
Zaki memasuki ruang makan, menatap hidangan yang tersaji di meja panjang.
“Ayo, sini sarapan! Ada menu kesukaan kamu nih, spagety.” Alya menyorong sepiring spagety ke arah Zaki yang kini tengah berdiri di sisi meja.
Surya yang saat itu sudah tampak necis mengenakan jas hitam, tersenyum menatap putra semata wayangnya yang terlihat semakin tampan mengenakan kaos ketat berwarna hitam dipadu celana jeans warna abu-abu.
“Santai sekali penampilanmu, apa nggak ke kampus?” tanya Surya seraya menyantap spagety miliknya yang hanya tinggal sesuap lagi.
Zaki menoleh sekilas ke wajah papanya, lalu duduk di salah satu kursi yang baru saja ia tarik.
“Aku hari ini cuti.” “Cuti? Cuti apa?” Surya meneguk air mineral yang telah disediakan oleh Alya.
“Ingin istirahat aja.” Zaki menyorong garpu yang ujungnya telah dililit spagety ke mulutnya.
“Bismillah dulu, Zaki!” sergah Alya saat spagety hampir masuk ke mulut Zaki yang sudah mangap.
“Oh.. Eh iya…” Zaki menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ya ampun, untuk urusan sesepele itu pun Zaki harus diingatkan. Sampai kapan ia diingatkan terus oleh mamanya? Lalu bagaimana caranya ia mengingatkan Cyra kelak saat Cyra sudah menjadi istrinya kalau istrinya keliru? Halah, kok, Zaki mikirnya kejauhan?
“Bismillahirohmanirrohiim…” Zaki mulai mengunyah.
“Jadi mau cuti kemana? Ke luar kota?” tanya Surya.
“Lihat situasi nanti. Kemungkinan ke Bandung.”
“Mau ke Bandung lagi? Apa mau mantau proyek papa di sana?”
Zaki tersenyum tipis. “Aku kan cuti bertujuan mau istirahat, papa malah kasih tugas suruh memantau proyek?”
Surya tersenyum. “Ya sudah, yang penting kamu enjoy. Dan jangan lupa hati-hati kalau mau bepergian. Seperti yang papa bicarakan tadi malam, pagi ini papa mau berangkat ke luar kota sama mamamu untuk urusan bisnis.”
Zaki mengangguk.
“Sepulang dari luar kota, papa harap ada kemajuan hubunganmu dengan Cyra. Gadis lucu itu cocok menjadi menantu papa.”
Zaki tersedak mendengar papanya menyebut Cyra dengan sebutan gadis lucu, memangnya Cyra seperti badut? Kok, lucu? Cepat-cepat Zaki meraih gelas berisi air mineral yang disodorkan oleh mamanya.
“Langkah apa yang ingin kamu tempuh setelah ini? Melamar Cyra? Mengajaknya bertunangan? Atau… apa?” lanjut Surya serius.
“Cyra meminta waktu sampai dia lulus kuliah baru menikah.”
“Oh… bagus itu. Berarti nggak lama lagi kalian akan hidup bersama-sama.”
“Papa bangga padamu, akhirnya kamu mengatakan untuk melepas masa lajang juga. Ini baru namanya Zaki Salman. Putranya Surya Salman. Papa akan persiapkan semuanya untukmu. Beberapa bulan menjelas Cyra lulus kuliah bukanlah waktu yang lama.”
Zaki mengulas senyum. Papanya begitu serius menanggapi ucapan Zaki.
“Ya sudah, mama sama papa pergi dulu. Kamu kalau mau liburan dienakin aja, okey!” Alya mengusap bahu Zaki dan melenggang pergi mengikuti Surya ke ruangan depan.
Ponsel di saku celana Zaki bergetar dan segera Zaki merogohnya. Ada chat masuk.
Cyra
Lagi ngapain, banteng eh ganteng?
Wah wah, sekarang malah ngelunjak manggil banteng. Awas kamu!
Zaki
Sarapan
Cyra
Dingin amat.
Zaki
Kamu harus ujian
Jangan malah pacaran
Cyra
Oke, Pak Dosen
Zaki tersenyum membaca pesan masuk. Kemudian ia bangkit berdiri dan menyambar jaket setelah menyudahi sarapannya dengan mengucapkan hamdallah. Ia melenggang menuju mobilnya yang sudah terparkir di pekarangan rumah. Lalu menyetir mobil keluar melintasi pagar, ia membunyikan klakson tiga kali saat melihat Cyra yang tengah keluar rumah. Gadis itu memperlihatkan barisan gigi putihnya sambil melambaikan tangan.
Zaki geleng-geleng kepala di dalam mobil. Cyra tetap tampak ceria meski hari ini diseruduk jadwal padat.
***
TBC