PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
SN 112


Zalfa segera mengalihkan pandangan dari Faisal saat pria itu menatap ke arahnya. Kemudian Zalfa memajukan wajahnya supaya jaraknya lebih dekat dengan wajah Arkhan. Ia pun berbisik, “Aku udah lepaskan masa laluku. Aku bahkan sudah serahkan semuanya untukmu. Aku hanya milikmu. Kamu bebas atas diriku. Titik. Apa lagi yang kurang? Apa itu nggak cukup membuktikan ketulusanku? Kamu puas udah menampar Faisal dengan sepotong ayam? Kemarahanmu udah terbalaskan. Selamat!”


Zalfa bangkit berdiri meninggalkan piringnya yang masih berisi dan berlalu meninggalkan meja. Ia terpaksa harus memutar perlintasan langkahnya demi supaya tidak melewati meja Faisal meski jarak pintu menjadi lebih jauh karenanya. Ia sungguh-sungguh bingung harus bicara apa pada Faisal atas sepotong ayam yang melayang terbang mengenai pipi pria itu. terpaksa ia memilih untuk menjauhi Faisal dari pada harus menanggung malu.


Zalfa memasuki mobil. Duduk di sisi kemudi. Detik demi detik berlalu dan Arkhan belum juga muncul. Ini sebenarnya Arkhan sedang ngapain? Jangan-jangan Arkhan malah melanjutkan makan tanpa merespon kekesalan Zalfa yang meninggalkan meja makan sebelum sisa makanannya habis? Atau jangan-jangan Arkhan malah mendekati Faisal dan berbicara banyak hal dengan Faisal. Waduh gawat! Bagaimana jika terjadi keributan di restoran.


Zalfa memegang handle pintu mobil henda turun dan kembali ke restoran, namun gerakannya terhenti ketika merasakan ayunan mobil dan ia melirik Arkhan yang duduk di bagian kemudi. Pria itu menghentak pintu menutupnya.


Zalfa memalingkan wajah ke luar jendela untuk mengalihkan pandangan. Ia sedang kesal dengan Arkhan karena keras kepalanya pria itu yang tidak bisa mempercayai kata-katanya. Lalu harus bagaimana lagi ia menjelaskan? Dituduh main serong dengan pria lain sangatlah menyakitkan. Meski Zalfa sadar, sikap Arkhan yang demikian bukan tanpa alasan. Faisal adalah masa lalu bagi Zalfa, dan bahkan Arkhan tahu betul bagaimana Zalfa masih mencintai pria itu disaat dia sudah menikah dnegan Arkhan. Wajar saja Arkhan bersikap demikian. Hanya saja, Zalfa tidak suka dituduh.


Sepanjang perjalanan, keduanya diam membisu. Arkhan tampak fokus menyetir tanpa mengatakan apapun. Zalfa juga diam. Lehernya mungkin bisa saja keseleo akibat terus-terusan menoleh kiri, tepatnya ke arah luar mobil.


Arkhan diam saja. Namun ia membelokkan arah mobilnya ke jalan menuju kafe milik Zalfa.


Sesampainya di kafe, Zalfa langsung memasuki kafe meninggalkan Arkhan yang duduk manis di dalam mobil. Ia meletakkan tas ke meja kasir. Ia duduk di kursi dan pandangannya mengitari seisi kafe. Masih agak pagi sehingga kafe belum seberapa ramai. Hanya tiga meja saja yang diisi pengunjung. Zalfa terkejut melihat Arkhan yang memasuki kafe, pria itu duduk di salah satu meja kemudian memejan jus pada pelayan.


Batin Zalfa tersenyum melihat Arkhan yang ternyata malah ikut masuk ke kafe. Dasar Arkhan, kirain dia pergi, eh ternyata malah menunggui di kafe. Kalau begini caranya, Zalfa jadi kikuk untuk bekerja. Mana mungkin ia malah sibuk bekerja dan bersikap cuek terhadap suaminya itu. Hal itu pasti akan kelihatan buruk di mata semua orang yang melihatnya.


Zalfa akhirnya memilih untuk masuk ke ruang kerjanya, ruangan berukuran kecil khusus untuk dirinya. Tak lama kemudian pintu kembali terbuka. Arkhan menyusul masuk. Pria itu mendekati Zalfa, sedikit membungkukkan tubuh dan meletakkan kedua telapak tangannya ke meja sisi Zalfa.


TBC