembali menyentuh lengan Zaki.


Tiba-tiba tubuh Cyra melayang dan ambruk ke dada bidang Zaki sesaat setelah tangan Zaki menarik tangan Cyra. Masih dengan mata terpejam, Zaki tersenyum lalu berkata, “Nggak usah mencemaskanku. Aku baik-baik aja.”


Lihatlah, Zaki masih mengatakan baik-baik saja di saat kondisinya tidak baik. Lengan Zaki melingkar di punggung Cyra.


Cyra menatap wajah Zaki yang berada sangat dekat dengan wajahnya. Senyum di bibir Zaki mengembang. Cyra merasakan detakan jantung Zaki saat itu.


TBC