Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 209


Bukannya tenang, Salsa malah semakin histeris dalam pelukan Mamanya. Ia tidak pernah menyangka mimpinya benar-benar terjadi. Kalau saja ia tahu, ia memilih tidak tidur semalam dengan menjaga Azka agar tidak pergi.


Namun, semuanya suda terlambat, Azka pergi meninggalkannya, bahkan tanpa pamitan sekalipun.


"Dada aku sesak Ma," adu Salsa, tubuhnya luruh kelantai memandangi brangkar Azka yang kian menjauh di ikuti Ans, Tari dan beberapa orang lainnya.


Rayhan berjongkok, dan langsung menarik Salsa kepelukannya. "Azka nggak pernah suka lo nangis Sal. Dengan lo begiini, Azka malah semakin terluka di sana," gumam Rayhan berusaha menenangkan istri sahabatnya.


Malam itu, Azka sempat menelponnya. Tapi laki-laki itu cuma mengatakan.


Jaga istri gue, jangan sampai dia terluka apa lagi menangis.


Namun, Rayhan kurang peka akan perkataan Azka semalam, dan baru hari ini ia tahu maksud ketuanya.


"Dia nggak suka gue nangis, tapi dia buat gue nangis Ray," lirih Salsa.


"Kenapa Tuhan nggak ngabulin permitaan gua! Gue minta sama tuhan untuk ngambil nyawa gue 10 menit sebelum dia ngambil nyawa Azka." Tangisan Salsa semaki jadi.


Rasa pedihnya tidak bisa di gambarkan oleh apapun. Di tinggalkan oleh orang terkasih secara tiab-tiba membuatnya sangat terpukul. Pelukan Azka malam itu masih membekas ditubuhnya.


"Gue harus nyusul Azka!" Salsa melerai pelukan Rayhan. "Azka pasti nunggu gue sekarang."


"Sal, sadar!"


"Gue harus ikut Ray!" bentak Salsa.


Tarlepas dari pelukan Rayhan. Salsa menghadang suster, kemudian merebut pulpen di saku baju suster itu. Ia mengarahkan mata pulpen tepat di pergelangan tangannya.


Tak


Rayhan memegang kedua lengan Salsa. "Sadar Sal, bukan ini yang di inginkan Azka. Kalau lo emang cinta sama dia, maka jangan seperti ini. Azka bakal sedih liat lo kesiksa seperti ini!"


"Gue tau ini sulit buat lo. Tapi plis, coba ikhlaskan Azka agar dia tenang di sana Sal. Dia cinta sama lo, dia sayang sama lo. Kita juga sama terpukulnya Sal. Samuel? Untuk pertama kalinya gue liat dia nangis karena Azka."


Rayhan berusaha menyadarkan Salsa dari kegilaanya. Kini tinggal mereka berdua di ruangan ICU, yang lainnya mengikuti Azka.


"Tuhan nggak adil sama gue Ray. Sejak awal sampai sekarang gue nggak pernah benar-benar bahagia," lirih Salsa.


"Jika semua orang merasa tuhan nggak adil. Bunkankah itu adil?"


"Tenangin diri lo. Kita pulang sekarang!" bujuk Rayhan.


Salsa bergeming, tubuhnya terasa lemas. Ia belum ingin mempercayai ini semua. Orang yang selalu ada saat ia butuh. Orang yang selalu menghiburnya di kala sedih, kini pergi meninggalkan luka yang sangat dalam.


"Sal," panggil Rayhan.


Gadis itu ikut melangkah saat Rayhan menarik tangannya. Bukan untuk pulang, tapi kerungan dokter Jesy. Rayhan mengambil kain kasa juga obat merah untuk memperban bekas infus di tangan Salsa.


Rayhan menatap Salsa yang menangis tanpa suara. "Menangislah, tapi jangan siksa dirimu lo karena Azka. Dia bakal bahagia saat liat lo bahagia. Jadi, walau tanpa Azka berusahalah tetap bahagia Sal."


"Gimana gue bisa bahagia? Sedangkan sumber kebahagiaan gue pergi tanpa pamit?"


Penuturan Salsa berhasil mengundang air mata di pipi Rahyan. Laki-laki itu beranjak dan menuju kamar mandi. Ia tidak ingin jika Salsa melihat air matanya.


...****************...