PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
203. Extra Part 13


“Menjadi ibu rumah tangga itu nggak mudah, Zaki,” ucap Cyra dengan tegas.


“Apanya yang nggak mudah? Jangan manja!” Sebenarnya Zaki juga tidak tega mengucapkan kata-kata itu, apa lagi kini ia melihat wajah Cyra menjadi mendung. Tapi Cyra sudah kepalang memulai perdebatan hingga mengakibatkan Zaki ingin membela diri dan memutar balikkan kesalahan supaya kesalahannya bisa tertutupi.


“Oke, kalau kamu anggap pekerjaan wanita itu gampang, kita tukar posisi.”


“Maksudmu?”


“Kamu yang jadi ibu rumah tangga, dan aku yang mencari nafkah.”


Zaki mengernyit. “Kamu pikir menjadi laki-laki itu mudah? Mencari nafkah itu sulit. Bukan hanya menekuni bidang saja, tapi juga menghabiskan waktu, tenaga, pikiran dan masih banyak lagi yang lainnya. Sulit, Cyra.”


“Pekerjaan laki-laki hanya satu, yaitu mencari nafkah. Dia hanya memikirkan bagaimna agar bisa mnegumpulkan banyak uang sudah, itu saja. Apa sulitnya? Apa lagi profesimu hanya seorang dosen. Aku bisa mencari lebih dari itu.”


Hati Zaki mencelos mendengar Cyra meremehkan usaha kerasnya dalam memberi nafkah. “Ooh... Jadi kamu meremehkan pekerjaan laki-laki. Oke, kalau memang maumu kita bertukar posisi, silahkan!”


“Mulai besok, biar aku yang mencari nafkah, dan kamu mengurus rumah.” Cyra meraih tubuh Sifa dan menggendongnya menuju ke lantai atas.


Gludak!


Tubuh Cyra terjungkang saat kakinya tidak tepat menginjak anak tangga. Untung saja Sifa aman dalam gendongannya, sebab posisinya jatuh dalam keadaan menelentang.


“Nggak!” ketus Cyra. Hatinya berbunga-bunga ditolongin Zaki. Tapi gengsi, akhirnya menunjukkan sikap ketus. Cyra berdiri dan kembali menaiki anak tangga dengan hati-hati.


Sepanjang berjalan menuju lantai dua, hati Cyra serasa nyeri dan merasa sangat bersalah. Seharusnya ia tidak mengucapkan kata-kata yang tidak pantas kepada suaminya, seharusnya ia tidak meremehkan pekerjaan Zaki.


Ya ampun Zaki sayang, pasti kamu sakit hati banget atas ucapanku. Maafin aku. Habisnya kamu sih pake mancing-mancing emosiku segala. Jujur aja aku nggak tega banget ngeliat mukamu yang langsung berubah merah saat kata-kata remeh-temeh dariku meluncur keluar, jujur aku sayang banget sama kamu dan nggak ingin kamu tersakiti. Lalu bagaimana caranya aku besok akan memulai untuk bekerja dan menghasilkan uang? Ah, itu hal mudah. Beberapa waktu yang lalu Rere sempet ngabarin via Wa kalau teman dari orang tuanya lagi butuh sekretaris untuk mengisi kekosongan jabatan itu di kantornya, dan Rere merekomendasikanku. Besok akan kucoba terima tawaran itu.


Cyra meletakkan tubuh Sifa ke kasur tanpa ranjang yang posisinya bersisian dengan ranjang miliknya. Bocah itu sudah mengantuk. Cyra segera membuat susu hangat ke dalam dot dan memberikannya untuk Sifa. Cyra memeluk tubuh Sifa dan mengelus atas keningnya. Bocah cilik itu tertidur sebelum susu di dalam dotnya habis.


Kembali ingatan Cyra melayang pada kejadian tadi, ketika Zaki merendahkan pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga. Rasanya sakit sekali. Tapi ia yakin Zaki merasa jauh lebih sakit atas perkataannya yang telah merendahkan martabat lelaki dengan meremehkan hasil kerja keras Zaki mencari nafkah.


Beberapa menit kemudian, Zaki memasuki kamar. ia melihat Cyra tertidur di kasur bawah memeluk Sifa. Zaki langsung merebahkan tubuh ke kasur king size setelah selesai mandi. Tubuhnya miring menghadap ke arah Cyra yang kini tengah memeluk Sifa. Hatinya mencelos melihat Cyra yang tidak berbaring di sisinya. Biasanya Zaki selalu tidur memeluk Cyra, kini wanita itu tidak lagi ada dalam pelukannya. Ia tidak tahu apa yang sedang dirasakan oleh Cyra, mungin wanitanya itu sedang merasa terluka atas perkataannya tadi.


Cyra sayang, maafin aku. Aku sayang sama kamu. Seharusnya aku nggak mengucapkan kata-kata seperti tadi. Kamu pasti sakit hati atas ucapanku itu. Sebagai pemimpin rumah tangga, seharusnya aku bisa menguasai emosi dan menjadi imam yang baik. Sayang, maafin aku. Kamu tidur yang tenang ya!


Mata Zaki terpejam.


***