
Azka pulang jam sembilan malam setelah Reni pulang, karena tidak ingin meninggalkan Salsa seorang diri di rumah. Sementara yang lainnya sudah pulang sebelum hari gelap tadi.
"Hati-hati Ka, jangan ngebut. Ini langsung pulang atau mau mampir lagi kemana gitu?"
"Langsung pulang tenang aja," jawab Azka memasang helmnya. "Besok aku jemput, dah." Azka mulai menyalakan mesin motornya.
"Dah Azka." Salsa melambaikan tangan saat Azka menjalankan motornya hingga menghilang di balik tembok besar.
Bohong kalau Azka mengatakan akan langsung pulang kerumahnya, terbukti motor laki-laki itu melaju berlawanan arah. Azka memarkirkan motornya dengan aman di basemen, kemudian melangkahkan kaki menuju lift, memencet angka yang lumayan tinggi menuju ruang rawat seseorang di rumah sakit.
Sesampainya depan ruang rawat itu, Azka mengempalkan tangannya mencoba mengatur emosi dalam dirinya sebelum bertemu Sang Papi. Ia membuka pintu perlahan-lahan dan mendapati Ans tengah duduk bersandar membaca majalah.
"Akhirnya kamu datang nak," sambut Ans meletakkan majalah yang ia baca di atas nakas.
"Ada apa?" tanya Azka tanpa basa-basi. "Jika kau ingin bertengkar denganku, maka sembuhlah dulu, aku tidak bisa melawan pria tua yang sedang sakit," lanjutnya.
"Maafin Papi nak," sesal Ans membuat Azka menaikan alisnya heran.
Seorang Anson Wijaya meminta maaf? Itu sebuah kemustahilan bagi Azka. Jangankan meminta maaf, kesalahan yang di buatnya sendiri, bahkan sering tidak dia akui dan melemparnya pada yang lain.
Contohnya saat Tari keguguran, itu semua ulah Ans sendiri, tapi yang di salahkan dirinya.
"Aku tidak butuh maaf mu," jawab Azka. "Tidak perlu basa-basi, katakan apa yang ingin kamu katakan, aku tidak punya waktu," lanjutnya.
"Nak pulang kerumah ya, kita tinggal bersama lagi seperti dulu. Papi janji tidak bakal ngatur kamu lagi, Papi akan mendukung semua keputusan kamu," pinta Ans dengan mata berkaca-kaca.
Azka mengahlikan padangannya tak ingin menatap Ans. Kelemahannya, yaitu tidak bisa melihat orang-orang sekitanya menangis. Ia memang nakal dan terkenal kejam di lingkungan pertemanan tapi tidak dengan orang terdekatnya.
"Maafin semua perbuatan Papi nak," ulang Ans.
"Azka tidak masalah jika kesahalan Papi menyangkut Azka sendiri, tapi belakangan ini kamu bahkan menyingung orang-orang di sekitarku."
"Maaf."
"Dan untuk kembali? Sepertinya sulit."
"Papi janji setelah keluar dari rumah sakit, Papi akan menemui Salsa dan Mamanya untuk meminta maaf," jawab Ans.
"Kata Mami kamu, kamu mau menikah nak? Papi akan mempersiapkan semuanya, Papi akan melamar Salsa untukmu."
Azka terdiam, menatap Ans penuh selidik, mencari kebohan di mata laki-laki itu. Namun, ia tidak mendapatkannya. Seketika hatinya yang keras dapat di ketuk oleh Ans. Ya jiwanya memang lemah jika bersangkutan dengan Salsa.
"Kau tidak lagi merencakan sesuatu untuk mencelakai Salsa 'kan?" tanya Azka memastikan.
"Tidak nak, Papi tulus mengatakan ini. Papi akan menerima Salsa dan menuruti semua keinginan kamu, asal kamu mau pulang kerumah," bujuk Ans tulus.
"Aku akan memikirkannya," jawab Azka.
"Azka ...."
"Aku lelah pengen istirahat, jika tidak ada lagi yang ingin kau katakan, aku akan pergi," potong Azka.
"Hati-hati nak, mungkin besok Papi akan keluar dari rumah sakit. Kita sama-sama kerumah Salsa nanti," jawab Ans.
Azka tidak menyahut, langsung meninggalkan Ans begitu saja. Katakanlah ia tidak sopan bersikap seperti itu pada Papinya, tapi apalah daya rasa kecewanya sangat besar.
Tentang perlakuan Ans selama ini padanya ia masih memberi toleransi, tapi saat Ans dengan lancang melukai harga diri Salsa, disitulah Azka tidak bisa diam saja.
Namun, ada yang membuat hati laki-laki itu menghangat dan lega setelah berbicara dengan Papinya malam ini. Panggilan anak dari laki-laki itu begitu merdu di pendengaran Azka.
Untuk sekian lama, akhirnya Ans menganggapnya seorang anak.
...****************...