
Hari mulai gelap, Azka memutuskan untuk mengantar Salsa pulang kerumahnya. Ia meminjamkan jaket tebal pada kekasihnya agar tidak masuk angin.
Sesampainya di depan pagar, Salsa seperti engang turun dari motor Azka, terus memeluk laki-laki itu dan menyandarkan kepalanya di pungung Azka.
"Sal, udah sampai. Kamu sebenarnya kenapa, Hm?"
"Oh udah sampai, kirain masih di jalan," cengir Salsa setelah melepas helmnya. "Nggak mau mampir dulu Ka?" tawar Salsa.
"Aneh," gumam Azka mengacak-acak rambut Salsa. "Kamu nggak bosan seharian cuma sama aku di apartemen?" tanya Azka.
"Nggak, malah kurang puas. Malamnya kecepatan," jawab Salsa dengan pipi mengembung.
"Istirahat yang cukup, jangan begadang! Aku jemput besok pagi."
"Azka, kamu nggak ada niatan turun dulu dari motor kamu?" tanya Salsa.
Azka mengernyit, ia hampir gila karena sikap Salsa hari ini. Bukan gila karena Salsa manja padanya, tapi merasa aneh dan takut terjadi sesuatu. Katakanlah ia selalu Negatif thinking pada keadaan.
"Kenapa?" tanya Azka balik.
"Aku masih kangen, meluk kamu untuk terakhir kalinya sebelum pergi." Salsa merentangkan tangannya.
Azka membuang nafas panjang, turun dari motornya kemudian memeluk Salsa. Mengelus punggung mulus kekasihnya.
"Kamu mau kemana, hm? Ini bukan terakhir kalinya kita bertemu, masih ada hari esok dan seterusnya."
"Pelukan terakhir untuk malam ini, 'kan besok lain cerita lagi." Salsa mendongak dengan senyuman, memindai wajah Azka dalam-dalam. Berusaha menyimpan garis wajah itu dalam ingatannya.
Salsa melingkarkan tangannya di leher Azka kemudian sedikit berjinjit. Mengecup benda kenyal tak bertulang itu. Sedikit membenamkannya menunggu reaksi Azka selanjutnya.
"Kamu kenapa?" Azka menjauhkan wajahnya, cukup, kini ia hampir menangis menatap Salsa. "Kamu tau sedari tadi aku ketakutan sama sikap kamu yang berbeda Sal. Kamu kenapa, hm? Kamu bersikap seolah-olah hari ini, hari terakhir kita bertemu. Apa yang sebenarnya Papi aku katakan? Plis jangan buat aku Neting! Salsa ...."
Kalimat Azka tengelam saat Salsa meraup benda kenyal tak betulang Azka yang sedari tadi mengoceh. Walau sedikit kesusahan karena tidak terbisa, ia mencoba memainkan lidahnya di sekitar mulut Azka seperti yang di lakukan laki-laki itu beberapa hari yang lalu.
Lama keduanya saling membelit dan bertukar saliva, hingga Salsa melerai lebih dulu karena hampir kehabisan nafas.
Pipinya bersemu merah dengan nafas terengah-engah, apa lagi saat Azka mengusap sudut bibirnya bekas air liur mereka.
"Manis?" gumam Azka membuat Salsa tersipu malu.
"Sekarang udah tenang?" tanya Salsa.
"Gantengnya Salsa nggak boleh sedih apa lagi nangis. Malu dong sama status nya sebagai ketua geng motor kalau cengeng," ucap Salsa dengan nada sedikit mengejek, merapikan rambut Azka yang sedikit berantakan karena ulahnya.
"Kamu beneran nggak akan pergi 'kan?" tanya Azka memastikan.
Salsa tertawa. "Aku mau pergi kemana lagi Ka? Ke mars? Ya kali. Udah deh, jangan neting mulu. Kamu nggak suka aku manja gitu? Oh yaudah besok-besok aku bakal nyuekin kamu."
"Bukan gitu sayang!"
"Terus gimana sayang?" balas Salsa mengulum senyum.
Salsa merentangkan tangannya. "Sini peluk lagi sebelum pergi."
Dengan patuh Azka memeluk tubuh mungil Salsa. "Jangan tinggalin aku apapun yang terjadi. Kamu tau 'kan aku bakal gila kalau kamu pergi?"
"Is, manja banget. Sekali-kali ngendaliin emosi sendiri tanpa minuman haram, ro*kok, atau aku bisa dong."
"Nggak bisa!"
"Pasti bisa, demi aku. Jangan buat aku kecewa dengan kamu hancur."
...****************...