Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 90


Baru saja akan menapaki anak tangga, suara ketokan pintu kembali terdengar, Salsa berbalik dan memandangi pintu itu.


"Siapa lagi? Buka apa jangan ya?" gumam Salsa. "Buka aja deh belum terlalu malam juga."


Salsa memutuskan membuka pintu, tersenyum ramah pada cowok yang sedang berdiri tepat di depan pintu.


"Kenapa Kak?" tanya Salsa.


Laki-laki jakung itu memberikan kresek yang entah apa isinya. "Gofood, mbak," ujar laki-laki itu.


"Maaf kak, kayaknya salah orang deh, saya nggak pesan apa-apa." Salsa menolak pemberian laki-laki itu.


"Tapi alamatnya sudah benar di sini mbak, atas nama Azka Afrizal," ucap laki-laki itu kembali membaca alamat juga nama pemesan.


Senyum Salsa mengembang mendengar nama Azka di sebut, ia meraih kantong kresek itu. "Maaf kak, orangnya nggak ngabarin, makasih ya,", ucapnya.


"Sama-sama mbak, mari." Sopan laki-laki itu setelahnya naik ke motornya dan berlalu pergi.


Salsa kembali mengunci pintu rapat-rapat berjalan ke meja makan untuk melihat isi kresek itu. Azka selalu tahu waktu makannya, jika tidak sempat mengajaknya keluar maka laki-laki itu akan memesan makanan untuknya.


Usai makan malam seorang diri Salsa kembali ke kamarnya, mengunci pintu kamar rapat-rapat seperti biasa, duduk di pinggir ranjang sembari bermain ponsel. Memeriksa apa saja yang di bicara di grub kelas, merasa tidak penting, Salsa menyimpan benda pipih itu dan masuk kekamar mandi untuk cuci muka dan yang lainnya.


Azka is calling ....


Azka is calling ....


Azka is calling ....


Tiga panggilan tak terjawab.


Salsa kembali menghubungi sang pacar atau ia akan mendapat amukan karena tidak menjawabnya.


"Kemana?" tanya Azka di seberang telpon setelah sambungan terhubung.


"Habis dari kamar mandi tadi," jawab Salsa, membaringkan tubuhnya di kasur. "Azka makasih makan malamnya, enak banget."


"Hm."


"Oh iya, makasih juga kalungnya, cantik banget lo udah liat, kan?"


"Lo suka?"


Hening tak ada lagi yang bersuara, padahal sambung masih terhubung, baik Azka dan Salsa sama-sama terdiam, mungkin kehabisan topik.


"Azka!"


"Hm."


"Gue cantik?" tanya Salsa tiba-tiba.


"Nggak."


Salsa hanya bisa menghela nafas panjang, salahkan dia karena bertanya pada cowok cuek seperti Azka.


"Beneran gue nggak cantik? Terus lo suka sama gue karena apa?"


"Jelek dan ceroboh," jawab Azka.


"Ais lo nggak bisa apa muji gue gitu, setidaknya lo ngomong cantik walau bohong," cemberut Salsa tanpa Azka lihat. Mungkin jika ketua Avegas itu melihatnya dia akan gemas.


"Rencanya mau open Bo tapi karena jelek ya udah lah, nggak mungkin laku juga."


"Salsa Natasya Anjani!" teriak Azka diseberang telpon, membuat Salsa segera menjauhkan ponsel itu dari telinganya, atau gedang telinga Salsa akan pecah. "Lo butuh berapa, Hm? Gue sewa lo malam ini sampai pagi." Suara Azka terdengar dingin.


"Gue ... gue cuma bercanda Ka, ya kali," gugup Salsa, niatnya hanya bercanda tetapi Azka malah marah.


"Tidur!"


"Iya ini udah siap tidur, gue matiin ya."


"Lampu lo masih nyala."


"Azka jangan bilang lo ...." Salsa beranjak dari tidurnya, berlari ke balkon dan berdiri di sana. Benar dugaanya, Azka ada di depan pagar.


"Ka, lo ngapain di sana, hujan deras, kalau lo sakit gimana? Pulang!" pinta Salsa, untung saja laki-laki itu naik mobil.


"Masuk dan tidur!"


...****************...


Jangan lupa meninggalkan jejak, dan terimakasih untuk dukungan kalian😘