Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 93


Sepulang sekolah, Salsa bersiap-siap dengan setelah hitam untuk kesuatu tepat, ia juga tak lupa memberitahu Azka bahwa akan pergi walau laki-laki itu dingin padanya.


Dengan langkah sangat lambat, Salsa memasuki sebuah pemakaman umum yang sangat sepi, hari ini adalah hari kematian ayah tercinta. Gadis itu berjongkok tepat di samping makam sang ayah, mengelus batu nisan dengan air mata mulai mengalir membasahi pipi.


"Asya nangis lagi Pa, maaf aku ingkar janji untuk nggak nangis kalau ketemu papa," ucap Salsa.


"Maaf Pa, Asya telat datang, nggak sama Mama juga, tapi tenang aja Asya bakal lama di sini nemenin papa." Salsa mengusap kasar air mata yang terus membasahi pipinya.


"Asya kangen sama Papa, Asya kangen di peluk sama Papa kalau nangis gini." Salsa semakin terisak di samping makam Ayahnya. Air mata tak henti-hentinya membanjiri wajah gadis berambut sebahu itu.


Kenangan bersama pak Arion kembali berputar di kepala Salsa bagai film.


"Papa janji bakal pulang cepat?" tanya Salsa di ambang pintu setelah menangis tak mengizinkan ayahnya pergi malam itu.


"Papa janji akan pulang sayang, kamu mau apa?"


"Aku mau bonek yang besar, sebesar badan Papa biar bisa di peluk kalau Papa pergi."


"Permintaan di proses komandan, Papa pergi dulu." Arion pergi setelah mengecup kening Salsa juga Mama Reni.


Siapa yang menyangka malam itu adalah malam terakhir Salsa bertemu ayahnya, bukan kabar kepulangan yang ia terima, melainkan kabar duka tentang kecelakaan sang Ayah.


"Papa, Asya udah besar dan udah punya pacar, Papa tahu, pacar Asya sangat tampan tapi dia ketua geng motor, maaf melanggar perintah Papa untuk tidak berurusan dengan anak-anak nakal. Asya cinta sama Azka."


"Tapi tenang aja Pa, Azka anak baik nggak nakal seperti yang lain, Azka jagain Asya sangat baik, jadi sekarang Papa bisa tidur dengan tenang di sana."


Langit mulai menguning, sebentar lagi akan malam, Salsa pamit untuk segera pulang kerumah pada sang Ayah. Karena sudah sore, Salsa memutuskan akan bermalam di Bandung dan akan pulang besok saja, terlebih ia rindu suasa rumahnya di sini. Rumah penuh kenangan sang Ayah.


Sebelum pulang, Salsa singgah si sebuah laut yang tak jauh dari pemakaman, duduk di atas pasir menikmati keindahan senja. Mentap lurus kedepan, di pikirannya terus berputar wajah sang ayah yang terus tersenyum menyemangati. Ia rindu sosok pelindung itu.


"Udah gue duga lo pasti ada di sini," ucap seorang laki-laki ikut duduk di samping Salsa.


"Keen? Ngapain ke bandung?"


"Ketemu sama Papa, nggak boleh?" jawab Keenan menatap lurus kedepan.


"Gue kira lo udah lupa sama Papa," gumam Salsa.


"Dalam rangka?" Salsa mengeleng. Ia menatap Keenan dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Boleh gue panggil lo Iyan hari ini aja? Selain gue rindu sosok Papa, gue juga rindu sama sosok Iyan," pinta Salsa.


Keenan bergeming, bimbang untuk menerima permintaan Salsa, di sisi lain ia kasian melihat Salsa apa lagi mata gadis itu sudah bengkak karena menangis. Di sini lain ia tidak mau sahabatnya salah paham jika melihat ini. Bisa di pastikan jika ia mengangguk, Salsa akan memeluknya seperti yang selalu gadis itu lakukan saat mereka masih bersama.


...****************...


Jangan lupa meninggalkan jejak, dan terimakasih untuk dukungan kalian😘