Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 169


Perdebatan sepasang kekasih yang membahas soal pernikahan itu terhenti saat mama Reni datang. Azka yang tidur di samping Salsa sembari memeluk pinggang gadis itu segera bangun. Wajahnya memerah karena kedapatan meluk-meluk oleh calon mertuanya. Ea calon mertua nih bos.


"Mama dari mana? Sibuk banget." Salsa mengulang pertanyaan dengan orang yang berbeda.


"Mama ada urusan bentar sama pasien sayang," jawab Reni membuat Salsa mengernyit heran.


"Mama nggak kerja di sini, ngapain ngurus pasien? Bukannya ngambil cuti di kota?"


"Oh itu, Mama bantuin tante Jesy sayang, cuma mantau perkembangan aja. Kamu udah makan Nak? Di luar ada yang nyariin," ucap Reni pada Azka.


"Oh iya Tante." Azka gelagapan. "Sal, aku keluar bentar ya." Pamit Azka sebelum pergi.


Azka bernafas lega setelah berada di luar rungan. Ia mengira Reni akan memarahinya karena meluk-meluk Salsa. Langkah kaki Azka menuju ruang rawat seseorang yang tak jauh dari ruang rawat kekasihnya.


Ya ucapan Reni tentang ada yang mencarinya itu hanya alibi semata. Azka diam-diam menemui Rio. Setelah operasi selesai, ia belum mengunjungi penyelamat kekasihnya.


Ia membuka pintu dan mendapati Rio sedang bersandar dengan benda pipih di tangannya. "Gimana keadaan lo?" tanya Azka berdiri di samping brangkar dengan tangan di masukkan ke saku celananya.


"Lumayan baik, gimana keadaan Salsa? Nggak ada reaksi penolakan 'kan dalam tubuhnya?"


"Hm."


Azka memperhatikan tubuh Rio tidak jauh berbeda sebelum operasi. Tapi bisa di pastikan Rio sudah kehilangan separuh hidupnya dengan kata lain tidak bisa hidup normal seperti manusia pada umumnya.


Rasanya hanya berterimakasih saja belum cukup untuk mengambarkan rasa syukurnya pada Rio yang rela mengorbangkan hidupnya. Ia mengakui rasa cinta Rio begitu besar untuk Salsa.


"Jangan ngeliatin gue sampat segitunya," tegur Rio.


Azka senyum tipis. "Rencana lo kedepannya apa? tanyanya.


"Seperti rencana awal, gue bakal nyusul orang tua gue di luar Negeri. Ingat janji lo, dan jangan sampai Salsa tahu ini," peringatan Rio untuk kesekian kalinya.


"Mama sama Papa lo tau?" intro Azka.


"Terus?"


"Ck, Ternyata lo bego ya Ka, selama ini gue tertipu," decak Rio.


"Sh*it, lo ngatain gue bang*sat?" tanya Azka tidak terima.


Ria mencoba menahan tawa karena rasa sakit bekas jahitannya. "Gue tinggal bilang angkat ginjal karena rusak, susah amat dah," jawab Rio.


"Gue bakal biayain pengobatan lo."


"Nggak perlu, gue masih mampu dan banyak uang kalau lo lupa. Gue bukan orang miskin."


"Yang ngomong lo miskin siapa? Wah lo sakit aja masih belagu ya!" kesal Azka. "Kalau gue nggak ada utang budi sama lo, udah gue bunuh sekarang juga," gerutu Azka.


"Santai woi, masih pagi juga," balas Rio masih dengan senyum jenakanya. Tak pernah menyangka ia dan Azka bisa seakur ini. Biasanya jika bertemu hanya adu jotos hingga salah satu dari mereka terluka.


"Makasih," gumam Azka.


"Gue nggak butuh, mending lo pergi. Takutnya Salsa nyariin," saran Rio di jawab anggukan oleh Azka.


Rio memandangi pintu yang baru saja di tutup oleh Azka. Tugasnya untuk melindungi dan menjaga Salsa sudah selesai, untuk menebus kesalahan yang tak termaafkan yang pernah ia perbuat di masa lalu.


Kini giliran Azka yang menjaga Salsa. Dan menyelesailan misteri yang belum terpecahkan sebelumnya. Rio tahu semuanya, tapi memilih diam saja. Ia yakin Azka bisa menyelesaikannya tanpa memakan korban lagi.


"Semoga kepercayaan gue sama lo nggak sia-sia Ka. Lo satu-satunya orang yang bisa ngalahin dia."


Rio menatap langit-langit kamarnya. Apa yang ia lakukan sekarang, belum sebanding untuk membayar kesalahannya dahulu. Namun, ia lega, setidaknya bisa menebus kesalahnnya sedikit.


"Semoga berbahagia putri cantiknya pak Arion," gumam Rio.


...****************...