PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
140. Selfie


“Pak Zaki, gimana kondisinya sekarang? Udah lebih baik, dong. Kan ditungguin calon istri, pasti langsung pengen sembuh.” Lagi-lagi Bu Santi mengeluarkan jurus ledekan sambil melirik Cyra yang jadi salah tingkah.


Buset, ini dosen kalau ngeledek nggak kira-kira. Cuma aku yang mahasiswi di sini, selebihnya dosen. Mati kutu jadinya, nih. Cyra membatin malu.


“Kondisi saya masih belum baik, masih perlu perawatan total,” tutur Zaki.


“Ooh... Kirain langsung sembuh begitu melek dan ngeliat yang bening.” Bu Santi melirik Cyra.


Uuugh... Sumpah, mulut Bu Santi enteng banget untuk urusan ngeledekin. Makannya apa yak?


Bu Santi meletakkan dua kantong plastik besar yang ia tenteng dan menaruhnya di meja.


“Itu oleh-oleh dari kami, semoga Bapak lekas sembuh, ya!” ujar Bu Raini dengan seulas senyum manis sekali yang langsung dibalas senyum juga oleh Zaki.


“Makasih.” Zaki berujar.


“O ya, boleh selfi dululah, ya. Bukti kalau kita-kita sudah menjenguk Pak Zaki.” Bu Raini, dosen cantik itu mendekati Zaki, membungkukkan tubuhnya supaya wajahnya sejajar dengan Zaki, lalu memasang kamera ponsel dan mengarahkan kamera tersebut ke wajah mereka. Bu Raini dengan gaya narsisnya tampak percaya diri memperagakan bermacam ekspresi, ia juga menempelkan pipinya ke pipi Zaki.


Cyra mendengus melihat aksi Bu Raini yang mengabaikan situasi sekeliling. Duuuh... Itu dosen centil nggak bisa banget apa ya jaga jarak? Trus kenapa ini jantung jadi nggak enak begini? Dada juga rasanya panas. Sesak nafas juga. Manusiawi kali ya kalau aku cemburu? Tapi kan Bu Raini emang begitu sifatnya, suka nemplok sama yang ganteng dan ganjen gitu. Dia juga aktif banget di sosial media, dikit-dikit posting, dikit-dikit upload, dikit-dikit selfie. Lagi pula Bu Raini melakukannya atas dasar keakraban sesama dosen, lantas kenapa aku merasa nggak enak banget gini? Cyra mengelus dadanya berusaha meredakan rasa yang menggejolak.


“Ayo, sini ibu Bapak, kita selfi dulu sama Pak Zaki,” ajak Bu Raini pada dosen-dosen lainnya.


“Boleh.” Bu Santi ikutan berselfie ria, Pak Fauzan juga tak mau ketinggalan.


Weeeh... enteng banget nyuruh-nyuruh orang ngambil gambar. Cyra mengangguk dan menyambut ponsel.


Cekrek cekrek...


Berkali-kali Cyra memotret sesuai permintaan Bu raini.


Setelah puas menampilkan ekspresi di depan kamera, Bu Raini mengambil ponsel miliknya dari tangan Cyra. Ia mengecek gambar yang baru saja diambil oleh Cyra.


Cyra melirik ekspresi BU Raini saat menggeser-geser foto di ponselnya. Dosen muda itu membelalak dengan mulut terbuka. “Lho lhoo... Ini kenapa kabur semua gambranya, Cyra?”


Sebenarnya Cyra ingin tertawa mendengar pertanyaan Bu Raini, tapi terpaksa ia tahan. Sengaja kali, Bu. Habisnya ibu mentel banget sih, sejak awal di foto sampe akhir mepetin Zaki mulu. Noh, gambar jadi kabur semua, kan.


“Ini satu pun nggak ada yang jelas gambarnya. Walaaah.. Cyra gimana sih ngambil gambarnya.” Bu Raini masih terus menggeser-geser foto hasil jepretan. “Padahal mau saya unggah di instagram.”


“Loh kok bisa? Saya padahal tadi sudah pasang smile paling unyu, meringis terus loh, sampe gigi rasanya mau kering. Sayang kan kalau nggak jadi fotonya.” Bu Santi mendekati Bu raini dan ikut mengecek hasil foto.


“Ya, sudah. Diambil lagi saja fotonya,” ucap Alya dengan senang hati.


TBC