
Kini Amel sudah berada di gedung apartemen Faiz kemudian ia melangkah kan kakinya masuk kedalam lift dan menekan lantai dimana apartemen Faiz berada.
Amel tiba didepan apartemen Faiz, Amel kemudian berfikir sejenak menenangkan hatinya kemudian menekan bel tapi tak kunjung di buka oleh Faiz.
Amel kemudian menekan password apartemen Faiz. Faiz memang pernah memberi tahu Amel tentang Kode password apartemen Faiz.
Ceklek
Amel kemudian masuk "Assalamualaikum Faiz" Amel melihat semua ruangan tapi tidak menemukan Faiz
Kemudian Amel mulai mengetuk pintu kamar "Faiz apa kamu ada didalam" tapi tidak ada balasan dari Faiz
Amel memberanikan dirinya untuk membuka pintu kamar itu.
Ceklek
Lalu Amel berjalan menuju tempat tidur dan melihat Faiz meringkuk kedinginan dibalik selimut.
"Faiz bangun" Amel kemudian meletakkan punggung tangannya kekening Faiz "Astaga badan mu panas sekali Iz"
Faiz yang menyadari keningnya di sentuh seseorang akhirnya membuka matanya perlahan dan melihat sosok wanita yang sangat ia rindukan "Aa..meel" Ucap Faiz pelan
"Faiz badanmu panas banget, kamu udah minum obat" Amel hendak berdiri untuk mengambil air untuk mengompres Faiz tapi tiba - tiba tangannya di pegang oleh Faiz
"Mel ini beneerann Kaa..mu"
"Iya Faiz, ini aku"
Faiz kemudian bangun dan langsung memeluk Amel "Jangan tinggalkan aku, kumohon Mel"
Amel kemudian kembali duduk di tepi ranjang "Aku nggak akan kemana - mana aku hanya ingin mengambil air untuk mengompresmu"
Faiz melepaskan pelukannya "Beneran" kemudian Amel mengangguk
Amel kemudian masuk kembali kekamar Faiz membawa baskom berisi air dan juga handuk kecil. Amel kemudian mengompres kening Faiz dan
Ketika Amel meninggalkannya kedapur Faiz kembali tertidur, tubuhnya begitu sangat lemas, Faiz mengigau dan terus menyebut nama Amel "Mel jangan tinggalin aku, aku mencintaimu Mel"
Seketika air mata Amel jatuh, Amel telah menyakiti orang yang begitu mencintainya "Aku nggak akan ninggalin kamu lagi Iz" Sambil mengusap rambut Faiz
Faiz kembali terbangun "Mel dingin banget, aku ngga kuat" Faiz sudah memakai selimut tebal tetapi Faiz tidak menggunakan baju hanya memakai boxer
Amel kembali mengompres Faiz tapi Demamnya belum juga turun "Iz kamu pak baju dulu yah, pakenya baju tipis"
Faiz menggeleng "Aku nggak suka pake baju kalau tidur Mel, aku ngga nyaman"
"Kalau gitu, aku infus aja yahh biar enakan"
Lagi - lagi Faiz menggeleng "Aku butuh tubuh mu Mel, aku mau dipeluk" Ucap Faiz yang masih meringkuk kedinginan
"Tapi Iz, aku...."
"Nggak apa- apa kalau kamu nggak mau aku ngerti kok" Kemudian Faiz menenggelamkan wajahnya kedalam selimut
Amel merasa kasihan pada Faiz tapi dia juga bingung harus melakukan itu pada Faiz
"Nggak papa Mel, aku masih bisa nahan kok dinginnya lagian juga wajar kamu nggak mau kita kan bukan apa - apa"
"Baiklah Iz, tapi kamu jangan macam - macam" Kemudian Faiz pun mengangguk
Amel melepaskan dres yang ia pakai dan menyisahkan bra dan ****** *****, Amel ikut masuk kedalam selimut, jantungnya berdebar tidak karuan harus berhadapan dengan Faiz seintim ini
"Mel kalau kamu ngga nyaman, nggak usah aku nggak maksa kamu"
"Nggak kok Iz, aku ngga apa-apa"
"Boleh aku peluk kamu sekarang" Ucap Faiz yang di angguki oleh Amel
Amel membalas pelukan Faiz kemudian mereka terlelap bersama hingga menjelang siang hari.
Faiz terbangun duluan, ia merasakan tubuhnya sudah mendingan, lalu Faiz menatap Amel yang masih dalam pelukannya dan kini wajah Amel sudah menempel didada bidang Faiz
Faiz tidak membayangkan bisa berada se intim ini dengan Amel kemudian Faiz mengusap pelan kepala Amel dan mencium pucuk kepalanya
Amel merasa terganggu "Hmm" Kemudian mendongkakkan kepalanya dan menatap Faiz "Kamu udah bangun, udah baikan??"
Faiz mengangguk "Sangat baik" Kemudian Faiz menatap Amel begitu dalam "Makasih yah Mel udah mau bantuin aku walaupun ini terlihat bodoh"
Amel kemudian mengusap wajah Faiz "Maafin aku yah kamu jadi begini"
"Jangan tinggalin aku Mel, aku sangat mencintaimu aku membutuhkan mu"
Amel mengangguk dan tersenyum "Kita mulai dari awal lagi yah, Maafin aku terlalu egois dan hanya mementingkan diriku"
Cup
Satu kecupan mendarat di bibir Amel "I Love You Amelia Jhonson, aku mau kamu jangan nutupin masalah apapun dari aku, karena aku akan menjagamu dari apapun itu walau nyawaku taruhannya"
Amel mengangguk "Love You More Faiz Abraham,"
"Will You Merry Me" Ucap Faiz
Amel membelalakkan matanya "Kamu ngajak aku nikah"
Faiz mengangguk "Kamu maukan nikah sama aku"
"Tapi ngelamarnya kok nggak romantis banget"
"Aku rasa ini sangat romantis dari pasangan lain, coba dehh kamu liat dibalik selimut"
Amel kemudian melihat dibalik selimut dan melihat dirinya dan Faiz hanya memakai pakaian dalam. Amel langsung memukul dada Faiz "Ihh.. Aku bantuin kamu tadi, aku nggak tega liatin kamu, atau kamu memang modusin aku"
Faiz terkekeh melihat ekspresi Amel "Mana ada aku modusin kamu, yang ada tuh tubuhmu hilangin sakit aku"
"Gombal" Amel memalingkan wajahnya
Faiz menarik Amel lebih dekat sehingga dada gunung kembar Amel bersentuhan "Dua minggu lagi kita akan menikah dan itu sudah final, besok aku akan menemui Daddymu"
"Mana bisa siapin semuanya secepat itu Iz"
"Sayang bahkan kalau kau mau besok kita menikah, aku akan suruh anak buahku siapin semuanya"
"Ihh nggak besok juga Iz"
"Yaa udah jangan ngebantah 2 minggu lagi yahh"
Amel mengangguk kemudian memeluk Faiz yang posisi mereka masih dalam keadaan berbaring
Faiz kemudian melonggarkan pelukan Amel san langsung melahap bibir Amel yang sudah sangat ia rindukan kemudian mencium bibir lembut Amel dan Amel membalas ciuman Faiz keduanya saling mengunci dan mel*h*p serta bertukar saliva.
Mereka saling mengecap sampai Amel kehabisan Nafas dan memukul dada Faiz "Hmm"
Faiz kemudian melepaskan ciumannya dan tersenyum "Manis"
"Kalau aku mati kehabisan napas gimana???"
"Yaa nggak akan dong sayang"
"Ya udah bangun mandi, biar aku siapin kamu makan"
Faiz mengangguk terus langsung melesat kekamar mandi kemudian Amel kembali memakai dress nya dan keluar menyiapakan makan untuk Faiz