
Azka di hukum sampai jam makan siang. Membuat laki-laki itu tidak bisa bertemu Salsa di kelas. Usai hukumannya berakhir, barulah ketua Avegas itu berlari ke kelas untuk menemui kekasihnya.
Rambut basah karena keringat, membuat kaum hawa yang ia lewati langsung terpesona. Azka begitu tampan saat berkeringan, terlihat cool dan menawan.
Ia mengernyit saat tak mendapati Salsa di dalam kelas. "Kemana makhluk mungil itu?" gumam Azka. "Di kantin kali ya."
Tanpa istirahat terlebih dahulu, Azka memutar tubuhnya dan berlari ke kantin. Ini lah susahnya kalau ponsel Salsa tidak aktif dia harus mondar-mandir seperti orang gila.
"Salsa mana?" tanya Azka pada Alana yang sedang menyantap makan siangnya.
"Lah, harusnya gue ya nanya. Salsa di mana? kok nggak masuk sekolah?"
Deg
Jantung Azka berpacu sangat cepat mendengar kalimat Alana barusan. Jika Salsa tidak ke sekolah, lalu di mana gadis itu berada? Bukankah tadi Salsa menghubunginya dan mengatakan berangkat ke sekolah bersama Mama nya.
Azka mengusap wajahnya kasar. "Sialan!" ump*atnya.
"Kenapa Ka?" tanya Alana.
Azka tak menjawab, laki-laki itu meninggalkan kantin dengan persaan berkecamuk. Dadanya bergemurusuh, perasaanya tidak menentu.
Apa ini yang kamu maksud semalam Sal?
Batin Azka bertanya-tanya. Berjalan dengan langkah lebar menuju parkiran, menghiraukan panggilan sabatnya yang kebetulan berada di depan kelas masing-masing.
"Azka kenapa lagi?"
"Tau, tuh anak aneh banget."
"Azka kamu mau kemana lagi?" tanya pak Bambang.
"Bukan urusan pak Bambang." Dingin Azka.
"Ini urusan saya, kamu tidak boleh pergi sebelum jam pelajaran selesai!" Pak Bambang menghalangi Azka naik ke motornya.
"Bacot lo bang*sat!" betak Azka menarik kerah kemeja pak Bambang lalu menghempaskannya ke samping.
***
Satu tujuan Azka saat ini adalah rumah Salsa, ia berharap gadis itu ada di sana, atau dirinya benar-benar akan gila.
"Den Azka nyari neng Salsa ya?" tanya satpam penjaga rumah Salsa, saat melihat Azka memandangi rumah tanpa penghuni itu, terlihat jelas dengan lampu teras yang menyala.
"Iya pak," jawab Azka.
"Aduh den, Neng Salsa sama Mamanya pergi subuh tadi."
"Kemana?"
"Saya juga nggak tau Den, cuma Neng Salsa nitip rumah aja. Kayaknya pindahan Den, mereka bawa koper lumayan besar.
"Makasih mang."
Azka melajukan motornya menjauhi rumah Salsa, ia menuju tempat lumahan sepi. Mengambil sebatang rokok di dalam tasnya. Menyulut dengan api lalu menyesapnya dalam-dalam.
Di saat-saat seperti ini hanya rokok yang bisa sedikit menengkan hatinya. Di pandanginya hamparan luas penuh akan rumput hijau.
Ia berusaha menghubungi Salsa. Namun, nomor gadis itu berada di luar jangkauan atau tidak terpakai lagi.
"Salsa nggak mungkin ninggalin gue gitu aja, dia pasti ada urusan dan lupa ngabarin gue!"
Di mulut Azka selalu mengumamkan kalimat itu, tapi tidak dengan hatinya yang terasa sangat kacau. Ia ingin menangis juga marah. Namun, tidak tahu harus melampiaskannya kemana.
Pelukan, ciuman Salsa semalam, masih begitu terasa bagi Azka. Senyuman gadis itu terus menari-nari di pikirannya.
Azka tidak ingin percaya bahwa Salsa meninggalkannya begitu saja. Ia mengusap sudut matanya yang basah.
"Sialan lo Sal, buat gue nangis seperti ini. Lo nggak mau liat gue hancur, tapi lo sendiri yang hancurin hati gue."
...****************...