
Alana sontak tertawa, melihat ekspresi Azka yang sangat kusut seperti baju tidak pernah di setrika.
"Ngapain ketawa?" tanya Azka
"Kenapa nggak nolak?" Bukannya menjawab Alana kembali mengulangi pertanyaannya.
"Gue punya alasan kenapa nggak bisa nolak perjodohan ini. Lo nggak perlu tahu!" Tatapan Azka fokus pada dedaunan yang begerak di terpa angin malam.
"Gue mau lo nolak Perjodohan ini. Lo anak kesayangan Ayah, pasti mereka nggak maksa lo," lanjut Azka.
"Tanpa lo suruh gue bakal ngelakuin itu. Gue tahu lo cinta banget sama Salsa. Dan lo tahu?" Alana mengantung kalimatnya. "Dia juga cinta banget sama lo Ka."
"Gue tahu," sahut Azka senyum miring.
"Nah kan kumat," cibir Alana.
Azka bangkit dari duduknya, kemudian memandangi gadis yang akan di jodohkan denganya. "Perkataan gue ini mungkin egois dan bukan diri gue Al. Tapi gue tarik semua kata-kata gue pas di taman belakang sekolah. Gue mau lo nikah sama pak Alvi dengan begitu kita tidak perlu di jodohkan lagi."
Bukannya kecewa, Alana malah mengembangkan senyumnya, entah ancaman apa yang di pakai Om Ans hingga membuat ketua Avegas yang terkenal kejam tak berkutik.
"Lo tenang aja, gue janji perjodohan ini nggak akan terjadi," ujar Alana dengan senyum.
"Thanks."
"Gue ngantuk Ka," Alana mengambil lengan Azka kemudian menyandarkan kepalanya di pundak Azka. Hal yang selalu dia lakukan jika jalan bersama ketua Avegas.
Jika ada yang mengatakan kedekatan Cowok dan Cewek mustahil akan terjalin tanpa perasaan. Maka Alana adalah orang pertama yang akan menyangkalnya, puluhan tahun bersahabat dengan Azka tak pernah sekalipun terbesit perasaan cinta dalam hatinya.
Tanpa mereka berdua tahu di seberang jalan, Salsa sedang menatap mereka dengan tatapan yang sulit di artikan. Jadi ini alasan Azka tak membalas pesannya? Karena pergi bersama Alana, dan malah bermesraan di taman berdua saja. Hati Salsa semakin hancur saat melihat orang tua Alana juga Azka keluar dari restoran dengan senyuman bahagia.
Tak ingin melihat kisah selanjutnya antara kedua kerluarga harmonis dan dari kalangan atas yang tak tergapai olehnya. Salsa berlari entah kemana asal tidak melihat kedekatan Azka bersama orang tua masing-masing.
Berjongkok di balik pohon yang lumayan besar, menangis sejadi-jadinya. Apa yang ia takutkan terjadi, Azka di jodohkan oleh sahabatnya sendiri.
"Apa gue sanggup liat sahabat gue nikah sama pacar gue?" gumam Salsa menghampus air matanya kasar, tapi tetap saja pipinya kembali basah karena air mata.
Rio yang sedari tadi mengejar Salsa ikut berjongkok di depan gadis itu, menghapus air mata Salsa dengan ibu jarinya.
"Gue harus gimana Yo? Gue cinta sama Azka," lirih Salsa menatap Rio yang kini juga menatapnya.
"Kenapa gue harus jatuh cinta sama orang yang jelas-jelas kastanya sangat berbeda. Mama gue hanya seorang dokter, dan keluarga mereka pengusaha besar." Isak tangis Salsa semakin jadi.
"Jangan katakan lagi!" pinta Rio.
"Gue cinta sama Azka yo, gue sayang sama dia," lirih Salsa.
"Jangan katakan lagi Sal!"
"Gue suka sama Azka," lirih Salsa.
"Udah Sal, lo nggak tau gimana sakit hatinya gue dengar pengakuan lo ini! Kenapa harus Azka? Kenapa nggak sama gue? Gue janji bakal bahagiain lo."
Lagi kata itu hanya bisa bersarang di kepala Rio.
"Kenapa lo harus ngomong seperti ini di depan gue?"
***
Usai makan malam selesai dan tanggal pertunangan telah di tentukan, Azka ikut pulang dengan orang tuanya. Di jalan ia tak sengaja melihat seorang gadis berjongkok di bawah pohon yang sedikit gelap bersama seorang cowok.
"Kenapa gadis itu mirip dengan Salsa?" batin Azka.
Tak yakin bahwa itu Salsa, Azka menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, semoga ucapan gadis manja tadi bisa di pegang bahwa pertunangan ini tidak akan terjadi.
Tanpa banyak bicara, Ans mengembalikan benda pipih itu pada putranya. Dengan segip Azka membuka aplikasi hijau dan mendapati beberapa pesan dari kontak yang ia sematkan.
"Pasar malam di alun-alun kota?" gumam Azka.
"Berhenti!" perintah Azka pada sang sopir membuat Mami dan Papinya menoleh.
"Mau kemana kamu Azka?" tanya Ans saat mobil berhenti dan Azka buru-buru melepas seatbeltnya.
Azka tak menyahut, berlari sekencang mungkin menyusuri pinggir trotoar. Pikirannya tertuju pada gadis yang sedang berjongkok di bawah pohon bersama seorang laki-laki. Alun-alun kota sangat dengan dengan restoran tempatnya makan malam tadi. Dirinya yakin gadis yang ia lihat tadi adalah Salsa.
"Salsa!" panggil Azka dengan nafas terengah-engah saat gadis itu akan melangkah pergi dengan Rio. Untung saja ia datang tepat waktu.
"Azka?" beo Salsa.
Azka mendorong tubuh Rio agar menjauh dari Salsa, menarik tangan gadis itu dari genggaman Rio.
"Lo lupa kalau Salsa pacar gue?" tanya Azka tanpa ekspresi, hanya keringat bercucuran di kening laki-laki itu, juga kemeja hitam yang ia pakai sedikit basah karena berlari hampir satu kilo meter.
"Lo masih ingat punya pacar setelah bermesraan di taman dengan cewek lain?" balas Rio dengan seringai liciknya. Hatinya ikut sakit saat melihat Salsa terisak bahkan sampai sulit mengambil nafas hanya karena menangisi cowok seperti Azka.
Bugh
Bogeman mendarat tepat di wajah Rio.
Bugh
Kepala Azka tertoleh saat Rio mengembalikan pukulan. Ia menarik kerah Rio, hendak melayangkan tinju sekali lagi tapi suara Salsa menghentikan aksi keduanya.
"Udah!" lerai Salsa dengan suara bergetar.
"Pulang sama gue!" Kedua laki-laki tampan itu menarik tangan Salsa, membuat gadis itu kebingungan sendiri. Lama Salsa berpikir hingga ia yakin dengan pilihannya.
Salsa melepas genggaman tangan Rio, mungkin dengan begini tak ada perkelahian lagi, ia tahu Azka akan berbuat sesuatu jika ia memilih pulang dengan Rio.
"Gue pulang sama Azka, maaf Yo," ucap Salsa sedikit tak enak.
"Ok," jawab Rio dan berjalan menjauhi sepasang kekasih itu dengan penuh kekecewaan juga amarah. Entah Salsa bodoh atau apa, walau sering tersakiti karena Azka tetap saja ingin kembali.
Azka menyetop taksi lalu naik bersama Salsa karena ia tidak membawa mobil atau motor. Di dalam taksi, Azka terus menatap Salsa yang kini menundukkan pandangannya.
Ia menarik dagu Salsa agar mendongak dan membalas tatapannya.
"Lo habis nangis?" tanya Azka.
Salsa mengeleng menepis tangan Azka dan kembali menunduk.
"Gue nggak papa," lirih Salsa.
"Salsa!"
"Gue mau putus Ka," lirih Salsa.
"Nggak, sampai kapanpun gue nggak mau putus sama lo. Bilang sama gue, di mana letak kesalahan gue Sal," pinta Azka mengenggam tangan Salsa sangat erat.
"Lo nggak punya salah, lo penyayang, perhatian walau sedikit cuek. Perempuan akan sangat beruntung kalau depatin lo Ka. Gue yang salah karena suka sama lo," jawab Salsa. Perasaan insekyur gadis itu sangat besar pada dunia membuatnya selalu goyah dengan keadaan, apa lagi saat melihat saigannya jauh berada di atasnya.
"Kalaupun ada perempuan beruntung seperti yang lo katakan. Maka orang itu adalah lo sendiri, bukan yang lain," jawab Azka.
...****************...
Jangan lupa meninggalkan jejak