Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 204


Jam pelajaran di sekolah SMA Angaksa mulai terganggu karena keributan di luar pagar. Suara motor bersahut-sahutan berbarengan teriakan yang terus menggumamkan makian yang tertuju pada Avegas berserta jajarannya.


Dasar pengecut!


Avegas pengecut!


Beraninya cuma di kandang doang!


Sini lo anji*ng, lawan kita-kita.


Ketuanya letoy takut sama cewek!


Cuih, nggak pantas lo jadi ketua Azka bang*sat!


Nyali lo dimana? Bahkan balapan lo tolak mentah-mentah.


Teriakan beserta lemparan batu mulai menghujani SMA Angkasa hingga beberapa kaca jendala pecah karena ulah geng Wiltar yang di ketuai Jery dan Leo.


Keluar lo Azka!


Semua siswa SMA Angaksa berhamburan keluar dari kelas karena ketakutan. Para guru mengintrupsi siswanya agar berkumpul di aula, hanya itulah tempat yang aman untuk saat ini.


Pak Bambang langsung mengunci pagar kedua berjaga-jaga kalau saja geng Wiltar menerobos pagar pertama setinggi dua meter itu.


Salsa yang mendengar keributan di luar ruangan, apa lagi saat mendengar nama Azka disebut. Ia berlari dengan panik mencari keberadaan sang suami. Berharap Azka ikut bersembunyi.


"Azka!" teriak Salsa di koridor sekolah. Ia bahkan tersungkur karena di tabrak teman-teman yang lain.


"Lo liat Azka?" tanya Salsa pada setiap orang yang ia lewati. Ia takut terjadi apa-apa pada suaminya.


Disaat semua siswa bersembunyi di aula, Salsa nekat mendekati pagar lewat belakang kelas yang langsung terhubung ke pagar utama.


"Azka kamu dimana?" teriak Salsa terus berjalan.


Salsa berlari saat segerombolan laki-laki berada di depan pagar, diantara mereka ada anggota inti. Namun, ia tidak melihat Azka.


Tepat saat Salsa ingin melintas, sebuah batu di lempar dari luar.


Bugh.


"Arrrghhhh," erang Azka saat pungungnya terhantam batu lumayan besar.


Salsa sontak membuka matanya dan mendapati Azka sedang memeluknya. "Azka ayo kita pergi!" ajak Salsa dengan deraian air mata.


"Pergi Sal, ikuti siswa yang lain!" perintah Azka menarik gadis itu bersembunyi di balik tembok lumayan besar.


Timpaan batu besar tadi berhasil membuat Azka kesusahan mengambil nafas, entah apa yang terjadi jika batu itu menghantam kepala istrinya.


"Sal, dengerin aku, ini bahaya sayang!" bujuk Azka.


"Nggak mau."


"Berhentilah menangis dan keras kepala Salsa! Jangan malah memperkeruh suasana!" bentak Azka saat rasa sakit menjalari tubuhnya.


Salsa langsung terdiam, mengikuti langkah lebar Azka yang menyeretnya dengan kasar di antara bangunan besar.


"Tetap disini, sampai aku kembali, atau aku benar-benar akan marah!" ucap Azka penuh tekanan di sertai tatapan tajamnya.


Sepeninggalan Azka, tubuh Salsa luruh di atas lantai kotor, dadanya terasa sesak mendapat bentakan dari Azka. Apa salah jika ia khawatir laki-laki itu akan terluka?


Anggota Avegas sibuk mengamankan siswa lainnya, sementara inti Avegas berusah mencari cara agar semua anggota Wiltar pergi tanpa ada perkelahian. Bukan takut, tapi mereka tidak ingin tawuran disekolah dan di saksikan semua guru.


Dengan kedatangan geng Wiltar di sekolah saja sudah cukup membuat kekacaauan.


Inti Avegas berdiri tak jauh dari pagar utama menyaksikan tanpa berniat malawan, walau kobaran api didalam diri mereka semakin besar mendengar hinaan demi hinaan yang di lontarkan Leo dan anggotanya.


Cuma segitu nyali lo? Bersembunyi di balik benteng sekolah!


Teriakan kembali mengelegar.


Avegas Banci!


Tangan Azka terkepal kini emosianya berada di ubun-ubun.


"Gue nggak pernah nyari masalah sama lo sialan! Beraninya lo membuat kekacauan di sekolah gue!" teriak Azka penuh amarah.


Hendak mendekat untuk menerjang tubuh Leo dan yang lainnya. Namun, Samuel langsung membekap tubuhnya.


"Jangan ngegabah Ka, mereka bawa senjata!" peringatan Keenan.


Atensi mereka teralihkan saat mendengar suara mobil polisi dari kejauhan. Para Anggota Wiltar yang membuat kekacauan langsung bergegas untuk menyelematkan diri agar tidak tertangkap.


Tepat setelah semua geng Wiltar pergi, barulah polisi tiba di lokasi. Inti Avegas maju di susul pak Alvi yang melapor pada polisi.


"Bisa jelaskan kenapa semua ini bisa terjadi?" tanya pak polisi menghampiri ke 7 pria tampan di depan pagar.


Azka hendak maju, tetapi di cegat oleh Alvi. "Terjadi penyerangan sepihak dari geng motor abal-abalan di luar sana. Sepertinya mereka salah sasaran," jelas Alvi tak ingin melibatkan inti Avegas di dalamnya.


"Ini tidak ada sangkut pautnya dengan salah satu siswa SMA Angaksa?" introgasi pak Polisi.


"Tidak sama sekali pak. Hanya penyerangan salah sasaran!" tegas Alvi.


...****************...