Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 179


Kini mereka berlima duduk di sofa saling berhadapan. Salsa duduk bersama Reni, sementara Azka duduk di antara kedua orang tuanya.


Para pelayan berdiri menyaksikan setelah meletakkan seserahan di atas meja.


"Sebelum mengatakan tujuan saya kesini, saya terlebih dulu mau meminta maaf pada Ibu Reni juga Salsa. Maafkan sikap saya yang semena-mena dan berani merendahkan ...." Ans tak kuasa melanjutkan kalimatnya.


Rasa penyesalan kian menyalimuti hatinya. Karena ego dan cemburunya yang berlebihan, ia menyakiti perasaan orang lain.


"Kami sudah memaafkan Tuan Ans, ibu Tari sudah menjelaskan semuanya. Iya 'kan sayang?" tanya Reni mengelus lembut rambut sebahu putrinya.


Salsa mengangguk walau ragu, jujur saja hatinya masih sakit saat Ans menawarkan senyumlah uang juga mengatakan ia hidup tidak ada gunanya. Namun, kembali lagi, sesama manusia mempunyai kekurangan dan kesalahan, masing-masing, jadi tidak ada salahnya jika memaafkan sesama dan memberi kesempatan kedua. Manusia tak pernah luput dari dosa dan kesalahan.


"Iya Ma," jawab Salsa.


"Maksud kedatangan saya kesini selain untuk meminta maaf, itu karena saya ingin melamar putri Bu Reni untuk menjadi pendamping putra saya. Menjadi menantu kelurga wijaya."


Sontak Azka yang sedari tadi terdiam, menatap tak percaya pada Papinya. Jadi maksud kedatangan mereka sebenarnya untuk melamar? Pantas saja banyak seserahan yang Papinya bawa.


Tak terasa sudut bibir Azka tertarik, melirik kekasihnya. Ada bahagia tersendiri dalam hatinya. Sekarang bukan lagi lamaran abal-abalan seperti dilapangan itu, kini Ia resmi melamar kekasihnya dengan restu kedua orang tua.


"Jika berkenang, kami ingin melangsunkan pernikahan sebelum ujian kelulusan di laksanakan. Tentang pesta bisa di atur setelah ujian kelulusan berakhir," lanjut Ans.


"Bagaiaman Bu Reni?" sopan Ans.


"Saya sangat bahagia mengetahui kedatangan Anda kerumah saya untuk meminang putri saya Tuan. Tapi kembali lagi pada Salsa, dia yang akan menjalaninya," jawab Reni.


Kini semua tatapan tertuju pada Salsa terutama Azka yang kini was-was menunggu jawaban sang kekasih. Pikiran Salsa kadang susah di tebak, dan ia takut gadis itu menolak.


Tatapan keduanya bertemu, saling mengunci membuat Azka semakin was-was. Ia menganggukan kapala sebagai kode untuk Salsa.


"Iy ... iya," lirih Salsa di sertai anggukan kepala.


Tak bisa di pungkiri, wajah Salsa memanas juga perutnya seperti di gelitik ribuan kupu-kupu. Apa lagi melihat tatapan penuh harap dari Azka.


"Alhamdulilah." Ucapan syukur keluar dari mulut orang-orang yang ada di ruangan itu.


Sebelum pergi, orang tua Azka dan Reni membicarakan hari pernikahan terlebih dahulu. Seperti rencana awal, keduanya hanya akan melangsungkan akad nikah tanpa ada pesta tiga hari lagi.


Awalnya Salsa dan Reni tidak setuju, dan ingin pernikahan di laksanakan setelah ujian kelulusan. Namun, Azka angkat bicara tidak ingin menundanya begitu lama.


Lebih cepat lebih baik tante, saya takut khilaf jika kelamaan menunggu.


Itulah kalimat yang keluar dari mulut Azka yang berhasil mengubah suana tengang berubah cair. Apa lagi laki-laki itu mengucapakn dengan wajah datar.


Kesepakatan final, akad nikah akan di laksanakan di rumah Salsa tiga hari lagi dari sekarang dan kedua mempelai di pingit, tidak boleh bertemu selama waktu yang di tentukan.


Sepeninggalan orang tua Azka, laki-laki itu maaih betah di rumah calon istrinya.


"Ma, Salsa mau keluar dulu bareng Azka," pamit Salsa.


"Nggak ada, kalian lupa mulai detik ini tidak boleh bertemu lagi!" tegas Reni.


"Satu jam aja Tante, setelah itu ...."


"Berpisah sekarang atau akad kalian di undur," ancam Reni.


"Azka pamit Tante." Tanpa membantah lagi, Azka mencium pungung tangan Calon mertuanya dan berlalu pergi.


Rasa bahaginya berangsur-angsur menghilang karena harus LDR selama tiga hari dengan Salsa. Jangakan tiga hari, 3 jam saja Azka sudah tidak tahan.


"Hari H secaptlah datang," gumam Azka di atas motornya.


...****************...