
Azka terus memandangi Salsa yang kini mengelus punggung tangannya. Ia menikmati setiap inci wajah gadis yang sangat ia cintai. Benar apa yang di katakan pak Arion dalam mimpinya. Ia tidak boleh pergi sebelum semuanya selesai.
"Kenapa?" Azka memulai pembicaraan karena sedari tadi Salsa diam saja.
"Aku mau marah sama kamu Ka, tapi aku nggak tega liat kondisi kamu sekarang. Aku marah kamu ingkar janji dan ikut balapan tanpa sepengetahuan aku. Lihat apa yang terjadi, tangan kamu patah," ucap Salsa menatap manik teduh yang Azka berikan.
Azka senyum tipis. Untuk pertama kalinya ia sangat bersyukur karena kecelakaan di arena balapan. Banyak keuntungan yang ia dapat dengan kejadian malam itu. Salsa tidak jadi marah padanya, juga ia mendapat perhatian lebih.
"Tapi bukan berarti aku nggak bakal marah sama kamu Ka. Aku akan tetap marah karena kamu ingkar janji. Setelah kamu pulih dan keluar dari rumah sakit, aku mau kita break selama seminggu, nggak ada kabar atau semacamnya!" tegas Salsa.
"Baiklah," pasrah Azka membuat gadis itu menaikan sebelah alisnya bingung. Seorang Azka Afrizal yang hobinya memaksa dan selalu bertindak berlawanan dengan yang di perintahnya patuh begitu saja.
"Sssssttttttt," disis Azka memegangi tangan kanannya yang patah.
Dengan sigap gadis berambut sebahu itu beranjak kemudian membantu Azka bangun. "Bagian mana yang sakit Ka, mau di kompres, atau aku panggilin dokter?" tanya Salsa dengan raut wajah serius.
Tanpa gadis itu sadari, Azka senyum tipis karena berhasil menarik perhatian Salsa. Benar yang ada dipikiran gadis itu, Azka tidak mudah mengalah begitu saja. Azka mengalah karena memiliki rencana yang jauh lebih menjamin.
Dengan pura-pura sakit dan cedera di tangannya tidak sembuh, otomatis Salsa akan memanjakan dirinya juga hubungan mereka tidak break selama seminggu. Dan Azka akan memanfaatkan luka di tangannya itu.
"Tangan aku nyeri dibagian ini," keluh Azka menunjuk lengannya. "Elus dikit biar nyeri nya berkurang," pinta Azka ngelunjak.
Azka tidak bohong dengan tangannya yang terasa nyeri, memang benar tangannya sakit. Namun, Azka bukan laki-laki lemah sampai cedera tangan harus dirawat inap. Ia pernah terluka separah ini, luka tusuk di bagian perut saja dia mampu apalagi cuma tangan.
Tanpa curiga, Salsa menuruti keinginan Azka. Naik ke brangkar yang lumayan besar, kemudian duduk di belakang laki-laki itu agar mempermudah mengelus lengan Azka.
"Ini?"
"Hm."
"Iya, kenapa?"
"Udah makan sama minum obat?"
"Udah. Kamu mau makan?" tanya Salsa balik.
Azka mengeleng. "Yang nyuruh lo duduk di sana siapa?"
"Biar lebih mudah Ka," jawab Salsa.
Azka tidak mengidahkan Salsa, mengeser duduknya setengah berbaring, kemudian menyuruh Salsa untuk bersandar didadanya. Dengan senang hati Salsa melakukan itu, memeluk tubuh kekar Azka.
Menghirup aroma mint di tubuh laki-laki itu. Kehilangan Azka tidak pernah ada di bayangannya, dan melihat detak jantung laki-laki itu berhenti selama beberapa menit membuat Salsa tak kuasa menahan sesak didada.
"Kamu nangis?" tanya Azka.
"Makasih udah mau kembali lagi dan menemani aku di sini Ka. Aku benar-benar takut kamu ninggalin aku tadi," lirih Salsa dalam pelukan Azka.
"Aku nggak suka kamu nangis, kalau kamu lupa Sal. Sebutir air matamu terlalu berharga hanya untuk menangisi sesuatu yang tidak berguna. Aku nggak akan pergi kemana-mana sebelum menepati janji."
"Kamu mau janji nggak akan ninggalin aku seorang diri?" Salsa mendongak menatapa Azka.
"Aku nggak bisa Janji Sal, sekarang tidur, udah malam!" Azka mengecup puncuk kepala Salsa karena tidak bisa mengelusnya. Tangan kiri Azka menjadi bantal untuk gadis itu, sementara tangan kanannya di perban karena patah.
...****************...
Jangan lupa meninggalkan jejak, dan terimakasih untuk dukungan kalian😘