Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 206


Belajar bersama sudah menjadi rutinitas Azka dan Salsa sebelum tidur. Kini keduanya berada di depan kamar, dengan barbagai cemilan yang baru saja Azka beli di Indoapril karena keinginan sang Istri.


Dengan serius dan telaten Azka menjelaskan segala sesuatu yang tidak di mengerti Salsa. Hingga gadis itu bosan sendiri.


Di saat Azka masih sibuk belajar, Salsa sudah berbuat ulah tanpa sepengetahuan sang suami. Ia meletakkan pulpen di antara bibir dan hidungnya. Sengaja di manyungkan agar pulpen itu tetap bertahan di sana.


Ia menoel lengan Azka, membuat laki-laki itu menoleh. Kelakuan Salsa berhasil membuat Azka ternyum. Padahal sedari tadi suaminya sangat serius. Bicara saja jarang setelah kejadian di sekolah tadi.


"Pengen di cium, hm?" gemes Azka mencubit pipi Salsa.


Gadis itu mengeleng, dengan cepat Salsa menjatuhkan pulpen di bibirnya lalu menyembunyikan wajahnya di dada bidang Azka, atau ia akan di sosor habis-habisan.


"Bibir aku masih kebas ya," gumam Salsa.


"Biar nggak kebas, kita lanjut lagi gimana?" goda Azka.


Masih dalam pelukan Azka, Salsa memukul punggung suaminya, hingga rintihan terdengar padahal pukulannya tidak terlalu keras. Ia mendongak dan menatap wajah datar Azka.


"Punggung kamu sakit Ka?"


"Nggak sayang, cuma bercanda tadi," jawab Azka mencoba menyembunyikan rasa sakit di punggungnya.


"Aku mau liat."


"Nggak udah Sal, mending kamu makan dulu."


"Nggak mau, pokonya aku mau liat. Ayo buka baju Azka!" paksa Salsa membatu Azka membuka kain yang menutupi tubuh kekar Azka.


"Azka!"


Azka menghela napas panjang, pasrah saat Salsa membuka bajunya hingga ia setengah telanja*ng.


Gadis itu mematung setelah melihat punggung Azka. Matanya memerah siap menumpahkan bulir-bulir bening. Ia lupa bahwa tadi Azka terkena lemparan batu.


"Kenapa nggak ngomong kalau punggung kamu sakit Ka? Dan kenapa harus gendong aku?" ucap Salsa sesegukan menyentuh pungung bagian kiri Azka yang memar.


"Jangan nangis Sal, udah nggak sakit cuma memar doang."


"Luka gini udah biasa bagi aku, jadi nggak papa."


"Tapi nggak biasa bagi aku, gimana kalau seandainya tulang kamu patah?" omel Salsa mengusap air matanya kasar.


"Udah, iya ... iya aku salah karena nyembunyiin sama kamu. Jangan nangis lagi sayang." Azka berdiri. "Ayo kita ke kamar, dan obati luka aku biar kamu lega." Ia menarik sang istri ke kamar.


Azka tengkurap di atas ranjang setelah sampai di kamar, menunggu Salsa untuk mengobati pungungnya. Jujur saja luka itu sangat sakit tapi ia tidak ingin istrinya khawatir.


Mama Reni pernah berpesan padanya, bahwa Salsa mempunyai kekhawatiran dan panik berlebihan terhadap sesuatu. Belum lagi Salsa kurang berteman dengan darah dan luka. Gadis itu sering pusing sendiri jika melihat hal-hal seperti itu. Anehnya Salsa bercita-cita menjadi Dokter, sangat aneh menurut Azka.


Azka memejamkan matanya, saat tangan mungil Salsa mulai menari-nari di sekitar punggung yang katanya memar. Bahkan ia tidak sadar istrinya sudah selesai.


"Sekecil apapun luka kamu, kamu harus beritahu aku Ka. Aku nggak mau suami yang aku cintai terluka."


"Iya sayang. Sini tidur, udah hampir jam 10 malam."


Salsa menuruti keinginan Azka, tidur di samping laki-laki itu dengan posisi telentang. Melihat posisi Salsa, Azka langsung mengangkat kakinya ke atas paha sang istri. Kemudian tangannya bertender indah di buah melon yang semakin hari semakin membesar itu. Azka masih dalam posisi tengkurang.


"Tidur sayang!" gumam Azka.


"Jangan pergi tapi!"


"Aku mau pergi kemana, Hm?"


"Takutnya pas aku tidur, kamu malah pergi ketemu sama yang lain. Aku takut kamu balas perbuatan Leo."


"Azka aku nggak mau kamu tawuran lagi kayak dulu. Aku takut ...," lirih Salsa.


Mimpi buruk yang ia alami dua malam berturut-turut meresahkan hati gadis berambut sebahu itu. Didalam mimpinya, Azka berkelahi dengan Leo dan suaminya kalah karena Leo membawa senjata.


"Aku sayang sama kamu."


...****************...