Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 144


"Ada apa kau bertamu malam-malam seperti ini?" tanya Ans pada orang suruhannya.


Pria paruh baya itu beranjak dari meja kerjanya, kemudian duduk di sofa. "Duduklah!" perintah Ans, di jawab dengan pergerakan tubuh oleh orang suruhannya.


"Kali ini kau membawa kabar apa lagi tentang anak itu?" tanya Ans dingin, ia sudah muak mendengar Azka semakin jauh dari jangkauannya.


Ans hanya ingin anaknya hidup bahagia suatu hari nanti dengan mengikuti semua kemauannya. Serius sekolah dan mendapatkan nilai yang baik. Menjadi Ceo muda dengan kecerdasan di atas rata-rata.


"Tuan, malam ini Tuan muda sedang merayakan hari ulang tahun di lapangan ... dengan teman-temannya yang lain." Orang suruhan Ans memberikan beberapa foto pada Ans.


"Tuan muda merayakan hari ulang tahun gadis bernama Salsa sekaligus melamarnya," lanjut pria yang lebih muda 2 tahun dari Ans.


"Ada lagi?" tanya Ans dengan suara dinginnya.


"Hanya itu Tuan."


"Pergilah!" perintah Ans.


Tepat setelah pintu tertutup, Ans melempar vas bunga di atas meja hingga tak berbentuk lagi. Tangannya terkepal memandangi semua foto-foto Azka yang sedang berpelukan dengan Salsa. Tertawa bahagia dengan anggotanya yang lain.


"Beraninya kau menentang keinginan Papi Azka!" geram Ans, giginya bergemelutuk dengan rahang mengeras menahan emosi


"Kau melamar perempuan tanpa sepengetahuan Papi."


"Ans! Apa kamu masih di dalam?" teriak Tari di balik pintu saat mendengar suara pecahan.


Ans dengan sigap menyembunyikan foto-foto Azka dan yang lainnya. Jangan sampai istrinya tahu bahwa ia memata-matai putranya sendiri.


Ans merasa semua yang di lalukan Azka bukan yang terbaik. Ia hanya menganggap rencananya lah yang terbaik untuk Azka.


"Iya sayang, masuklah!" perintah Ans.


Ia sebagai ibu bahagia mendengar putranya bahagia. Senyum di bibir Tari tak bertahan lama saat menyadari mata merah Ans, belum lagi pecahan vas yang berserakan, mungkin suara itu yang ia dengar tadi .


"Ada masalah?" tanya Tari ikut duduk di samping suaminya.


"Tidak ada, aku tidak sengaja menyenggol vas bunga itu. Ada apa Hm? Sepertinya kamu sangat bahagia."


Aku sangat bahagia Ans. Untuk pertama kalinya putraku tersenyum sangat lebar tadi saat menelponku. Senyuman yang baru kali ini aku lihat setelah insiden kamu menyiksanya di gudang. Bahkan kamu menyalahkan Azka atas keguguran yang aku alami. Padahal aku jatuh sendiri dari tangga bukan karena Azka.


"Sayang!" panggil Ans membuyarkan lamunan Tari.


"Aku bahagia karena menang lagi di persidangan," jawab Tari berbohong.


"Selamat sayang, aku bangga sama kamu."


Tari mendongak, menatap Ans sangat dalam. Suaminya banyak berubah setelah Azka beranjak besar. Ans tidak pernah suka jika ia terlalu perhatian pada Azka di banding dirinya.


Rasa cinta Ans terlalu besar untuknya, sampai cemburu buta dengan putranya sendiri. Rasa cemburu itulah yang membuat Ans jadi seperti ini. Selalu kesal dan emosi setiap melihat putranya sendiri.


"Sampai kapan kamu akan bertengkar dengan Azka, Ans? Apa kamu tidak rindu dengan kebersamaan kita dulu?" gumam Tari.


"Aku sudah menurutimu untuk tidak terlalu dekat dengan putra kita Ans. Jadi sekarang aku minta kamu berhenti cemburu tidak jelas seperti ini. Kamu tidak tahu betapa menderitanya putra kita."


"Sepeduli itu kamu sama Azka, Tari? Aku suamimu bukan Azka."


"Ans, Azka putra kita, aku ibunya. Jadi wajar kalau aku perhatian sama dia. Tapi percaya, cinta aku sama kamu jauh lebih besar Ans."


"Sudah malam, sebaiknya kamu tidur!" dingin Ans.


...****************...