Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 92


Hari senin, semua kembali beraktifitas seperti semula, Alana juga sudah masuk sekolah seperti biasa, sayangnya SMA Angkasa kehilangan dua siswa yaitu Bela dan Leo. Alana tidak menyangka kalau Leo lah pelakunya, karena selama ini laki-laki itu sangat baik padanya maupun Salsa.


Jam istirahat Azka mengajak sang pacar ke kantin, berjalan beriringan sembari mengenggam tangan Salsa.


"Kenapa?" tanya Salsa saat Azka terus menatapnya.


"Kalung lo mana?" tanya Azka.


"Ka ... kalung," gumam Salsa memeriksa lehernya dan tak menemukan kalung pemberian Azka di sana. Ia menelan salivanya kasar, apalagi melihat tatapan Azka. "Itu ... gue ... gue lepas tadi pas mandi takut putus apa lagi ada jam olahraga hari ini," alibi Salsa sembari mengigat-ingat di mana ia menjatuhkan kalung itu.


"Oh kirain hilang," gumam Azka melanjutkan aktivitas makannya.


Maafin gue Ka, gue janji bakal cari kalung itu sampai ketemu.


"Makan Sal, jangan ngeliatin gue mulu!" tegur Azka.


Pulang sekolah, Azka mengantar Salsa pulang terlebih dulu, setelahnya melajukan motor merah itu menuju markas bergabung dengan yang lain. Suara bacotan mulai terdengar diantara para anggota terutama anggota inti.


Azka mendaratkan tubuhnya di sofa tepat di samping Keenan.


"Apa perkembangan belum?"


"Nggak ada, Elang kayak kita juga, pandai nyembunyiin indentitas" jawab Dito.


Elang salah satu pesuruh bayaran sama seperti mereka, selalu berselisih di dunia kriminal. Sayangnya mereka tidak tahu siapa ketua Elang, sama seperti orang lain tidak tahu siapa Ketua Bayangan.


"Tau nggak sih, beberapa hari ini gue sering berpapasan sama Rio di jalan, dia kayak ngasih kode gitu tapi gue nggak ngerti," ujar Ricky tiba-tiba.


"Sama akhir-lahir ini gue liat Rio di sekitar kita," timpal Rayhan dan Dito.


"Leo keluar dari penjara semalam, karena tebusan orang tua nya." Perkataan Azka mengundang perhatian yang lain.


"Kayaknya Rio memata-matai kita deh," tebak Dito asal.


"Intinya jangan sampai lengah sama situasi, dan jangan bepergian sendiri, tau sendiri geng Wiltar hobi keroyokan," Peringatan Keenan. "Terlebih setelah kejadian kemarin, gue yakin mereka dendam."


"Kode yang kalian maksud gimana?" tanya Samuel.


"Ngapain ngebugh bego!" maki Keenan saat Ricky, Rayhan dan Dito saling pandang, maklum otak mereka selalu tidak sampai jika berbicara dengan Samuel.


"Oh kode Rio?"


"Hm."


"Intinya dia kayaknya ngirim sinyal bahaya gitu, nggak tau buat nakut-nakutin atau emang benar." Rayhan mencoba mengingat-ingat kode yang di berikan Rio secara tidak langsung.


"Kayaknya cuma buat nakut-nakutin deh," celetuk Ricky.


"Yoi, secara geng Wiltar kalau mau nyerang, nyerang aja sih, nggak pakai kode-kodean segala."


"Kalian ngeh nggak sih, kalau Rio mau nyampein sesuatu cuma takut ketauan sama seseorang," gumam Keenan. "Semalam gue juga nggak sengaja ketemu dia. Rio nyalip gue terus teriak 'Woi set*an waspada dikit' "


Usai berdiskusi, mereka bubar karena keperluan masing-masing. Langkah Azka terhenti di ambang pintu saat Keenan memanggilnya.


"Kalung Salsa bukan?" tanya Keenan menyerahkan kalung berliontin Angsa putih pada Azka.


"Lo dapat dari mana?"


"Depan rumah gue, kayaknya Salsa nggak sengaja jatuhin pas kerumah ketemu mama gue."


"Thanks." Azka mengambil kalung itu lalu memasukkan di saku jaketnya.


Kenapa lo bohongin gue Sal?


...****************...


Jangan lupa meninggalkan jejak, dan terimakasih untuk dukungan kalian😘