Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 111


Pulang sekolah, Rayhan iseng bertandang kerumah Giani hitung-hitung mendekatkan diri dengan calon mertua. Ia menyugar rambutnya kebelakang agar terlihat keren sebelum turun dari motor. Dengan gaya tengil ia memencet bel rumah bertingkat dua bernuansa hitam keemasan.


"Sore tante," sapa Rayhan saat pintu dibuka oleh wanita paruh baya.


Wanita paruh baya itu hanya menanggapi dengan senyuman. "Nyari siapa Nak?"


"Gianinya ada tante? Saya temannya."


"Oh Giani, lagi keluar. Tante suruh beli bahan kue. Kalau mau nunggu masuk aja!" ajak Wirda mama Giani.


Dengan senang hati Rayhan masuk kerumah Giani, rumah yang cukup mewah dan sangat rapi. Bisa dipastikan calon pacarnya rajin.


Fiks calon ibu yang baik untuk anak-anak gue.


"Tante tinggal sebentar ya."


"Iya tante."


Rayhan mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan, kalau saja ia tidak punya malu, ia akan berlari masuk ke kamar calon pacarnya. Hampir setengah jam ia menunggu, tapi Giani belum memunculkan batang hidungnya. Ngantuk karena begadang, Rayhan mengambil posisi nyaman untuk tidur sembari menunggu calon pacarnya datang.


Hembusan napas yang sangat wangi menerpa wajah Rayhan. Ia membuka mata dan mendapati Gini menatapnya sangat intens.


"Ya! Lo ngapain tidur dirumah gue!" sentak Giani buru-buru menghindar saat Rayhan membuka mata. Niat hati ingin mengagetkan, malah ia yang kaget sendiri.


Rahyan mengusap kedua matanya, mengumpulkan nyawa yang terbang entah kemana. "Untung jantung gue masih sehat Gi," gerutu Rayhan.


"Ngapain lo di rumah gue? Ini udah malam, sana pergi! Dara cowok murahan, main kerumah cewek sampai malam!" ejek Giani.


"Cowok murahan nggak tuh?" Rayhan mengulum senyum.


"Terserah, sekarang lo keluar dari rumah gue!" Giani menarik tangan Rayhan agar segera beranjak dan keluar dari rumahnya.


"Lo dari mana sampai pulang malam? Lo nggak tau gue nunggu disini dari sore?"


"Bodoh, gue nggak nyuruh lo nunggu."


"Tapi calon mertua gue yang nyuruh nunggu, gimanasih calon pacar gue ini."


"Gue nggak mau pacaran! Kalapun gue mau pacaran, gue nggak bakal pacaran sama buaya kayak lo."


"Setiap tikungan Ada," cibir Giani. "Buruan pergi, ntar tetangga gue mikir yang macam-macam lagi. Mana mama gue baru aja pergi."


Rayhan menghela nafas panjang saat Giani menutup pintu kasar.


"Gini amat punya calon pacar galak, sampai di usir," gumam Rayhan.


Baru saja akan memasang helm, seseorang memanggil namanya. Ia menoleh dan mendapati Giani berjalan mendekat dengan wajah cemberut.


"Rayhan. Lo lapar belum makan malam kan?" tanya Giani.


Rayhan mengernyit, bulu kuduknya meremang, untuk pertama kalinya seorang Giani bertanya seperti itu padanya.


Jantung oh jantung.


Rayhan memegangi dadanya. "Kenapa kalau gue belum makan?" Ia memasang wajah cool, walau tak di pungkiri hatinya sedang berbunga-bunga.


"Yaudah, masuk aja gue buatin lo makan malam!" ajak Giani.


Rayhan menatap curiga pada Calon pacarnya. "Lo nggak lagi ngerencanain sesuatu buat racunin gue kan?"


"Ide lo bagus juga." Rayhan menelan salivanya kasar. "Buru atau gue berubah pikiran!" ancam Giani.


Tanpa menjawab, Rayhan kembali masuk kerumah Giani tanpa dipersilahkan terlebih dahulu, duduk disofa menunggu calon pacarnya datang.


"Udah Ma, Rayhan udah balik lagi."


" .... "


"Iya, ini Giani mau masak untuk makan malam, udah ah. Mama bawel banget," geurut Giani memutuskan sambungan telponnya. Kalau saja bukan Mama Wirda yang menyuruhnya memanggil Rayhan kembali. Giani mana mau repot-repot masak untuk Rayhan.


Sialan keburu Geer gue, tenyata Giani disuruh sama Mama. Tapi nggak papa lah, kapan lagi diperhatiin calon mertua, ples makan malam sama calon pacar.


"Nggak usah senyam-senyum gitu," tegur Giani.


...****************...


Jangan lupa meninggalkan jejak, dan terimakasih untuk dukungan kalian😘