
Matahari mulai menyapa pagi yang cerah, menyelinap memasuki kamar ketua Avegas yang sedang tidur di sofa dengan posisi tidak nyaman.
Bungkusan rokok dan puntungnya ada di mana-mana, juga beberapa minuman beralkohol tinggi. Sebuah laptop juga kertas ada di atas meja.
Azka mengerjap, memegangi kepalanya yang sedikit pusing karena efek samping minuman beralkohol yang ia habisnya semalam. Minuman yang menemaninya meng list semua daftar rumah sakit yang ada di kota tempatnya tinggal.
Ia memutuskan akan mencari Salsa di mulai dari rumah sakit. Besar kemungkinan pacarnya sedang dirawat di rumah sakit, itulah asusmi yang di pegang teguh oleh Azka.
Berusaha meyakinkan diri, bahwa Salsa tidak meninggalkannya, gadis itu hanya tidak ingin merepotkan siapapun termasuk dirinya.
Satu kelebihan Azka dalam hal mental dan kesadaran, mau sebanyak apapun ia minum, tak pernah hilang kesadaran. Minuman beralkohol baginnya seperti jus yang di konsumsi setiap hari.
Ia sudah mengenal benda-benda terlarang itu sejak menginjakkan kaki di bangku SMA, awalnya cuma iseng menengkan diri, tapi lama kelamaan terasa nyaman.
Dengan tubuh sedikit oleng, Azka bangun dari tidurnya ke kamar mandi, memuntahkan segala isi perutnya yang sedikit menganggu. Ia mandangi wajahnya di pantulan cermin kamar mandi setelah membilas wajahnya dengan air bersih.
Di pantulan cermin, ia bisa melihat seberapa kacau dirinya.
"Gue nggak bisa gini, Salsa bakal sedih kalau liat gue hancur," gumam Azka.
"Gue harus tetap baik-baik saja saat bertemu dia."
Azla lebih dulu membersihkan tubuhnya dari aroma menyengat, kemudian beralih kedapur untuk memakan selembar roti. Tak lupa ia meminum obatnya sebelum pergi.
Tak ada niatan untuknya ke sekolah, ia meraih kunci motor juga kertas yang ada di atas meja. Hari ini ia akan mulia mencari Salsa.
Azka melajukan motornya di bawah terik matahari, menyusuri segala jalan raya mengunjungi beberapa rumah sakit. Bertanya sana-sini pasien atas nama Salsa.
Hari mulai menampakkan warga jingga. Namun, Azka baru mengunjungi tiga rumah sakit karena jaraknya yang lumayan jauh. Azka memilih rumah sakit besar dan terkenal sebagi tujuan pertama. Kekasihnya butuh fasilitas yang memadai untuk berobat.
Jam begitu cepat berputar, tak terasa hari mulai gelap di mana sebentar lagi kunjungan ke rumah sakit tutup.
Ia pulang dalam keadaan kecewa, hari pertamanya mencari tidak membuahkan hasil apapun. Azka mengernyit saat sampai di apartemen dan mendengar keributan dari dalam.
"Akhirnya lo pulang juga Ka," sambut inti Avegas yang khawatir dengan sahabatnya.
Ketidak hadiran Azka di sekolah juga tidak bisa di hubungi, pertanda besar bagi inti Avegas bahwa ketuanya tidak baik-baik saja.
Mereka belum ada yang tahu masalah sebenarnya. Yang mereka tahu Salsa tidak masuk sekolah, itu saja.
Azka ikut bergabung dengan teman-temannya yang lain. Ia bersyukur setidaknya mempunyai teman-teman yang begitu peduli padanya, walau sering membuat kesal karena ocehan tidak berfaedah.
"Kita siap jadi pendengar yang baik Ka. Jangan di pendam sendiri lah," celetuk Rayhan sembari fokus pada layar dengan stik game di tangannya.
"Benar kata Ray, Ka. Kali aja kita bisa bantu," sambung Keenan.
"Salsa hilang tanpa kabar," jawab Azka dengan wajah datarnya membuat Inti Avegas terkejut.
Jadi benar yang mereka takutkan, Reni sengaja memutus kerjasama karena ingin menyembunyikan keberadaan Salsa dari orang lain.
"Ekspresi kalian buat gue mules." Melempar bantal sofa ke wajah Dito yang paling terkejut mendegar masalahnya.
Azka tidak menceritakan bahwa Salsa memutuskan hubungan dengannya, karena baginya itu tidak pernah terucap dari mulut Salsa. Itu hanya gurauan semata.
...****************...