Cinta Dan Masa Lalu

Cinta Dan Masa Lalu
Part 131


Setelah istirahat beberapa hari, Azka memutuskan untuk masuk sekolah. Tangannya mulai baik-baik saja dan sudah bisa di gerakkan. Namun, tak ingin Salsa memberinya hukuman, ia masih memasang Arm sling agar Salsa yakin bahwa tangannya masih sakit.


Ia berangkat sekolah menggunakan mobil, karena motornya masih dalam perbaikan juga dokter belum memperbolehkan Azka menggunakan tangannya terlalu berat.


Azka mengklakson beberapa kali agar penghuni rumah putih berlantai dua itu segera keluar. Pencetan klakson yang tak sabaran membuat gadis cantik berambut sabahu keluar dari rumah dengan terburu-buru.


Seulas senyum terukir di bibir seksi Azka melihat bidadari tak bersayap itu berjalan mendekati mobilnya. Aura Salsa berhasil menghipnotis Azka untuk sejenak, apa lagi saat gadis itu mengikat rambutnya terburu-buru membentuk ekor kuda.


Azka segera memasang wajah datar setelah Salsa membuka pintu mobil. "Gue kelamaan ya? Maaf, mama nggak ada dirumah," ucap Salsa sembari berlutut untuk menyimpan tasnya di jok belakang.


"Ish, Azka kok di lepas?" protes Salsa.


"Jelek." Satu kata tapi mampu membuat mood Salsa down. Ia merebut ikat rambut di tangan Azka, tetapi lebih dulu laki-laki itu menyimpan di saku celana. "Kamu boleh jelek di depan aku aja," lanjutnya.


"Terus kamu ngapain mau pacaran sama aku kalau jelek?"


"Suka aja."


"Nyenyenye," cibir Salsa memasang seat beltnya dengan kasar. "Padahal kata Rio aku cantik," gerutu Salsa sedikit mengeraskan suaranya agar laki-laki menyebalkan di sampingnya dengar.


"Emang ya semua laki-laki itu sama aja. Dia nganggap perempuan sebagai bola. Di kejar-kejar, setelah dapat malah di cuekian, baik-baik kalau nggak di tendang. Apa susahnya coba muji dikit aja. Semua cewek itu pengen ...."


Mata Salsa terbelalak, lidahnya terasa kelu hanya untuk melanjutkan kalimatnya. Benda kenyal yang baru saja menyentuh pipinya berhasil membuat Salsa diam membisu. Tubuhnya seperti tersengat listrik, perutnya bagai di gelitik ribuan kupu-kupu.


"Berisik! Itu hukuman karena kamu berani menyebut nama laki-laki lain," ucap Azka. Melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Salsa.


Bukan hanya jantung Salsa yang tidak aman, tetapi Azka juga merasakan hal yang sama setelah mencium pipi kekasihnya. Ini yang pertama ia berinisiatif mencium Salsa. Kecuali sedang dalam masalah dan saling menguatkan.


Hening melanda keduanya hingga sampai di sekolah, dengan sigap Salsa mengambil tasnya di jok belakang. "Aku duluan Ka," ujar Salsa kemudian membuka pintu dan meninggalkan Azka seorang diri di parkiran.


"Dorrrrr!"


"Alana!" bentak Salsa kaget bukan kepalang.


"Makanya jangan ngelamun pagi-pagi," peringatan Alana ikut duduk di samping Salsa. "Tuh pipi napa merah banget pagi-pagi?" selidik Alana.


"Anu ini gue ...."


"Akhirnya ATM gue datang juga," sambut Alana pada laki-laki yang baru saja masuk. Mata tajam Alana menangkap sesuatu yang berbeda dari sepasang kekasih itu. Berangkat bersama tapi masuk kelas secara terpisah.


"Hayo kalian habis ngapain!" tuding Alana. "Pipi Salsa merah dan telinga lo juga merah Ka. Jangan bilang kalian habis ...."


"Iya!"


Salsa menatap tajam pada Azka, tetapi laki-laki itu seakan tidak peduli.


"Minggir gue mau duduk!" Menarik Alana agar menyingkir dari bangkunya. Ia sengaja menjawab jujur, karena ia tahun bagaimana sahabat kecilnya itu. Semakin orang mengelak maka semakin gadis berambut indah itu memojokkan.


"Pipi apa bibir?" kepo Alana.


"Pak Alvi, Al!" tegur Salsa tetapi Alana malah asik duduk membelakangi pintu.


"Nggak bakal datang dia," sangah Alana.


"Yah terserah lo aja deh," pasrah Salsa.


"Azka lo tau, selama lo nggak masuk sekolah, gue kelaparan," curhat Alana mendramatis, dan Salsa hanya mengulum senyum. Cemburu? Itu dulu saat Alana tidak menikah, tapi sekarang ia sudah tidak cemas karena sahabatnya sudah menikah.


"Emang Pak Alvi nggak nafkahin lo?"


Azka meringis saat kakinya di injak oleh Salsa.


"Nggak, pak Alvi nggak nafkahin gue. Dia pelit banget. Udah tua, pelit, mesum, untung ganteng jadi gue sayang," jawab Alana.


"Ekhem."


Alana sontak menoleh dan mendapati Alvi berdiri tepat di belakangnya, otomatis laki-laki itu mendegar semua ocehannya. Sontak ia menampilkan senyuam manisnya, kemudian bangkit lalu memeluk lengan suaminya posesif.


"Hehehe, bukannya ke kantor ya A?"


"Pagi pak!" cengir Salsa mengulum senyum, Azka benar-benar suka memancing keribuan. Sudah tahu pak Alvi ada di belakang Alana, Azka malah mengajukan pertanyaan konyol.


"Aa lupa sesuatu ...," bisik Alvi.


Azka langsung menutup mata Salsa saat Alvi mengecup bibir Alana sekilas sebelum pergi.


...****************...


Jangan lupa meninggalkan jejak, dan terimakasih untuk dukungan kalian😘