Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 100


Bukan lagi bagian dari Avegas, Keenan tak lagi berkumpul di markas, pulang sekolah ia langsung kerumahnya. Sekarang ia sudah kehilangan rumah keduanya hanya karena kesalahpahaman, di jelaskan bagaimanapun, Azka tidak akan mengerti jika situasi seperti ini. Keenan memilih diam, bukan untuk mengalah. Namun, untuk mengamankan situasi yang ada, jangan sampai berita keretakan Avegas terdengar hingga ketelinga Leo.


Mata yang semula terpejam kini terbuka mendengar decitan pintu, menandakan seseorang baru saja masuk ke kamarnya. Ia menoleh sekilas dan mendapati Rayhan duduk di sofa dengan gaya songongnya. Keenan bangun dan duduk di pinggir ranjang.


"Ngapain lo kerumah gue?"


"Widih mentang-mentang udah nggak jadi wakil gue dilarang bertamu nih ceritanya? seloroh Rayhan.


"Gue tau lo kesini karena sesuatu," balas Keenan.


"Sebenarnya lo punya masalah apasih sama Azka? Sampai dia semarah itu?"


"Lo ingat pas gue ngomong ada urusan beberapa hari yang lalu? Itu gue kemakam ayah Salsa di Bandung. Pas pulang gue liat salsa di laut duduk seorang diri, ya gue samperin. Karena nggak tega gue meluk buat nenangin dia, dan Azka liat itu," jelas Keenan dan Rayhan hanya mangut-mangut tanda mengerti.


"Tapi Azka nggak sepenuhnya salah, lo yang salah disini," ucap Rayhan melimpahkan semua kesalahan pada Keenan. "Ngapain juga lo meluk pacar orang terlebih pacar sahabat lo sendiri. Jangankan Azka, gue aja marah kalau liat."


"Lo kesini buat nyalain gue?"


"Gue nggak punya alasan buat bela lo, dan untuk pertama kalinya gue kecewa akan sikap lo Ken. Nggak nyangka sih lo semunafik ini."


Usai mengatakan itu, Rayhan meninggalkan Keenan di kamarnya, tugasnya sudah selesai. Sementara Keenan mengacak-acak rambutnya sendiri. Benarkah ini semua salahnya? Bahkan Rayhan saja menyalahkanya.


Sama dengan Rayhan di belahan bumi lainnya, tepatnya di apartemen Azka yang sudah bersih. Samuel bersedekap dada sembari bersandar di tembok, sementara pemilik apartemen duduk dengan angkuh di sofa.


"Lo yakin ngeluarin Keen dari Avegas?" tanya Samuel.


"Hm."


"Sikap lo udah kelewatan menurut Gue Ka, ngak seharusnya lo ngeluarin Keen begitu aja."


"Bukan urusan lo!" tegur Azka dingin.


"Hanya karena cewek lo ngeluarin Keenan gitu aja dari Avegas, dimana pikiran warasa lo selama ini? Lo nggak ingat awal kita bangun Avegas hingga sebesar ini? Lo sama Keen udah kenal sejak kecil."


"Gue nggak setuju lo keluarin Keenan dari Avegas!" tegas Samuel terang-terangan membela Keenan di hadapan Azka.


"Diam, atau lo mau keluarin juga?"


Semual senyum smirk, "Lo kira dengan begini semuanya akan baik-baik saja? Lo malah ngudang kehancuran bagi Avegas. Ini yang ditunggu-tunggu semua orang, celah untuk merobohkan Avegas. Gue harap lo sebagai ketua memikirkan resikonya."


Hari ini Samuel barhak mendapatkan penghargaan sebagian kutub utara banyak bicara, demi melindungi Avegas juga menasehati sang ketua.


"Satu kata buat lo ... Egois!" ucap Semual penuh tekanan, setelah itu meninggalkan Azka seorang diri dengan keegoisan yang menjunjung tinggi.


Tangan Azka terkepal, emosi mulai menguasai dirinya, melempar apa saja yang ada di hadapannya. Ia melirik benda pipih dia atas meja yang sedang berdering.


Salsa is calling ....


Azka membiarkan panggilan Salsa begitu saja, hingga beberapa pesan masuk dari orang yang sama.


For Azka: Lo udah makan siang belum? Kalau belum lo mau makan siang bareng gue nggak?


For Azka: Udah lama kita nggak makan bareng, gue bawain lo makan siang ya, mumpung gue masak banyak😊.


For Azka: Gue otw kesana, lo ada di apartemen, kan?


For Salsa: Gue nggak lapar, dan gue nggak di apartemen


For Azka: Senang deh Ka, lo balas pesan gue lagi. Jangan lupa makan ya! Sampai jumpa di sekolah.


...****************...


Jangan lupa meninggalkan jejak, dan terimakasih untuk dukungan kalian😘