PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
SN 94


“Zalfa, setelah Arkhan memeluk Islam, seharusnya kamu bisa berpikir matang untuk menjadikan dia imam dalam rumah tanggamu,” ujar Ismail tegas. “Siapkan hati dan batinmu untuk menjadi istri seutuhnya, siap menjadi ibu dari anak-anaknya. Arkhan itu sekarang seiman denganmu, pertahankan dia, nggak ada alasan yang bisa membuatmu menghancurkan pernikahan. Jangan bicara cinta, sebab dengan keputusanmu menerima Arkhan, itu sudah membuktikan bahwa kamu memiliki harapan untuk bisa membina rumah tangga dengannya. Ini bukan lagi soal pilihan, tapi kamu harus komitmen. Pernikahan itu bukan main-main. Kamu sadar sepenuhnya saat menentukan Arkhan sebagai calon suamimu. Jangan karena Faisal kembali, lantas kamu merusak komitmen yang sudah kamu buat. ”


“Justru karena pernikahan bukan main-main, makanya aku harus bener-bener tepat dalam merumuskan rumah tanggaku,” balas Zalfa. “Jangan sampai aku menikah sama Arkhan, tapi hatiku terus mengarah ke Faisal. Bukankah awalnya dulu Mas yang mengatakan bahwa pernikahanku dengan Arkhan hanyalah untuk beberapa saat saja, lantas kenapa sekarang berubah, Mas?”


“Dulu dan sekarang berbeda, Zalfa. Seharusnya kamu bisa memutuskan dan memilih mana yang terbaik untukmu, perubahan itu bisa saja terjadi jika untuk kebaikan,” sahut Ismail. “Tidak ada satu pun agama yang mengajarkan pada keburukan, semua agama mengajarkan kebaikan. Semua agama mengajak pada kasih sayang dan perdamaian. Perbuatan buruk hanya dilakukan oleh orang yang tidak mendalami agamanya, juga orang yang dangkal pemahaman agamanya. Apakah kamu termasuk salah satunya? Apakah kamu nggak malu menunjukkan sikap burukmu pada seorang mualaf seperti Arkhan? Seharusnya kamu menjadi contoh muslim yang baik untuknya. Apakah kamu mau menjadi seperti Bu Fatima? Sosok wanita berhijab panjang yang mulutnya tajam dan senang menyakiti hati dengan ketajaman lidahnya itu?”


Atifa duduk di sisi Zalfa dan memegangi punggung tangan adik iparnya itu.


“Zalfa, sekarang perasaanmu mengarah ke mana?” lembut Atifa bertanya.


Zalfa menggeleng. Ia sangat mencintai Faisal. Sungguh, cintanya terhadap Faisal semakin bulat setelah terakhir kali menatap mata Faisal. Sampai saat ini hatinya masih berdesir mengingat wajah Faisal. Namun di sisi lain, ia teringat Arkhan. Ia tidak menyangkal bahwa rasa hormat dan patuh tiba-tiba saja muncul dalam dirinya untuk pria itu. Ada tanggung jawab besar yang dia pikul pada Arkhan. Bahkan ayat-ayat suci yang dibacakan Arkhan saat akad masih terngiang jelas di telinganya. Dahsyat menggetarkan kalbu.


Ismail memandang wajah Zalfa dengan teliti. Mendapati wajah bimbang dan gusar. Akhirnya ia iba juga.


“Sebenarnya sudah tidak ada lagi yang perlu kamu bimbangkan, Zalfa. Kamu sudah menikah, lanjutkanlah hubunganmu dengan Arkhan. Tunjukkan pada mualaf sepertinya bahwa Islam sangat indah dan penuh cinta, tunjukkan dan ajarkan dia. Ya udah, sekarang gini aja, minta petunjuk sama Allah. Shalatlah! Setelah itu ikuti kata hatimu,” ucap Ismail. “Petunjuk dan keputusan Allah adalah keputusan paling baik.”


“Nah, itu dia. Dari tadi aku juga mau ngomong kayak gitu,” timpal Atifa sok ramah membuat Ismail langsung menjepit ujung hidung Atifa.


“Okelah, aku ke kamar dulu.” Zalfa beranjak meninggalkan ruangan dan menuju kamarnya.


TBC