Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
6 bulan


Enam berlalu bahkan dan Faiz belum juga mendapat kabar keberadaan sang Istri bahkan orang tua Amel pun tak mengetahui kemana perginya Putri bungsunya itu, bahkan Faiz sudah menyuruh Dami untuk melacak keberadaan Amel di Indonesia tapi hasilnya nihil.


Faiz masih memenuhi kewajibannya sebagai CEO di perusahaannya, tapi semenjak Amel pergi meninggalkannya Faiz berubah derastis sikapnya kembali dingin bahkan semua karyawan menjadi amukan dari seorang Faiz dan semua karyawannya menjadi takut padanya


Dami tentu saja di buat pusing oleh Bos sekaligus sepupunya itu, bagaimana tidak semua pekerjaan yang Faiz inginkan harus ada di hadapannya dan dia tidak menerima penolakan, kini Faiz sangat gila kerja tapi Faiz juga masih terus mencari keberadaan sang istri di bantu oleh beberapa bodyguardnya.


Bahkan kini dirinya begitu tidak terurus, Faiz menjadi kurusan bahkan ada kantong hitam di bawa matanya, serta janggut dan kumisnya ia lebat, setiap malamnya Faiz hanya tidur 2 atau 3 jam saja.


Hari ini Faiz di minta untuk datang ke rumah orang tua Amel, akhirnya setelah pulang kerja Faiz mampir menemui mertuanya itu.


"Assalamualaikum Mom, Dad" Ucap Faiz yang baru saja masuk ke rumah mertuanya


Fransiska menyambut menantunya itu dan mengajaknya masuk di ruang keluarga "Bagaimana kabarmu Nak"


"Seperti yang Mommy liat, aku tidak sedang baik - baik saja"


Fransiska ikut sedih melihat menantunya itu, sungguh Faiz sangat mencintai putrinya itu "Daddy menunggu mu di ruang kerjanya?"


"Baiklah Mom, aku menemui Daddy dulu" Ucap Faiz mencium pipi mertuanya kemudian beranjak menuju ruangan Jhonson


Ceklek


Faiz kemudian masuk, disana Jhonson tengah duduk di kursi kebesarannya


"Duduklah Son" Ucap Jhonson


Faiz kemudian duduk berhadapan dengan Jhonson "Ada apa Daddy memanggilku"


"Come On Son, lihatlah penampilan mu itu, sepertinya kau ini bukan menantuku saja"


"Ini karena ulah anakmu Dad, dia pergi meninggalkan ku"


"Baiklah... semua memang salah putri nakalku itu"


"Ada apa Daddy memanggilku kesini"


"Sampai kapan kamu mau seperti ini Nak, jangan buat dirimu menderita seperti ini"


"Sampai istriku kembali kepelukan ku Dad"


"Nak tidakkah sebaiknya kamu menceraikan istrimu itu sesuai permintaannya, dan mulailah hidup baru mu, lupakan putriku, kau berhak bahagia dan sampai kapan kamu akan mencarinya"


Faiz berdiri dari tempat duduknya, ia sangat kesal pada mertuanya itu "Jangan harap aku akan menceraikan istriku, akan sangat mencintainya Dad dan aku yakin aku pasti akan menemukannya"


"Ini sudah 6 bulan pencarianmu tapi kau tidak juga menemukannya"


"Aku pasti akan menemukannya dan tolong berhenti untuk menyuruhku menceraikannya karena sampai matipun putrimu akan menjadi istriku, bagiku anak adalah bonus untukku yang terpenting istriku selalu da bersamaku karena aku sangat mencintainya" Ucap Faiz menggebu - gebu dan langsung meninggalkan Jhonson


Ketika Faiz hendak meninggalkan ruangan, Jhonson kembali memanggilnya


"Hey Boy"


Faiz menoleh "Ada apa lagi Dad?"


"Jika kau berhasil mendapatkan istrimu, kau mau apakan dia?"


"Akan kuberi dia hukuman, karena berani meninggalkan ku" Faiz kemudian memegang gagang pintu untuk keluar tapi Jhonson kembali memanggilnya


"Hey Boy"


"Apalagi Dad, kau membuang waktuku saja"


"Terima kasih telah begitu mencintai putriku"


"Berhentilah berterima kasih Dad, dan aku harap ketika aku menemukan putri nakalmu itu jangan pernah ikut campur dengan hukuman ku, dan stop jangan memanggilku lagi aku ingin membersihkan diriku dikamar istriku aku lelah, dan aku meminta izin untuk menginap disini, aku merindukan istriku" Ucap Faiz kemudian pergi meninggalkan mertuanya itu


Jhonson tersenyum melihat tingkah menantunya itu "Mana mungkin aku ikut campur dengan hukuman mu itu, aku yakin hukuman mu pada putriku itu pasti hukuman ternikmat"


Darren sengaja memberi pelajaran pada Faiz dan menutupi keberadaan adiknya bahkan orang suruhan Faiz tidak mampu menemukan Amel berkat Darren.


"Hey, Mel lo nggak makan udah jam istirahat nanti maag lo kambu lagi" Ucap Fita sahabat dan juga partner bisnis Amel


"Bentar lagi Fit, nanggung"


"Ya ampun Mel, kan bisa nanti gue kerjain"


"Apaan sih lo Fit, gue udah lama nggak meriksa semua keuangan restoran kita"


"Jadi Lo nggak percaya sama gue Mel"


Amel terkekeh "Masa iya gue nggak percaya sama lo Fit, buktinya lo bisa ngembangin restoran dan klinik tanpa campur tangan gue"


"Ya udah kalau lo percaya sama gue, lo istirahat dulu gue nggak mau lo sakit nanti si kanebo marah lagi sama gue"


"Tapi lo cinta kan sama Abang gue"


"Mana ada, yang ada tuh abang lo suka PHPin orang"


"Nanti gue tanya abang Daffa deh kalau lo juga suka ama dia"


"Kenapa bahas ini sih, makan dulu yuk sekalian nge Mall"


"Iya, iya Mommy"


"Sialan lo, gue masih muda kali"


Amel tertawa "Mulut lo tuh udah kayak Mommy dan Ibu gue tau"


"Hmm.. serah lo yang panting lo bahagia"


"Makasih yah Fit atas semuanya, gue nggak tau lagi bagaimana kalau lo nggak ada"


"Justru gue yang harusnya terima kasih sama lo Mel, kalau bukan lo yang bantuin gue selama ini mungkin gue udah di nikahin tuh sama pria sialan itu gara - gara utang bapak gue"


"Ini juga karena kerja keras kamu bangun restoran dan klinik"


"Kita Mel, gue nggak sendiri ngebangun ini"


"Iya Fit"


Kemudian mereka keluar dari restoran dan pergi ke Mall untuk makan sekalian untuk jalan - jalan.


Di perjalanan menuju Mall, Fita dan Amel asik mengobrol


"Mel apa lo nggak rindu sama suami lo?"


Amel terdiam sejenak "Kalau di bilang rindu itu pasti Fit, tapi gue nggak mau egois Mas Faiz harus bahagia"


"Dan jika kebahagaan suami lo itu adaalah sendiri bagaimana"


Amel menggeleng "Dia ingin memiliki keturunan Fit, sedangkan gue ngga mampu memberika itu semua karena kondisi gue"


"Itukan cuman dokter yang bilang Mel, Lo tau nggak kita itu nggak tau rencana tuhan"


"Hati gue hancur Fit, gue sangat mencintai Mas Faiz, tiap malam gue rinduin dia biasanya gue cepat tertidur kalau nggak cium aroma tubuh suami gue"


"Terus Lo harus begini terus?"


Amel terisak "Gue nggak tau, gue ngikuti takdir gue gimana aja, gue pasrah"


"Ampun deh nih orang, cinta kok gini amat" Ucap Fita sambil menggelengkan kepalannya