
“Semua itu lukisanmu?” tanya Arkhan ketika Elia sudah duduk di sisinya, masih memeluk lukisan pemberian Zalfa.
“Ya.”
“Kau buat dengan tanganmu sendiri?” pelan bola mata Arkhan mengamati satu per satu lukisan di dinding.
“Ya, aku yang buat,” singkat Elia.
Arkhan baru menyadari bahwa adiknya itu benar-benar hobi melukis. Kemana ia selama ini? Ah, ia terlalu sibuk mengurus rutinitasnya yang tiada henti.
“Kenapa? Jelek, ya?” tanya Elia sembari menatap lukisannya.
Arkhan tidak menjawab. Masih terus menatap lukisan-lukisan itu. Ada gambar ikan melompat di atas air, sapi memakan rumput, dua remaja SMP bergandengan tangan, dan pemandangan alam. Arsirannya bagus dan menampilkan lukisan yang hampir seperti hidup. Jika dipoles sedikit lagi dengan ilmu melukis, lukisan-lukisan itu pasti seperti nyata. Elia persis seperti papa mereka, yang hobi menuangkan imajinasi melalui lukisan. Bakat itu menurun pada Elia. Untuk seumuran Elia, lukisan itu sudah termasuk bagus. Bahkan Elia mampu membuat seekor monyet terlihat seperti hidup dengan arsirannya yang memadai.
“Kamu mau hasil lukisanmu jadi lebih keren? Bentar lagi kan kamu mau ikutan lomba melukis. Bener, kan?” Arkhan menoleh ke wajah adiknya.
“Caranya?” Elia menatap nanar.
“Belajar sama orang yang bisa dijadiin guru.”
“Apa kau punya rekomendasi guru buatku?”
“Zalfa.”
Elia terdiam. Mulutnya langsung membungkam. Arkhan tidak tahu apakah Elia sedang kesal dengan tawarannya, atau sedang mempertimbangkan. Mukanya kelihatan berbeda dari biasanya. Dan Arkhan tidak bisa menebaknya.
“Kau setuju?” tanya Arkhan.
“Aku pikir-pikir dulu.”
Ucapan Arkhan membuat Elia memperlonggar dekapan tangannya yang melingkar di lukisan yang sejak tadi masih berdiam di dadanya.
“Ya udah, pikirkan aja dulu. Jangan sampe Zalfa berubah pikiran. Dia itu wanita keras kepala. Akan sulit mengubah pendiriannya. Aku yakin kamu akan sangat bangga kalau jadi juara.” Arkhan kemudian berjalan keluar kamar.
***
Di sebuah masjid besar, Zalfa sibuk mengurus acara. Berbicara dengan seseorang, kemudian seseorang lagi datang dan meminta pendapatnya, lalu pergi. Zalfa menelepon, lalu mematikannya. Kemudian menelepon lagi. Terlihat berbicara cukup lama.
Masjid dua tingkat itu sudah dipenuhi para jamaah yang siap menanti kehadiran penceramah hebat yang tersohor, Muhammad Dahlan Al Ghazali. Jamaah duduk membentuk barisan rapi baik yang dilantai satu maupun lantai dua. Dan saat yang ditentukan itu telah tiba, Ustad Dahlan memasuki pintu utama masjid menuju mimbar, pandangan seluruh jamaah terfokus ke arahnya ang mengenakan jubah putih dan sorban putih pula. Ia terlihat seperti bangsa Arab dengan jenggotnya yang sepanjang leher.
Ratusan manusia sudah memenuhi masjid untuk mengikuti acara tausiah bertepatan dengan tanggal satu Muharam.
Zalfa menatap layar ponsel ketika benda itu berkedip-kedip. Sengaja disilent karena sedang tidak ingin diganggu. Pesan dari Arkhan. Zalfa segera membukanya.
Arkhan
Aku sudah sampai masjid.
Sekarang aku harus kemana?
Zalfa keluar masjid, berdiri di ujung teras menunggu Arkhan, ia sudah janjian dengan pria itu beberapa menit sebelum berangkat dari rumah. Tampak Arkhan turun dari mobil yang baru saja ia parkirkan. Pria itu mendekati Zalfa.
“Kamu akan dibimbing mengucapkan dua kalimat syahadat di dalam masjid oleh Ustad Dahlan. Masuklah!” ucap Zalfa kemudian ia langsung balik badan dan memasuki masjid diikuti oleh Arkhan. Zalfa berhenti saat menyadari Arkhan mengikutinya.
TBC