
Di kantor Faiz iya masih sibuk menghubungi nomor Amel tapi masih tidak aktif, Faiz juga tidak bisa meninggalkan kantor karena harus menghadiri rapat.
Faiz takut kalau Amel pergi meninggalnya, Faiz semalam sudah menghubungi Nabila tapi Nabila tidak mengangkat teleponnya, kemudian pagi ini Faiz mencoba menghubungi Nabila dan akhirnya tersambung
"Halo, Kak Nabila" Ucap Faiz
"Iya ada apa Iz, tumben kamu telepon kakak" ucap Nabila dibalik telepon
"Hmm Kak, Amel sekarang dengan Kakak"
"Oww, Amel di rumah Daddy Iz"
"Kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi kak, aku sudah menghubunginya sejak semalam tapi nomornya tidak aktif kak"
"Maaf Iz aku lupa memberitahumu, Amel sedang tidak enak badan dari semalam, dan bisa jadi dia tidak sempat membuka ponselnya"
"Apaaa" Faiz kaget mendengar keadaan Amel "Baik kak terima kasih aku akan kerumah Uncle Jhonson sekarang juga" Kemudian Faiz mematikan panggilannya
Tidak lama Dami masuk keruangan Faiz membawa berkas yang akan diberikan oleh Faiz "Bos Ini...." Belum selesai Dami berbicara Faiz langsung berbicara
"Dami kau hendle semua meeting hari ini, aku ada urusan sangat penting"
"Tapi bos meeting ini sangat penting"
"Aku tidak peduli, ada yang lebih dari penting meeting ini, dan aku tidak mau tau kau harus selesaikan dengan baik meeting nya" Kemudian Faiz keluar dari ruangannya dengan terburu - buru dan meninggalkan Dami sendirian
"Dasar Bos sialan.. Untung kau sahabatku kalau tidak aku tinggalkan kau" Gerutu Dami
Kini Amel sedang berada di taman belakang menghirup udara segar, Fransiska menghampiri putrinya yang tengah duduk
"Mel, kamu sedang apa disitu nak, kamu jangan terlalu banyak gerak dulu" Fransiska lalu duduk di samping Amel
"Mom aku bosan dikamar, aku sudah sehat kok mom"
"Mommy hanya khawatir padamu nak"
"Tidak usah berlebihan Mom"
"Sayang"
"Aku bukan Amel yang dulu yang selalu merengek ketika aku sedang sakit sedikit saja, yang setiap saat meminta barang - barang mahal kepada orangtuanya" sebelum Amel melanjutkan bicaranya Amel menarik nafas panjang "Aa..ku sekarang hanya manusia yang hidupnya berantakan"
"Jangan bicara seperti ini sayang, Mommy yang harus disalahkan dalam hal ini"
"Tidak Mom, aku memilih jalan ku sendiri dan mungkin kalau Mommy tau aku seperti apa sekarang Mommy tidak akan menganggapku anakmu lagi bahkan kau akan membuangku"'
"Jangan seperti itu"
"Aku bahkan hampir mengkonsumsi obat - obat terlarang, aku hanya seorang tukang cuci piring di sebuah restoran dan aku hanya gembel yang bertahan hidup di kamar kecil yang tidur beralaskan kardus dan gadis sombong yang tidak membutuhkan siapa - siapa" Amel kembali menitikkan air matanya
Fransiska langsung memeluk putrinya "Jangan bicara seperti itu nak, Mommy minta maaf, kamu begini karena salah kami juga"
"Aaa..ku"
"Jangan dilanjutkan nanti kepala mu sakit lagi" Fransiska melepaskan pelukannya lalu memandang anaknya memegang wajah anaknya "Amel sayang kita mulai dari awal, Maafkan Mommy dan Mommy janji tidak akan melakukan kesalahan bodoh itu lagi, tidak akan meninggalkan mu lagi, kami akan menjagamu"
Kini benteng pembatas yang dibuat Amel runtuh, iya sangat merindukan Mommy nya, Amel susah tidak sanggup menahan rasa rindu pada Mommynya, kini Amel memeluk Fransiska sangat erat dan menangis dalam pelukan Mommynya
"Mommy Aa..ku.. merindukan mu hiks.. hiks.. Sangat, hiks...hiks.. Jangan buang Amel Mom.. Amel taakut hiks.. hiks.."
Fransiska membalas pelukan anaknya tak kalah erat "Mommy nggak akan ninggalin kamu sayang, mommy janji" Fransiska mencium pucuk kepala putrinya
Pelayan menghampiri Amel dan Fransiska "Maaf nyonya, diluar ada seorang pria yang mencari Nona muda"
Amel dan Fransiska melepaskan pelukannya
"Siapa bi.??"
"Katanya Kekasih Nona Muda"
"Kekasih, kau memiliki kekasih Nak"
Amel mengangguk "Dia Faiz Mom"
"Jadi kalian..."
"Nanti Amel jelaskan, aku menemui Faiz dulu"
Kemudian Amel masuk kedalam rumah untuk menemui Faiz. Kini Faiz tengah menunggu Amel di ruang tamu
Tidak lama Amel datang, Faiz yang melihat Amel langsung berdiri dan berlari kecil menghampiri Amel kemudian memeluk Amel
"Iz aku sesak" Ucap Amel
Faiz melepaskan pelukannya pada Amel dan langsung menatap wajah Amel "Apa kau baik - baik saja, mengapa kau tak menjawab teleponku, apa kau sudah makan, Apa kau...."
"Iz stop, kalau mau nanya satu - satu, aku pusing mendengar kau mengoceh"
"Maaf sayang aku sangat khawatir padamu"
"Maaf sayang ayo duduk" Faiz sambil melingkarkan tangannya ke pinggang Amel
Amel dan Faiz kemudian duduk di sofa panjang, Faiz terus memeluk Amel "Ihh, Jangan peluk - peluk aku belum mandi Iz"
"Begini juga harum sayang"
"Tapi aku risih dipeluk dalam keadaan begini"
"Nggak apa - apa sayang, menurutku kamu itu mandi dan tidak mandi tetap harum"
"Kamu ini mesum sekali kita belum halal"
"Ini salah kamu pokoknya salah kamu"
"Kok salah aku" Amel bingung dengan ucapan Faiz
"Salah kamu lah, kamu yang menunda - nunda lamaran aku, pake ambil waktu segala"
"Khmmm Khmmm, Jangan terlalu dekat belum muhrim" Fransiska kemudian berjalan menuju sepasang kekasih itu, lalu Faiz melepaskan pelukannya
Faiz menggaruk kepalanya yang tidak gatal "Aunty siska ada disini, hehehe maaf Aunty"
"Halalin dulu anak Aunty baru bisa pegang - pegang, bisa - bisa Daddynya marah kalau putri kesayangannya di pegang - pegang apalagi main nyosor"
"Anak Aunty aja yang selalu nunda aku lamar dia"
"Bukan begitu kita juga baru kenal masa mau langsung lamar aja, kamu tuh bukan hanya Daddy dan Mommy ku saja tapi juga Ayah dan Ibuku juga kau harus ambil hatinya dulu"
"Tapi sayang, kan bisa ambil hatinya setelah kita menikah"
"Dasar beruang" gerutu Amel
"Sudah Mommy mau ke kamar dulu, kalian lanjut kan saja"
"Terima kasih Aunty pengertiannya" kini Faiz tersenyum sambil memperlihatkan giginya
"Sayang, kamu udah nggak apa - apakan, atau kita ke rumah sakit saja aku nggak mau kau kenapa-napa sayang"
"Aku nggak apa-apa Iz, semalam dokter keluarga sudah memeriksaku dan sekarang udah baikan kok, hanya sakit kepala biasa Iz"
Cup
Cup
Cup
Faiz memberikan kecupan bertubi - tubi pada bibir Amel dan Amel terkejut denga sikap Faiz pasalnya iya tengah ada dalam rumah orang tuanya dan bisa malu kalau ada yang lewat
"Apaan sih Iz, kalau ada yang liat kan malu"
"Abis bibir mu itu selalu saja menggodaku"
"Aku nggak ngapa"in kok, kamu aja yang mesum" Kini Amel dibuat kesal Faiz
"Aku mencintaimu, Sangat" Ucap Faiz
"Aku tahu, sekarang kembali lah kekantor mu, kamu jangan khawatir aku baik - baik saja, aku ini anak kesehatan jadi kamu tenang saja"
"Tapi sayang aku ingin berlama - lama denganmu"
"Faiz sayang, cintaku kamu kembali dulu kekantor aku tau kamu sedang meninggalkan pekerjaanmu, aku sudah sehat jadi kamu jangan khawatir"
Cup
Faiz mengecup bibir Amel lagi "Baiklah sayang, aku kembali, dan tolong aktifkan ponsel mu jangan buat aku panik karena tidak ada kabar darimu, kabari aku jika kamu ada apa - apa maka aku akan segera kesini" kemudian Faiz memeluk Amel sebentar
"Baiklah beruangku" Amel tersenyum
Akhirnya Faiz ke kantornya setelah melihat keadaan Amel
"Bi kalau Mommy cari bilang aku di kamar mau istirahat" Ucap Amel kepada Bi irah.
"Baik Nona Muda" Ucap Bi Irah salah satu pelayan di rumah ini. Bi irah adalah adalah orang asli indonesia yang sudah bekerja dari Amel masih kecil
Kemudian Amel naik ke kamarnya menggunakan Lift, Amel ingin beristirahat total hari ini
.
.
.
.
.
#Tbc