
Sepanjang jalan menuju rumah, Salsa terus menggigit bibir bawahnnya, ia baru tahu Azka punya ganggun mental sosiopat, pantas saja tatapan laki-laki itu sangat berbeda. Tak terasa air mata kembali mengalir membasahi pipinya.
"Ini bukan salah lo Sal, jadi berhenti nyalahin diri sendiri, lihat tubuh lo sekarang luka," omel Keenan sesekali melirik Salsa karena sedang menyetir.
Kaki dan tangan Salsa sudah diperban oleh Keenan, juga hidung suda ia bersihkan, lapar yang sedari tadi ia tahan menguap mendengar kabar buruk tentang Azka, kini ia semakin khawatir laki-laki itu menyakiti dirinya sendiri.
Ia mendongak menatap Keenan setelah lama menununduk. "Keenan lo mau kan bantu gue bujuk Azka? Gue nggak mau dia nyaktin diri sendiri hanya karena gue, kedaan Azka kacau banget Keen," curhat Salsa dengan mata memerah.
Secinta itu lo sama Azka Sal? Sampai kondisi lo sekarang aja nggak lo peduliin?
"Keen!"
"Hm."
"Lo mau kan bantu gue?"
"Berhentilah menangisi seseorang Sal, seminggu ini kerjaan lo cuma nangis, apa kepala lo nggak sakit? Ingat kesehatan lo, jangan karena satu orang lo malah sakit dan membuat orang-orang yang sayang sama lo khawatir," tegur Keenan dengan nama rendah tapi sedikit tekanan.
Salsa menunduk, kali ini tak mengatakan apapun lagi, mangusap air mata yang terus mengalir tiada henti, apa lagi saat menggingat kondisi Azka tadi.
Ingin rasanya Keenan memeluk tubuh rapuh Salsa, tapi apa daya ia tak punya keberanian untuk itu, terlebih sekarang kondisinya sangat kacau, Azka salah paham padanya juga Salsa. Andaikan sore itu ia tak menerima permintaan Salsa mungkin ini semua tidak akan terjadi, Azka tidak akan marah dan Salsa tidak akan menangis sampai seperti ini.
"Ah sialan!" makin Keenan memukul setir kemudi membuat Salsa terperanjat karena kaget.
"Maaf!" sesal Keenan.
"Lo belum makam dari pagi Sal, lo mau mampir makan dulu sebelum pulang?"
Salsa mengeleng, tak ada niatan ia untuk makan. "Gue nggak lapar Keen, gue cuma pengen pulang," lirihnya.
Keenan menghela nafas panjang, fokus menyetir agar segera sampai di rumah Salsa. Ia membuka pintu setelah memarkirkan mobil dengan aman di halaman rumah gadis itu.
Entah berapa lama ia tidur hingga merasakan seseorang menyentuh pipinya, ia sedikit membuka mata dan mendapati Mamanya. Tanpa pikir panjang ia langsung menghambur kepelukan wanita paruh baya itu.
"Kenapa sayang?"
"Salsa rindu sama Mama," lirih Salsa.
"Kamu ada masalah di sekolah?"
Salsa mengeleng, tak berniat menceritakan masalahnya pada Mama Reni.
"Ini tangan sama kaki kamu kenapa di perban sayang? Kamu jatuh di mana?"
"Tadi pas praktek di lab, Salsa nggak sengaja jatuhin gelas ukur, ya jadinya kena kaki sama tangan, Salsa ceroboh banget ya Ma?" alibinya.
"Lain kali hati-hati sayang, udah sana mandi kita makan malam dulu." Mama Reni mengelus rambut Salsa.
"Salsa nggak lapar."
"Nggak lapar apa nunggun pacarnya bawain makanan?" goda Mama Reni. "Oh iya, Azka udah tiga hari nggak keliatan, kemana?"
"Azka lagi sibuk belajar buat persiapan kelulusan Ma, apa lagi dia ikut olimpiade, padahal lagi persiapan ujian, jadi repot."
"Pacar anak Mama pinter ya," puji Mama Reni.
Salsa hanya senyum kikuk.
...****************...
Jangan lupa meninggalkan jejak, dan terimakasih untuk dukungan kalian😘