
Cyra mendatangi kantor yang direkomendasikan oleh Rere. Dengan penampilannya yang formal dan feminim, ia menyerahkan dokumen berisi Curriculum Vitae miliknya kepada bagian penerimaan karyawan. Senyum lebar dipadu wajah cerah dia tampilkan demi menarik simpati lawan bicaranya.
Keyakin Cyra akan diterima sebesar sembilan puluh puluh persen, sebab perusahaan tersebut memang sudah direkomendasikan untuknya.
“Terima kasih atas kedatangannya ke sini, surat lamaran sudah saya pelajari dan Anda bisa bekerja di sini,” ucap salah seorang pegawai.
“Jadi saya diterima?” Cyra girang.
“Benar sekali. Selamat ya!” Pegawai tersebut menjabat tangan Cyra.
Dengan penuh semangat, Cyra menjabat tangan gadis yang lebih tua darinya itu. bagaimana ia tidak girang, untuk pertama kalinya ia akan bekerja mengandalkan ijazahnya dan dengan gaji yang lumayan besar karena jabatannya juga bagus.
Seorang pria berbaju kelimis memasuki ruangan. Ekspresi wajahnya sedikit kusut. Ia menatap gadis di hadapan Cyra dan berkata, “Lulu, baru banget aku mendapat perintah Direktur kalau kita tidak boleh menerima karyawan baru lagi.”
Lulu, gadis yang baru saja mengucapkan kata selamat untuk Cyra sontak terkejut dan menatap Cyra dengan wajah memucat.
“Baru saja aku menerima...” Kata-kata Lulu terputus, manik matanya tertuju ke wajah Cyra.
Pegawai lelaki itu menata Cyra, ia sudah memahami arah pembicaraan Lulu meski kalimatnya tidak diselesaikan. “Mau bagaimana lagi, ini keputusannya juga barusan disepakati. Kalau kita melanggar, kita juga yang bakalan disalahin.”
“Sungguh saya kecewa, tapi ya sudahlah mau bagaimana lagi. saya juga nggak bisa memkasakan kehendak saya. Terima kasih atas waktunya.”
“Sekali lagi kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga kamu akan mendapatkan peluang kerja yang jauh lebih baik.”
Cyra mengangguk. “Saya permisi.” Ia bangkit berdiri dan meninggalkan gedung perkantoran dengan perasaan kecewa sekaligus gelisah. Ia tidak diterima bekerja, lalu bagaimana caranya ia bisa mencari uang? Ia akan malu sekali dengan Zaki jika tidak berhasil mencari nafkah.
Cyra tidak menyerah, ia melamar kerja ke banyak perusahaan, ia menyebarkan banyak lamaran miliknya ke berbagai macam perusahaan yang bidangnya berbeda-beda. Tidak hanya dengan melamar secara langsung, ia juga menyebarkan lamaran melalui online, email dan banyak cara lainnya.
Seharian, Cyra mencari pekerjaan namun hasilnya mengambang, belum ada satu pun perusahaan yang menerimanya. Ia bahkan sudah meminta bantuan ke teman-temannya untuk mencarikannya pekerjaan, tapi belum ada hasil.
Ugh, ternyata mencari pekerjaan tidak semudah yang ia bayangkan. Benar-benar menguras tenaga, menyita waktu dan pikiran. Rasanya semuanya sudah dikerahkan dan bahkan kepalanya sudah puyeng tapi pekerjaan belum ia dapatkan. Ia juga sudah menghabiskan banyak uang dengan membuat lamaran sebanyak-banyaknya dan mengirimkannya melalui jasa kurir. Dan uang pemberian Zaki yang seharusnya dia gunakan untuk membeli keperluan dapur, kini ludes tak bersisa. Sekarang sudah akhir bulan, jadi sisa uangnya itu hanya tinggal sedikit. Itu pun tidak bersisa lagi. Lalu ia harus berkata apa jika Zaki meminta uang padanya untuk keperluan rumah? Cyra hampir stres memperjuangkan supaya ia bisa mendapatkan lembaran rupiah, apa yang harus ia lakukan sekarang? Sampai-sampai ia lupa makan karena terlalu sibuk mencari pekerjaan. Miris.
Perkataannya yang mengungkapkan kalau mencari nafkah itu mudah membuatnya merasa harus mendapatkan uang secepatnya untuk membuktikan bahwa ucapannya adalah benar.
TBC