
Salsa terbangun jam empat dini hari karena haus. Ia mengernyit saat tak mendapati Azka di sampinganya, padahal semalam mereka tidur bersama.
"Azka, kamu di kamar mandi?" tanya Salsa sedikit berteriak. Namun, tidak ada sahutan apapun.
Ia beranjak menuju kamar mandi dan tidak mendapati Azka di sana.
"Apa di dapur ya?" gumam Salsa.
Dengan langkah gotai, ia menuju dapur, tapi nihil, Azka juga tidak ada disana. Salsa melanjutkan langkahnya menuju garasi untuk memeriksa kendaraan. Ia menghela nafas panjang saat tak mendapati motor Azka di sana. Bisa di pastikan suaminya keluar diam-diam semalam setelah ia terlelap.
Ia kembali ke kamarnya untuk mengambil ponsel. Berkali-kali Salsa menghubungi Azka. Namun, laki-laki itu tidak menjawab sama sekali.
Mendengar suara motor memasuki garasi. Salsa segera berlari keluar kamar dan membuka pintu utama.
"Azka kamu dari mana?" tanya Salsa langsung memeluk tubuh Azka yang berdiri di depan pintu. "Kenapa pergi nggak ngabarin aku? Kamu udah nggak mau tinggal sama aku?"
"Maaf," sesal Azka.
Salsa mendongak, dan mendapati wajah Azka babak belur. "Benarkan, semalam kamu tawuran?"
Azka tak menjawab, langsung memeluk tubuh yang sangat ia cintai itu. Rasa sakit di seluruh tubuhnya semakin tak tertahankan.
Selama perjalanan pulang, ia berusaha tetap bertahan hanya untuk melihat wajah Salsa, mungkin untuk terakhir kalinya.
"Maafin aku Sal. Aku nggak bisa nepatin janji akan selalu ada di samping kamu. Maaf nggak bisa jaga kamu sampai akhir," lirih Azka dalam pelukan Salsa.
"Kamu ngomong apa sih Ka, aneh deh." Dengan sedikit tenaga, Salsa mendorong tubuh Azka agar melerai pelukannya.
Ia membelai wajah pucat Azka yang di penuhi lebab juga darah yang mulai mengering. "Wajah kamu kok dingin Ka?" heran Salsa.
Tatapan Azka semakin sayu, seiring Salsa menunduk untuk memeriksa suhu tubuhnnya.
"Da ... Darah? Azka!"
Azka langsung menimpa tubuh mungil Salsa hingga gadis itu terhuyung dan ikut terjatuh kelantai. Tak peduli rasa sakit di pinggangnya. Salsa langsung menganggat kepala Azka agar tidur di pangkuannya.
"Azka! Bangun. Jangan ngeprenk aku gini!" teriak Salsa menepuk pipi Azka yang semakin dingin juga pucat.
"Jangan buat aku khawatir, bangun!" teriak Salsa dengan suara bergetar.
Ia meraba tubuh Azka dengan tangan bergetar, mencari darimana asal darah itu mengalir. Tepat di bagian dada Azka sebelah kiri. Darah mengalir.
"Nggak mungkin Ka," lirih Salsa.
"Siapapun tolong suami aku!" teriak Salsa.
"Sayang ... suamiku ...," panggil Salsa.
Perasaan Salsa campur aduk, ia linglung sendiri melihat kondisi Azka, apa lagi saat memeriksa denyut nadi suaminya yang sudah tidak ada.
Ia menangis tanpa suara, hanya tubuh bergetar. Menunduk menciumi wajah pucat suaminya.
"AZKA!" Panggil Salsa dengan teriakan tak terhankan. Duanianya seakan runtuh subuh itu juga. Baru saja ia mulai merasakan bahagia bersama orang yang ia cintai. Laki-laki itu pergi meninggalkannya.
"Suamiku, bangun. Kamu nggak suka aku nangis 'kan? Buka mata kamu dan hapus air mata aku. Azka ...." Salsa memeluk erat tubuh dingin Azka. Tak peduli dengan darah yang kini mengotori piyamanya.
"Siapapun tolong selamatkan suami aku!" Teriak Salsa sangat kencang. Ia mulai sesegukan.
Keringat dingin membasahi pelipisnya.
"Siapapun tolong bangunkan aku dari mimpi buruk ini!"
Tak kuasa menahan sesak didada, Salsa jatuh tak sadarkan diri di dekat Azka dengan tangan berlumuran darah.
****************