
Malam harinya setelah balapan liar dengan anggota motor lain, anggota inti kembali berkumpul di markas. Rajin berkumpul tapi sibuk dengan kehidupan masing-masing. Ketua yang biasanya sibuk memandangi buku, kini hanya tidur sembari bermain ponsel. Definisi bucin yang sebenarnya.
"Tumben nggak ada yang ngapel," celetuk Keenan.
Biasanya malam minggu hanya Keenan dan Samuel yang tertinggal, tapi sekarang semua anggota lengkap, entah ada apa dengan mereka.
"Giani ngambek gara-gara gue godain anak Ips kemarin." Rayhan mengubah posisinya. "Sampai no gue di blokir segala."
"Mampus lo, katanya suka sama Giani, giliran liat bening dikit tergoda. Gue jadi Giani nggak bakal nerima lo jadi pacar. Bahagia nggak, tiap hari makan hati Iya."
Rayhan melempar kacang kulit pada Keenan. Laki-laki itu bukannya membantu malah memperkeruh suasana.
"Biasanya kalau cewek ngambek, diapain biar luluh lagi?" tanya Rayhan, selama ini tak pernah sekalipun ia mengejar-ngejar cewek selain Giani, yang ada dirinya menjadi rebutan para gadis haus belaian.
"Cuma dua, kalau nggak makan yang belanja. Tapi di liat dari gaya Giani sehari-hari, kayaknya dia suka makan deh," sahut Dito yang sedari tadi sibuk bernyanyi meratapi nasibnya di tinggal nikah sebentar lagi.
"El, Ka! Kalian kok diam-diam, berantem juga sama cewek?" Ricky ikut nimbrung setelah puas say hello bersama pacar barunya.
"Kepo!" Azka merubah posisi membelakangi para teman-temannya. Dirinya mulai frustasi dengan tingkah Salsa dua hari ini. Apapun yang ia lakukan selalu saja salah, jadi menghindar adalah pilihan terbaik.
***
Di belahan dunia lainnya, tepatnya di dalam kamar bernunsa putih, Salsa mulai merindukan sosok Azka dan menyesali semua kelakuannya yang diluar nalar. Hanya karena Azka telat menjemputnya ke sekolah ia uring-uringan sendiri. Mungkin karena moodnya tidak baik karena haid.
Salsa: Azka, lo marah sama gue?
Azka: ?
Salsa: Gue lapar Ka, tapi nggak tau mau makan apa.
Salsa membanting benda pipi itu keatas ranjang. Sepertinya Azka benar-banar marah, bahkan membalas pesan saja sangat singkat seperti itu. Salsa mondar-mandir di kamarnya, mencari cara apa yang harus ia lakukan agar Azka memaafkannya. Laki-laki itu kembali cuek dan tak tersentuh.
Deringan ponsel terdengar dari ranjang, dengan sigap Salsa menjawab panggilan dari Azka.
"Turun gue di bawah!" perintah Azka setelah itu mumutuskan sambungan telepon sepihak.
Tanpa menunggu waktu, Salsa berlari menuruni satu persatu anak tangga, membuka pintu dan tersenyum sangat lebar saat mendapati Azka berdiri membelakanginya.
"Azka, gue kira lo masih marah sama gue." Salsa langsung menghampiri Azka, berdiri tepat di samping laki-laki berhodhie putih itu. Hoodhie yang beberapa hari lalu ia berikan pada Azka.
Salsa mundur satu langkah Setelah berada di hadapan Azka. Mendongak sedikit agar bisa menatap wajah datar nan tampan sang pacar. Tinggi sebatas leher membuat gadis itu kesusahan jika ingin menatap Azka.
"Kenapa Hm?"
"Nggak marah lagi kan?"
Bukannya menjawab Azka malah mengacak-acak rambut gadis mungil kesayangannya. "Sejak kapan gue marah sama lo Sal? Belum makan kan? Ini gue cuma beli nasi goreng buat lo." Menyerahkan kresek berisi kotak sedang.
Salsa mengulum senyum, menerima pemberian Azka, ah ketua Avegas itu memang cuek tapi setiap perbuatannya membuat siapa saja meleleh sampai luber-luber. Jarang ngomong, sekalinya ngomong langsung membuktikan.
"Gue nggak nyuruh lo senyum Sal, tapi makan!" tegur Azka.
"Iya pak ketua."
...****************...
Jangan lupa meninggalkan jejak😊