Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 165


Salsa menarik tangannya dari gengaman tangan Azka. "Pergi Azka , gue ngantuk dan lela pengen istirahat," usir Salsa merubah posisinya membelakangi Azka.


Tak ada sahutan persetujuan atau bantahan dari laki-laki itu membuat Salsa kembali berbicara. "Kenapa lo datang lagi? Lo nggak benci sama gue?" lirih Salsa.


"Gimana aku bisa benci sama kamu Sal? Sementara rasa cintaku mengalahkan rasa benci yang coba kamu ciptakan, terlebih aku udah tau kenapa kamu bersikap seperti itu," jawab Azka, membuat Salsa diam-diam menitikkan air mata.


"Maafin Papi aku Sal. Nggak seharusnya dia pemperlakukan kamu seperti itu." Azka menunduk menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa Salsa. Karena ketidak pekaanya, Salsa menderita seperti sekarang.


"Kenapa kamu nggak cerita tentang ini semua? Kenapa kamu malah milih pergi?" tanyanya.


"Gue nggak guna, gue nggak pantas buat lo. Gue bakal nyusahin lo seumur hidup. Gue nggak mau lo ngabisin seluruh hidup lo cuma ngerawat gadis penyakitan kayak gue," jawab Salsa dengan suara serak, ia tak mampu lagi membendung air matanya.


Azka ikut menitikkan air mata mendengar tangisan lolos di bibir kekasihnya. Ya kekasihnya, sampai sekarang ia tidak menerima bahwa dirinya sudah putus, hubungan mereka telah usai.


"Jangan nangis Sal, aku nggak suka kalau kamu lupa. Dan satu hal yang harus kamu ingat, aku nggak pernah merasa terbebani sedikitpun tentang keberadaanmu. Bahkan aku sangat membutuhkanmu, aku yang mengiginkanmu. Aku mencitaimu, dan aku ... takut kehilangan kamu," lirih Azka di akhir kalimat.


"Aku mau ...."


"Selamat malam calon penghuni surga," ucap seseorang membuka pintu, membuat Azka menghapus air matanya sangat cepat takut ketahuan dengan sahabat-sahabatnya.


"Datang kecepatan nggak sih kita? Pak ketua kayaknya belum lepas kangen deh," celetuk Ricky pada yang lainnya.


Mengetahui keberadaan teman-teman Azka, Salsa susah paya untuk bangun buat menyambutnya. Azka dengan sigap membantu gadis itu bersandar.


"Aduh ibu ketua makin cantik aja, gue rindu loh bu," celetuk Rayhan.


Mereka sudah mendapat pesan dari Azka, bahwa mereka tidak boleh membahas hal-hal berbau kesehatan. Terutama menatap ibah dan menaruh perhatian pada Salsa karena sakit. Azka sangat tahu kekasihnya membenci itu semua.


"Kalian datang kesini ngapain? Ada urusan sekolah ya?" tanya Salsa.


"Cuma liburan sebelum masa-masa ujian menjajah, eh dengar lo ada di sini, ya sekalian mampir," jawab Dito di angguki yang lainnya.


"Gitu, makasih ya."


"Kembali kasih bu ketua," jawab Keenan.


Atensi mereka teralihkan pada daun pintu yang terbuka dan menampilkan dua wanita paruh baya dengan paras ayu. Wanita paruh baya yang sebentar lagi menyandang status besa jika rencana lancar.


"Tante, Mama," lirih Salsa sedikit tak percaya.


"Pantesan tante nggak pernah liat kamu, ternyata di Bandung. Kenapa nggak ngabarin?" Tari langsung menghampiri Salsa. Membuat Azka mau tidak mau menyingkir dan bergabung bersama teman-temannya di sofa.


Salsa melirik Reni. Setelah kejadian ia jatuh pingsang di kamar karena tak kuasa menahan sesak dan mengetahui penyebabnya. Wanita paruh baya itu menyuruhnya menjauhi Azka. Malam saat ia menelpon laki-laki itu untuk terakhir kalinya. Salsa ingin berbicara lebih lama. Namun, Reni melarangnya.


Reni mengangguk tanda setuju. Tari sudah menjelaskan semuanya dan ia dapat mengerti itu.


"Katanya kamu mau ...." Tari ragu untuk bicara.


"Iya tante, besok siang mohon do'a nya," jawab Salsa langsung.


"Tanpa kamu suruh, tante bakal do'a in sayang. Kamu kan calon menantu tante. Iya 'kan Reni?" Mengusap puncak kepala Salsa.


"Anjir menantu, slebew," celetuk Rayhan.


"Gue mengendus-enduh bau pengantin baru nih," goda Ricky.


Sakin asiknya mereka bercanda ria di ruang rawat Salsa hingga tak menyadari jadwal kunjungan sudah habis membuatnya dapat teguran dari pihak dokter.


"Rayhan?" tanya Jesy kaget dengan keberadaan putranya.


"Mama, ehe anu ... Ray jenguk teman. Ini mau pulang karena di usir sama Mama," cengir Rayhan mengaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Jangan bilang kamu nanyain keberadaan Mama karena ini?" todong Jesy.


"Ampun suhu." Rayhan mencium punggung tangan Jesy sebelum kabur takut telinganya menjadi korban.


...****************...