
Azka tak langsung pulang setelah dari rumah Salsa, laki-laki itu malah menuju markas bertemu teman-teman rempongnya. Baru saja melewati pintu dirinya di sambut heboh oleh Rayhan dan Rikcy.
"Anjir calon pangantin baru akhirnya datang juga," Heboh Rayhan membuat Azka dan yang lainnya mengernyit heran.
Azka perasaan belum memberitahu siapapun tentang lamarannya hari ini, dan baru berniat membeberkan.
"Tau dari mana lo?" tanya Azka ikut duduk di samping Samuel.
"Jadi beneran lo bakal nikah?" tanya Ricky tak percaya, padahal Rayhan tadi cuma bercanda.
"Iyalah, semua mahluk di bumi akan menikah saat waktunya tiba," jawab Dito yang tiba-tiba bijak.
"Sehat lo To?" Keenan memeriksa Keenan Dito.
"Njirr giliran waras aja, kesehatan gue di pertanyakan," semprot Dito.
"Ka, lo beneran mau nikah?" Kini Keenan yang bertanya.
Azka mengangguk membuat teman-temannya semakin melongo. "Gua bakal nikah tiga hari lagi, jangan lupa pada datang. Jangan nunggu undangan, nggak ada, cuma Akad dulu, setelah ujian baru resepsinya" jawab Azka.
"Anjir ngebet banget lo Ka, napa nggak sekalian setelah ujian aja sih, sisa satu bulan," celetuk Ricky.
"Kalau nganu tuh nggak bisa di tunda Ky, bawaanya pengen nyosor mulu," celetuk Rayhan.
"Iya dah yang pengalaman sebelum nikah," sindir Dito.
"Tunggu, kalau beneran lo mau nikah, tuh muka napa kusut amat bro?" sela Dito.
"Tau di paksa lo? Sama bu ketua 'kan?"
"Dipingit 'kan lo? Mampus nggak bisa ketemu," ejek Keenan.
Disaat teman-temannya sibuk mengoceh tentang pernikahan, yang di bicarakan malah sibuk tiduran di sofa sembari bermain ponsel. Menjawab seadaanya saja. Ia sedang pusing dan kesal karena adat yang tidak jelas itu.
"Sabar pak Ketua, gunanya di pingit biar kalau ketemu rasanya ah mantap." Ricky menepuk pundak Azka.
"Bentar lagi kita bakal punya ponakan nih."
"Heh buat aja belum," sanggah Dito.
"Gue bawa apa ya pas akad nanti?" gumam Rayhan mengelus dagunya seperti bapak-bapak yang sedang berfikir.
Lama Azka di markas hingga memutuskan pulang setelah malam semakin larut. Ia pulang keapartemennya, bukan kerumah. Walau berbaikan dengan sang Papi Azka tidak ingin tinggal disana. Dirinya sudah nyaman di apartemen. Namun, ia berjanji akan sering berkunjung.
Azka merebahkan tubuhnya di ranjang menatap langit-langit kamarnya. Merasa belum ngantuk karena baru jam tidur Bayi kata Rayhan, ia meraih benda pipihnya di atas nakas kemudian menghubungi sang kekasih.
Senyum Azka mengembang saat panggila video call nya di jawab oleh Salsa.
"Aku lagi pakai masker Azka," jawab Salsa sedikit tidak jelas karena masker di wajahnya mulai mengering.
Azka senyum-senyum memandangi wajah sang kekasih, masih belum percaya sebentar lagi mereka akan menikah dan tinggal bersama.
Ia akan memastikan Salsa akan bahagia dibawah tanggung jawabnya.
"Jangan senyum-senyum gitu Ka," tegur Salsa.
"Dulu di suruh senyum, giliran aku udah bisa senyum nggak di biarin," jawab Azka.
"Ya itu, is yang lalu nggak usah di ingat ih," gumam Salsa.
Masih dengan ponsel di tangannya, Salsa berjalan ke tempat tidur dan merebahkan diri sembari menunggu masker wajahnya kering.
"Azka, ngomong, jangan mandangin terus!" perintah Salsa.
"Nggak tau mau ngomong apa," jawab Azka, tatapan laki-laki itu tak pernah lepas dari wajah sang kekasih terlebih di bagian bibir.
"Terus ngapain nelpon?"
"Salah?" tanya Azka balik.
"Ya nggak salah, tapi kalau cuma diam-diaman gini nggak asik."
"Sal dirumah kamu ada tamu? Kok ribut?" tanya Azka saat mendengar suara keribuan.
"Oh itu, tadi Mami kamu datang sama WO buat dekor rumah, padahal Mama bilang nggak usah karena cuma akad," jawab Salsa.
"Mami kita sayang," ralat Azka.
"Kan belum," jawab Salsa.
"Bentar lagi, jadi mulai sekarang harus terbiasa."
"Iya, iya pak ketua."
"Tidur gih, mata kamu udah sayu gitu!" perintah Azka.
"Aku bilas wajah dulu."
"Telponya nggak udah di matiin Sal!"
...****************...