Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 148


Salsa memandangi rumah mewah dan luas di hadapannya setelah turun dari taksi. Untuk pertama kalinya ia berkunjung kerumah Azka setelah beberapa bulan kenal.


Ia datang kerumah mewah itu atas undangan dari Ans semalam, itulah mengapa Salsa berbohong pada Azka bahwa ada urusan keluarga. Ia tidak ingin Azka mengetahui kalau Ans mengajaknya bertemu.


Dengan degup gantung yang tak karuan juga sedikit keringat dingin di kepalan tangannya, Salsa melangkahkan kaki mendekati pagar yang sangat tinggi. Ia tidak pernah bertemu dengan Ans sebelumnya, ia hanya tahu sosok pria paruh baya itu lewat teman-teman Azka.


Senyumnya mengembang saat satpam di pagar menyapa.


"Ada yang bisa saya bantu Nona?" tanya satpam ramah.


"Saya ingin bertemu Tuan Ans. Saya sudah membuat janji," jawab Salsa.


"Oh Nona Salsa? Saya sudah menunggu kedatangan anda sedari tadi." Satpam itu mempersilahkan Salsa masuk.


Jantung Salsa semakin tidak menentu setelah sampai di depan pintu utama. Dengan tangan bergetar ia memencel bel, hanya satu kali hingga wanita cantik yang sering ia temui membuka pintu.


"Tante." Salsa menunduk hormat.


Tari membulatkan matanya kaget, tidak menyangka pacar putranya datang bertamu pagi-pagi seperti ini. Ia ternyum menyambut kedatangan Salsa.


"Datang sama siapa? Azka mana nak?" tanya Tari.


"Azka di sekolah tante, Salsa kesini mau ketemu om Ans. Semalam om Ans telpon Salsa katanya mau ketemu," jawab Salsa sedikit ragu.


Tari terdiam, menatapa wajah pias Salsa.


Apa lagi yang akan di lakukan Ans?


"Benarkah? Bisa-bisanya tante nggak tau bakal kedatangan tamu. Kalau tau gini Tante masak makanan spesial buat kamu. Tunggu di sini, tante mau ngabarin Azka dulu."


"Jangan tante!" cegah Salsa.


Tari mengernyit. "Azka nggak tau kamu kesini?" Herannya, di jawab gelengan oleh Salsa.


Dengan berat hati dan sedikit prasangka buruk, Tari menemani Salsa menuju ruang kerja suaminya. Ia ingin tinggal tetapi Ans menyuruhnya keluar kerena ingin berbicara berdua saja bersama Salsa.


Di sekolah, Azka tidak fokus belajar di pikirannya selalu tentang Salsa dan Salsa. Bahkan saat di kantin bersama yang lain, Azka hanya memperhatikan ponselnya berharap gadis itu menghubunginya. Namun, tidak. Ponsel gadis itu bahkan tidak aktif.


"Napa lo? Kusut amat, dari tadi ngelamun mulu," tegur Rayhan.


"Baru di tinggal sehari aja udah kusut gini, gimana di tinggal beneran, mungkin gila," sindir Ricky.


"Bacot kalian!" Azka beranjak tanpa menghabiskan makanannya, membuat yang lain melongo tak percaya.


"Mua kemana Ka?" tanya Keenan.


"Pulang!" jawab Azka.


"Kenapa dia?" tanya Dito pada yang lainnya.


"Salsa nggak masuk sekolah karena ada urusan keluarga, mungkin itu yang buat Azka galau."


"Buset dah, si bucin."


Jika inti Avegas sibuk gibah di kantin, lain halnya dengan ketua Avegas. Ia segera menghubungi anggota yang hari ini bertugas memata-matai Salsa dari jauh.


Perasaannya dari pagi tidak enak, seperti akan terjadi sesuatu, itulah mengapa Azka tidak fokus.


"Lo tau dimana Salsa?" tanya Azka setelah sambungan terhubung.


"Lo nggak tau? Salsa kerumah lo dari pagi," jawab anggota Avegas di seberang telpon.


"Siala*n!" umpat Azka langsung memutuskan sambungan telponnya.


Pantas saja perasaanya tidak enak, ternyata Salsa mengunjungi neraka yang telah di buat oleh Papinya. Tak peduli dengan teriakan pak Bambang yang mengancamnya di hukum karena berani bolos. Azka melajukan kuda besi berwarna merah itu meninggalkan SMA Angkasa menuju rumahnya.


...****************...