Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 183


Salsa yang sedang berusaha meraih resleting belakang gaunnya tersentak saat seseorang memeluknya dari belakang. Namun, keterkejutannya tak bertahan lama saat aroma khas tubuh Azka menguar di indera penciumannya.


"Ko ... kok bisa nyusul?" gugup Salsa tanpa membalik tubuhnya, membiarkan Azka terus memeluknya. Laki-laki itu bertumpu dagu di pundak Salsa.


"Siapa yang berani larang aku, Hm?"


"Nggak enak Azka, masa ada tamu kamu tinggal gitu aja," jawab Salsa.


"Bentar doang sayang, aku juga mau ganti baju," gumam Azka, tapi belum juga melepaskan pelukannya, ia sibuk mengendus aroma di sekitar leher sang istri.


Istri? Sepertinya kata itu masih asing di telinga Azka, terlebih mereka masih sangat muda untuk menyandang gelar itu.


"Yaudah sana Azka, aku juga mau ganti baju."


"Yakin nggak butuh bantuan?" goda Azka.


"Ba ... batuin kalau gitu," lirih Salsa, untung saja ia membelakangi Azka.


Dengan seringai liciknya, Azka menurunkan resleting belakang Salsa. Pergerakannya sengaja ia perlambat demi menikmati pemadangan yang mengoda iman. Punggung mulus nan putih Salsa sangat menggoda untuk dicicipi sebentar saja.


"A ... Azka masih siang, bentar lagi juga Adzan dzuhur, nggak mau jum'at an dulu?" peringatan Salsa.


Bulu kudung gadis itu meremang, saat Azka mulai menyuri punggungnya dengan bibir. Dengan mengumpulkan keberanian yang ada dalam dirinya. Ia berbalik kemudian mencium bibir Azka sekilas.


"Suamiku sayang, mandi dulu gih terus siap-siap jum'atan sama yang lain."


"Kali ini kamu lolos," bisik Azka sebelum masuk ke kamar mandi.


Azka gila, ya laki-laki itu sudah gila sekarang. Sulit sekali rasanya untuk mengontrol diri saat berada di dekat Salsa, apa lagi sekarang mereka sudah menjalin ikatan Sah di mata hukum dan agama. Membuat Azka semakin gila.


Rasanya ia hanya punya waktu sebentar saja bersama gadis itu, hingga membuat Azka tidak ingin membuang waktu dengan sia-sia.


Usai membersihkan diri dan mengeringkan rambutnya di kamar mandi. Laki-laki itu keluar hanya menggunakan celana pendek juga baju kaos oblong. Menghampiri Salsa yang sedang berdiri membelakanginya.


"Ngapain?" tanya Azka.


Azka langsung mamasang jubah koko yang sangat pas di tubuhnya. Tak lupa Azka memgambil peci di atas ranjang.


"Tampan banget," puji Salsa. Takjub melihat Azka berpakain seperti itu.


Apa seperti ini gambaran panggeran surga?"


"Tunggu Ka, aku ngambil sajadah dulu." Salsa sedikit berlari ke lemari untuk mengambil sajadah kemudian melipatnya persegi panjang, lalu menyampirkan di pundak sang suami.


"Udah," gumam Salsa.


"Enak ya punya istri, hal sekecil ini aja di perhatiin." Azka mengulum senyum menatap wajah Salsa yang sedari tadi tersenyum.


"Akhirnya halu aku di novel-novel terlaksana, aku bisa bantu suami bersiap-siap sebelum ke masjid."


"Oh jadi aku jadi bahan percobaan gitu?"


"Bu ... bukan Ka, cuma aku ...." Salsa langsung gugup seketika.


"Aku suka, mulai sekarang praktekkan apa yang kamu baca." Azka mendekatkan bibirnya di telinga Salsa. "Termasuk saat pasangan di novel itu melakukan ibadah di malam hari."


"Azka!" teriak Salsa saat Azka berlari keluar kamar, tak ingin tanggung jawab dengan wajahnya yang kini memerah.


Azka menjadi sorotan teman-temannya setelah sampai di lantai bawah.


"Siang pak ustadz," sapa Dito menunduk hormat, jangan lupakan nada bicaranya seperti orang mengejek.


"Anjir, aura pengantin barunya keluar semua menyilaukan mata." Rayhan menutup wajahnya, memperagakan orang yang terkena cahaya yang sangat terang.


"Yang punya istri mah beda, lebih rapi, lebih terawat."


"Bacot kalian, keburu selesai tuh adzannya!" tegur Azka berjalan lebih dulu.


...****************...