Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 163


Ternyata benar, ibu adalah tempat ternyaman untuk pulang. Itulah yang di rasakan Azka sekarang. Jika biasabya bangun tidur ia akan mempersiapkan kebutuhannya sendiri, maka pagi ini sangat berbeda.


Di mulai saat ia membuka mata semua pakaian sekolah dan yang lainnya sudah siap, di meja makan, sarapan sudah terjadi siap di santap.


Azka mendudukkan dirinya di kursi setelah siap dengan seragam sekolahnya. Untuk pertama kalianya setelah bertahun-tahun ia sarapan bersama maminya.


"Makan yang banyak sayang, jangan lupa obatnya di minum juga. Kamu harus membuktikan pada Salsa bahwa kamu bisa berubah," ucap Tari menyodorkan sepiring nasi goreng ke hadapan Azka.


"Mami nggak kerja?" tanya Azka sembari menyuapkan makanan kemulutnya.


"Siapa yang akan melarang Mami cuti, hah? Katakan sama Mami," ujar Tari berkacang pingang sembari tertawa, membuat Azka tersenyum.


"Pemilik Firma beda ya, cuti seenaknya," sindir Azka. "Jam berapa Mami berangkat?" lanjutnya.


"Kalau kamu nggak lelah, kita berangkat sore," jawab Tari.


Ya Tari sengaja menyuruh Azka masuk sekolah sebelum ke Bandung sore nanti, ia mengetahui dari Keenan kalau beberapa hari ini Azka banyak bolos apa lagi hari hilangnya Salsa.


Sebagai pemilik Yayasan, Azka harus menjadi contoh anak-anak lainnya. Bukan datang dan pergi seenaknya ke sekolah tanpa hukuman.


Sebelum berangkat sekolah, Azka mencium punggung tangan Tari. Melajukan motornya dengan kecepatan sedang menuju sekolah. Ia sudah tidak sabar menanti waktu berangkat ke Bandung dengan Maminya.


Azka tahu kali ini mungkin akan sulit untuk bertemu Salsa, terlebih Mama Reni sepertinya mulai tidak suka dengan keberadaanya karena ulah Ans.


Satu yang Azka syukuri, Salsa tidak benar-benar membencinya, gadis itu tulus mencintainya.


Sesampainya di sekolah, Azka langsung menyapa teman-temannya membuat inti Avegas mengernyit bingung. Setelah hampir dua minggu Azka jarang bicara dan bercanda, kini ketuanya yang lebih dulu memulai.


"Merinding gue liat kelakuan lo Ka." Rayhan mengusap lengannya seperti orang ketakutan.


"Udah masa dinginnya? Kabelnya udah nggak koslet lagi?" sindir Keenan.


"Kayaknya kabelnya bukan koslet lagi deh, tapi putus, hangat gitu," sindir Dito.


"Hua terhura gue, akhirnya ketua gue hidup lagi setelah lama meninggal." Ricky langsung memeluk Azka alay.


"Lo kira gue pernah mati, hm? Dasar alay!" Azka mendorong Ricky agar menjauh darinya.


"Gimana?" tanya Samuel.


Mereka berempat mines, Dito dan Ricky yang ada keperluan penting, berjalan menuju kantin setelah jam istirahat tiba. Kehebohan yang sempat hilang di antara mereka kembali lagi, membuat fans Avegas ikut bahagia.


"Woi Al sini!" panggil Rayhan pada sepupunya.


Alana hanya melirik sekilas, setelahnya berlalu pergi, ia marah pada Azka karena membentakanya tiba-tiba kemarin, padahal ia merasa tidak punya salah.


Bugh


"Kalau jalan ...."


"Pakai kaki." Alvi melanjutkan membuat Alana merengut.


"Untung suami aku, kalau nggak udah aku maki," ujar Alana.


"Bucin mulu kerjaannya," cibir Ricky melewati Alana dan Alvi di pintu kantin. Dito yang berjalan di samping Ricky hanya melirik sekilas dan kembali fokus ke depan.


"Sirik aja."


"Gue boleh ikut nggak sih?" celetuk Dito duduk di samping Azka.


"Ikut ke mana?"


"Ikut ke Bandung, mau nyemangatin ibu ketua," balas Dito.


"Kalian nggak sibuk?" tanya Azka, pasalnya beberapa minggu lagi, mereka akan ujian.


"Nggak tuh, gimana bro? Ke Bandung nggak nih?" tanya Dito pada yang lainnya.


"Kuy lah, gue juga mau berterimakasih sama Rio," jawab Keenan.


"Sama gue juga, selama ini ngira dia sama kayak Leo, ternyata nggak," timpal Rayhan.


"Cinta bisa merubah segalanya."


...****************...