Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Pary 78


Tangan Salsa di genggam begitu erat oleh laki-laki berwajah datar itu.


"Dia emang cewek gue, kenapa?"


Sontak semua pasang mata kini tertuju pada Azka, laki-laki yang notabenya jarang bicara pada orang lain, kini mengerluarkan kalimat perdana. Mengaku menjadi pacar dari gadis berambut sebahu itu.


Salsa tersenyum bangga menatap Azka sekilas lalu kembali menatap Bela. "Gimana udah jelas, kan? Azka pacar Gu-e." Ia senyum penuh kemenangan.


"Ayo sayang!" Salsa menarik tangan Azka pergi dari kantin, lebih lucunya lagi. Laki-laki itu menurut saja sembari memperhatikan tautan jari-jemari mereka.


"Uwu ... sweet banget si Azka, mana nurut lagi pas Salsa narik." bisik beberapa siswa.


Salsa melepas genggaman tangannya setelah berada di koridor yang sepi, jujur saja sekarang wajahnya memerah menahan malu. Malu karena begitu lancang mengakui Azka di depan semua Siswa hanya karena rasa cemburu yang ia rasakan.


"Azka gue cuma ...."


"Gue suka."


"Jangan tambah buat gue malu Ka." Salsa menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Azka tersenyum sangat tipis, menyingkirkan tangan Salsa dari wajah gadis itu. "Lo lapar, kan? Kita makan di warung bu Warni." Ia menarik tangan Salsa menuju taman belakang tak berpenghuni, lalu keluar dari pagar dan sampai di warung sederhana.


Di sana sudah ada anggota Avegas lainnya terutama anggota inti.


"Lo sering makan di sini?"


"Hm."


"Siang bu ketua!" sapa beberapa Anggota saat Salsa dan Azka memasuki warung.


Salsa hanya melempar senyum lalu duduk di samping Azka yang kini tengah memesan makanan pada wanita paruh baya.


"Ka, tadi lo sama Bela di kantin ngapain?"


"Habis ngajarin dia matematika, bu Rita yang nyuruh. Awalnya ngajar di kelas tapi nggak ada orang, yaudah gue ajak kekanti."


Makana pesanan keduanya datang, Azka memindahkan segala sesuatu tepat di depan Salsa agar gadis itu bisa makan dengan tenang. Azka memilih makan di dalam karena di luar di huni para laki-laki.


"Tolong ambilin itu!" Menunjuk sambel di samping Azka.


"Jangan ada yang ngerokok!" tegur Azka saat mendapati Asap rokok di warung itu.


"Siap pak ketua!" Buru-buru anggota mematikan rokok masing-masing, terutama Rayhan. Bisa di pastikan laki-laki itu kehilangan motor saat ayahnya tahu.


"Azka lo juga ngerokok?" tanya Salsa sembari menyuap makanan ke mulutnya.


"Hm."


"Ka, lo tau itu ...."


"Gue tau, sangat." Potong Azka. "Cuma sesekali saat butuh aja, nggak tiap hari."


"Boleh gue ngelarang lo ngerokok?"


"Boleh, cuma di depan lo kan?"


Salsa merengut entah kalimat itu candaan atau serius keluar dari mulut Azka. Susah banget punya pacar berwajah datar.


"Gue nggak ngizin lo ngerokok, baik di depan gue atau di belakang gue, titik!" tekan Salsa.


Jika seseorang marah saat dilarang ini itu, maka tidak dengan Azka, laki-laki itu terlihat tenang dan santai, toh itu untuk kebaikannya.


"Gue bakal berhenti, tapi apa lo mau jadi gantinya saat gue butuh?"


"Saat butuh?"


"Temenin gue!" lirih Azka.


Rokok hanya untuk pelarian Azka dari masalah yang selalu ia pendam sendiri. Hanya merokok bisa menenangkan pikirannya selain Salsa.


"Pasti, gue bakal selalu ada di sekitar lo."


...****************...


Jangan lupa meninggalkan jejak😊